by

Mengetahui Penyakit EPILEPSI

-Opini-135 views

Oleh : dr. Helvian Yosef

Epilepsi merupakan kondisi dimana sebuah kelainan pada otak menyebabkan kejang-kejang yang berulang. Kejang epilepsi yang terjadi berulang-ulang dapat berujung dengan gangguan psikis atau psikologis. Epilepsi dapat menurunkan tingkat kecerdasan seseorang, sehingga menyebabkan gangguan berkelanjutan pada kehidupan bersosialisasi. Penyebab utama atas kondisi yang mereka miliki antara lain: a) Faktor genetik atau faktor keturunan; b) Trauma pada kepala, terutama akibat kecelakaan; c) Serangan stroke; d) Demensia atau penyakit yang menyebabkan hilangnya memori sedikit demi sedikit; e) Meningitis atau radang selaput otak; Kecanduan alcohol atau napza; dan tanda tanda keganasan.

Epilepsi selalu ditandai dengan kejang-kejang. Apabila berlangsung terlalu lama atau terlalu berat, kejang-kejang ini dapat diikuti dengan lenyapnya kesadaran Anda. Kejang-kejang yang terjadi secara berulang-ulang akan menyebabkan gangguan pada otak, sehingga fungsi motorik, sensorik dan fungsi indra Anda akan mengalami kerusakan.

Menurut data WHO, kurang lebih 50 juta orang di dunia hidup dengan epilepsi. Angka ini akan bertambah sekitar 2.4 juta setiap tahunnya. Angka pertambahan kasus epilepsi lebih tinggi di negara berkembang. Di negara maju, kasus epilepsi bertambah sekitar 30-50 kasus tiap 100ribu penduduk.
Di Indonesia sendiri didapatkan data kasus epilepsi paling sedikit 700.000-1,4 juta. Angka ini akan bertambah sekitar 70ribu tiap tahunnya. Di antaranya, terdapat kurang lebih 40-50 persen kasus epilepsi yang terjadi pada anak-anak.

Berdasarkan gangguan pada otak, jenis kejang epilepsi dibagi menjadi dua, yaitu parsial dan umum.

Kejang Parsial
Pada kejang parsial atau focal, otak yang mengalami gangguan hanya sebagian saja. Kejang parsial ini dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu: kejang parsial simpel (tanpa kehilangan kesadaran) dan kejang parsial kompleks.

Kejang Umum
Pada kejang umum atau menyeluruh, gejala terjadi pada sekujur tubuh dan disebabkan oleh gangguan yang berdampak kepada seluruh bagian otak. Berikut ini adalah gejala-gejala yang bisa terjadi saat seseorang terserang kejang umum: a) Mata yang terbuka saat kejang; b) Kejang tonik. Tubuh yang menjadi kaku selama beberapa detik. Ini bisa diikuti dengan gerakan-gerakan ritmis pada lengan dan kaki atau tidak sama sekali. Otot-otot pada tubuh terutama lengan, kaki, dan punggung berkedut; c) Kejang atonik. Otot tubuh tiba-tiba menjadi rileks sehingga penderita jatuh tanpa kendali; d) Kejang klonik. Gerakan menyentak ritmis yang biasanya menyerang otot leher, wajah dan lengan; e) Penderita epilepsi kadang-kadang mengeluarkan suara-suara atau berteriak saat mengalami kejang-kejang; f) Mengompol; g) Kesulitan bernapas untuk beberapa saat sehingga badan terlihat pucat atau bahkan membiru; h) Dalam sebagian kasus, kejang menyeluruh membuat penderita benar-benar tidak sadarkan diri; i) Setelah sadar, penderita terlihat bingung selama beberapa menit atau jam.

Hal-hal yang dapat menjadi pemicu kejang
Jika Anda merupakan penderita epilepsi, ada baiknya mengenali hal-hal yang dapat memicu kejang agar Anda dapat melakukan pencegahan atau antisipasi. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kejang, di antaranya: 1) Lelah akibat kurang tidur; 2) Stres; 3) Tidak mengonsumsi obat antiepilepsi secara teratur; 4) Mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat antiepilepsi; 5) Mengonsumsi minuman beralkohol yang berlebihan; 6) Penggunaan obat-obatan terlarang; 7) Saat menstruasi, yaitu ketika otak dipengaruhi oleh perubahan hormon-hormon pada masa tersebut; 8) Lampu berkedip atau cahaya yang menyilaukan.
Pertolongan pertama saat penyakit epilepsi kambuh
ada beberapa langkah yang dilakukan apabila penyakit epilepsy kambuh, diantaranya: a) Jangan panik dan tetaplah bersama orang tersebut; b) Hitung waktu kejang dari awal hingga akhir; c) Longgarkan pakaian di sekitar lehernya; d) Singkirkan benda-benda tajam dan berbahaya (kacamata, furnitur, benda keras lainnya) dari orang tersebut; e) Secara perlahan, baringkan orang tersebut dalam posisi miring secepat mungkin, taruh bantal (atau sesuatu yang lembut) di bawah kepalanya, dan buka rahangnya untuk membuka jalur pernapasan yang lebih baik sekaligus mencegah orang tersebut dari tersedak air liur atau muntah. Seseorang tidak bisa menelan lidahnya, tapi lidah bisa terdorong ke belakang dan menyebabkan terhalangnya jalur napas; f) Terus berkomunikasi dengan orang tersebut sehingga Anda tahu kapan mereka telah sadar; g) Setelah korban sadar, ia mungkin merasa linglung. Tetap temani dan tenangkan korban. Jangan tinggalkan korban sendirian sampai ia merasa benar-benar kembali fit.
Disamping hal di atas, jangan lakukan hal ini: Pertama, Menahan kejang atau mengekang orang tersebut. Hal ini bisa berakibat cedera; Kedua, Memasukkan benda apapun ke dalam mulut korban atau menarik lidahnya keluar. Hal ini juga bisa menyebabkan cedera; Ketiga, Memberi makan, minum, atau obat sampai korban benar-benar pulih dan sadar sepenuhnya
Epilepsi pada anak dapat menyebabkan beberapa masalah, terutama dalam masalah belajar, seperti: 1) Masalah akademis. Kesulitan membaca, menulis, menghitung; 2) Masalah bahasa. Kesulitan memahami, berbicara dan komunikasi; 3) Masalah perhatian dan konsentrasi. Anak dapat kurang memerhatikan, hiperaktif, atau keduanya. Hanya dapat berkonsentrasi pada waktu yang singkat; 4) Kelambanan. Diperlukan waktu yang lebih lama untuk memproses informasi baru atau menyelesaikan tugas dibanding dengan anak-anak lainnya; 5) Ingatan. anak dapat mempelajari suatu topik berulang kali, namun tidak mengingatnya pada keesokan hari.
Dengan mengetahui penyakit epilepsi ini, diharapkan kita bisa mengantisipasinya sejak dini. (****).

.

Comment

BERITA TERBARU