Menggagas Pendidikan Berasas Islam

  • Whatsapp

Oleh : Desti Ritdamaya, M.Pd
Guru SMKN 1 Sungailiat, Bangka

Dunia pendidikan masih dalam sorotan. Masalah rendahnya kualitas output, degradasi moral pelajar, sarana prasarana yang belum memadai, bongkar pasang kurikulum, kompetensi pendidik yang terus dipertanyakan, dan lilitan masalah lainnya yang masih membelenggu. Segudang masalah pendidikan ini mengemuka pada headlines berbagai media dan menjadi pembicaraan publik. Misalnya, penganiayaan berujung maut oleh siswa SMA di Sampang pada guru seninya ketika masih dalam lingkungan sekolah; Hebohnya kehadiran grup gay di facebook beranggotakan ribuan pelajar di beberapa daerah; Tingkat literasi sains, membaca dan matematika pelajar Indonesia secara internasional menduduki peringkat ke 62 dari 69 negara; Sindiran menteri keuangan Sri Mulyani yang mengatakan bahwa tunjangan profesi guru besar tapi tidak berkualitas; Pergantian kurikulum yang cenderung berbau politis dan proyek; Para pelajar pelosok yang harus bertaruh nyawa menuju sekolah dengan menyeberangi sungai pada jembatan yang hampir putus atau seutas tambang; dan lain sebagainya.
Akhirnya, banyak elemen masyarakat baik tataran awam maupun pakar, membandingkan antara sistem pendidikan dalam negeri dengan negara lain. Yaitu negara maju yang sistem pendidikannya terbaik di kancah internasional seperti Finlandia, Korea Selatan, Singapura, Amerika Serikat, Jepang dan lain sebagainya. Sekaligus menginginkan Indonesia yang tertinggal jauh berkiblat pada sistem pendidikan negara tersebut. Tapi jika menelisik lebih mendalam, ternyata negara-negara maju tersebut juga menyimpan masalah yang akut.
Jepang menempati tingkat kedua tertinggi di dunia untuk jumlah angka bunuh diri. Disusul Korea Selatan di tingkat ketiganya. Singapura kasus bunuh diri kalangan lanjut usia mencapai rekor tertinggi pada tahun 2017. Sedangkan negara yang tingkat depresi jiwa tertinggi dunia adalah Amerika Serikat. Jumlah penderita HIV AIDS Amerika Serikat menempati keenam tertinggi di dunia. Tak hanya itu, di Amerika Serikat jumlah penduduknya yang atheis berada pada posisi ke tujuh tertinggi dunia. Tingkat kedua tertinggi jumlah atheis ada di Jepang yaitu mencapai 65 % total populasinya, sedangkan Korea Selatan menempati tingkat tertinggi kesembilan. Finlandia termasuk negara pengkonsumsi alkohol kelima belas tertinggi dunia dan tingkat kesepuluh kehidupan seks paling bebas di dunia (tribunjogja.com, 28/12/2018).
Data di atas menunjukkan bahwa pendidikan negara-negara tersebut memang berhasil membangun akal (aqliyah) generasinya dalam sains, teknologi dan tsaqafah. Namun masih sangat rapuh membangun nafsiyahnya (seperti jiwa, emosi dan akhlaq). Artinya masih terjadi ketimpangan antara aqilyah dan nafsiyah dalam proses pendidikannya. Aqliyah yang dibangun tidak bersinergi dengan nafsiyahnya atau aqiliyahnya tidak mempengaruhi nafsiyahnya. Hasil pendidikan yang seperti ini hakikatnya dapat dikatakan gagal. Karena pendidikan sejatinya bertujuan untuk membangun kepribadian (syakhsiyah) yang merupakan integrasi antara aqliyah dan nafsiyah.
Berdasarkan realitas ini, tidak seharusnya Indonesia menjadikan sistem pendidikan negara-negara di atas sebagai kiblat. Karena tiada gunanya apabila di satu sisi generasi penerusnya intelek dalam sains teknologi, tetapi di sisi lain pengidap seks bebas, miras, narkoba, depresi, bunuh diri dan hal negatif lainnya. Lantas negara mana yang layak menjadi pilot project pendidikan negeri ini ? Sebenarnya masih ada negara yang dikenal dengan kegemilangan pendidikannya selama hampir 13 abad, tetapi ditutupi sejarahnya. Bahkan Barat saat ini berutang peradaban pada negara tersebut. Negara tersebut adalah khilafah Islam. Sejarawan Tim Wallace-Murphy dalam bukunya What Islam Did For Us secara objektif mengulas kontribusi Islam terhadap bangkitnya intelektualitas dan peradaban Barat di era Renaissance. Ya di abad pertengahan khilafah Islam pernah menjadi mercusuar pendidikan. Khilafah Islam mencapai peradaban tertinggi dalam sains, teknologi, dan tsaqafah.
Ibnu Haitsam (Barat menyebutnya Alhazen) penemu asas kamera dan membuat manuskrip al Manadhir yang menjadi dasar ilmu optik. Al Farabi dalam bukunya ‘Uyunul Masa’il telah menemukan relativitas sebelum Einstein. Abbas bin Farnas menemukan mesin terbang 1000 tahun sebelum Wright bersaudara. Ibnu Nafis dalam bukunya Syarh Tasyrih al Qanun menjelaskan peredaran darah 1000 tahun sebelum William Harvey. Ibnu Sina (Barat menyebutnya Avicenna) dikenal sebagai penemu dasar kedokteran. Bukunya The Canon of Medicine menjadi referensi kedokteran selama berabad-abad.
Al Jahiz terkenal sebagai ahli biologi menulis buku Ritab Al Haywan yang menjelaskan tentang kuman, evolusi, adaptasi dan sebagainya. Ar Razi (Barat menyebutnya Rhazes) pertama kali menjelaskan tentang demam, dan pelopor pembuatan alat-alat farmasi seperti tabung dan spatula. Jabir Ibn Hayyan (Barat menyebutnya Gebert) peletak dasar ilmu kimia. Al Kindi (Barat menyebutnya Al Kindus) ahli fisika dan matematika. Al Khawarizmi (Barat menyebutnya Al Gorisma) pakar matematika yang menemukan angka nol, algoritma, dan aljabar. Selain itu ahli ilmu bumi yang menyatakan bahwa bumi bentuknya bulat jauh sebelum diungkap Galileo Galilei, dan lain sebagainya.
Dalam tsaqafah Islam juga berkembang pesat dan muncul para ahli di bidangnya. Para ‘alim ulama berusaha untuk menjelaskan, mendetailkan dan memetakan isi kandungan Al Quran dan Hadist. Sehingga muncul berbagai cabang ilmu seperti ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu qiraat, ilmu fiqih, ilmu kalam dan lain sebaginya. Ahli tafsir misalnya Abu Ja’far Muhammad bi Jariri At Thobary, Ibnu Katsir, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurtuby. Ahli ilmu Qiraat misalnya Abu Umar al Dani, Abu muhammad al Syatibi, Abu Abdullah al Sarbini al Kharraz. Ahli ilmu hadis misalnya Imam Malik bin Anas, Abu Dawud Sulaiman, Imam Abu ‘Isa Tirmidzi, Imam al Nasai. Ahli ilmu fiqih misalnya Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Malik bin Anas al Asbahi, Imam Ahmad bin Hambal. Ahli ilmu kalam misalnya al Ghazali, Imam al Haramain, al Syahrastani, dan lain sebagainya. Karya dan jasa mereka sampai sekarang masih menjadi rujukan kaum muslim.
Pendidikan di era itu, didukung fasilitas lengkap yang disediakan oleh negara secara gratis. Madrasah An Nuriah di Damaskus menyediakan asrama siswa, perumahan guru, tempat peristirahatan para pelayan, dan ruang ceramah dan diskusi. Sedangkan di Madrasah Muntashiriah di kota Baghdad terdapat perpustakaan, rumah sakit dan pemandian. Kehidupan makan, minum dan pakaian sehari-hari di madrasah dijamin oleh negara. Bahkan setiap siswa menerima beasiswa setiap bulannya sebesar satu dinar emas (setara dengan 2,5 juta rupiah). Fasilitas perpustakaan pun begitu unggul. Universitas Cordoba memiliki koleksi setengah juta buku.
Di Kairo perpustakaan khilafah terdapat koleksi dua juta buku dengan beberapa ratus pelayan. Para guru juga sangat dihormati dan dihargai jasanya oleh negara. Masa khalifah Umar bin Khattab gaji guru sebesar 15 dinar (setara 38,25 juta rupiah). Kitab Madza Qaddama al Muslimuna li al ‘Alam menjelaskan gaji yang diterima oleh guru pada masa Shalahuddin al Ayyubi di madrasah Suyufiyah dan Shalahiyah berkisar 11 dinar (setara 28 juta rupiah) sampai 40 dinar (setara 102 juta rupiah) per bulan.
Ini hanya potret kecil kegemilangan pendidikan khilafah Islam. Sistem pendidikan saat itu, terbukti berhasil mengintegrasikan aqliyah dan nafsiyah. Gemilangnya pendidikan Islam saat itu memang tidak terlepas dari asas mendasarnya yaitu aqidah Islam. Prinsipnya, setiap muslim wajib menuntut ilmu dan ilmu yang bermanfaat menjadi amal jariyah. Menuntut ilmu bukan sekedar mendapat ijazah, tetapi tuntunan keberkahannya yang nampak pada diamalkan atau dipraktikkannya ilmu tersebut. Jadi dorongan keimanan inilah yang melahirkan amal saleh para pelajarnya.
Tujuan dan metode pembelajarannya juga berjalan atas asas aqidah Islam. Maka dalam kurikulum materi terkait aqidah Islam menjadi topik pertama dan utama. Selanjutnya baru pemberian materi tsaqafah Islam lainnya dan sains teknologi. Jadi aqidah Islam harus terhunjam terlebih dahulu pada setiap jiwa pelajar. Ke depan penguasaan dan pemanfaatan tsaqafah Islam lainnya atau sains teknologi berjalan atas asas aqidah Islam. Selain itu tidak diperblehkan mempelajari materi yang bertentangan dengan Islam kecuali untuk dijelaskan kesalahannya.
Aqidah Islam juga menuntun negara untuk memberikan pelayanan terbaik dalam pendidikan bagi rakyatnya. Landasan hukumnya hadits Imam Bukhari yang diriwayatkan dari Ibnu Umar yang mengatakan Nabi SAW bersabda : “Imam adalah (laksana) penggembala (pelayan). Dan dia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya”. Negara harus mengupayakan adanya akses dan kesempatan belajar bagi seluruh rakyatnya secara gratis. Baik pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Dukungan dari negara inilah yang semakin memotivasi para pelajar untuk sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, sehingga membuat sistem pendidikan Islam sangat gemilang. Maka sudah selayaknya pendidikan negeri ini menjadikan sistem pendidikan khilafah Islam sebagai pilot project! Wallahu a’lam bish-shawabi.(***).

Related posts