by

Mengenal Ragam Disinformasi yang Ada di Internet

-Opini-41 views

Oleh: Tohir, S.T
Guru Teknik Kompuer Jaringan SMK Negeri 1 Bakam, Kabupaten Bangka

“Siapa yang menguasai informasi, ia akan menguasai dunia” – John Naisbitt

Eksistensi internet membuat dunia membuka gerbang lebar-lebar masuknya era big data. Data, sebagaimana yang kita ketahui, merupakan bahan pokok untuk mengolah informasi. Semakin komprehensif data yang ada, maka informasi yang dihasilkan akan semakin bervariasi. Unik dan menarik, ketika ada narasumber dimintai pendapatnya oleh sekumpulan wartawan yang mengerubutinya bak semut mengerubuti gula, kemudian berita dirilis di masing-masing media, informasi yang dipaparkan akan bermacam ragam tergantung kepiawaian dan kepentingan masing-masing dalam menggoreng data hasil wawancara. Memang indikasi manipulasi informasi sudah ada sejak dahulu, namun, keadaan ini semakin meriah manakala media cetak melebarkan keberadaannya di jagat digital.

Karakteristik jagat digital yang memiliki kemudahan dalam menyebarkan informasi membuat disinformasi tumbuh subur, kurang lebih seperti sekilo kacang yang berkecambah. Disinformasi itu semacam mengemas informasi yang salah dengan sengaja untuk membuat makna bias sampai menyesatkan. Modusnya dilakukan dengan 3 cara, yakni: informasi dimanipulasi, informasi fabrikasi, dan informasi satir.

Informasi Dimanipulasi
Informasi dimanipulasi ini kebanyakan memiliki data pendukung berupa foto hasil editan. Riset online yang dilakukan oleh Universitas of California Davis dan dipubilkasikan pada bulan Oktober Tahun 2018 untuk melihat kejelian responden pada informasi yang didalamnya terdapat foto pendukung, namun telah diedit memberikan hasil bahwa foto yang diedit sebagai pendukung informasi yang disampaikan acapkali menimbulkan kepanikan, ketakutan, kecemasan, sampai-sampai kepada penggiringan pandangan dan impresi readers.

Selain foto pendukung informasi yang diedit, guna memperbanyak “senjata perang”, biasanya disisipkan narasi yang provokatif dan readers bersumbu pendek dengan sigap membagikan informasi ini. Berita dengan tagline “Prabowo berpakaian pendeta” adalah contoh disinformasi jenis ini. Foto Prabowo berpakaian pendeta merupakan foto yang diedit dari sebuah foto yang terdapat di blog Eben Ezer Sidadari. Pendeta yang wajahnya diganti dengan wajah Prabowo adalah Pendeta Alexander Hendrik Urbinas. Jokowi pun kena hajar dengan disinformasi macam ini. Disinformasi yang menerpanya lebih sakti karena yang diedit bukan foto melainkan video. Video Jokowi mengucapkan Assalammualaikum di edit dengan ciamik dan menghasilkan keganjilan pelafalan ucapan salam dari seorang Jokowi. Video ini viral tersebar via twitter umat muslim sehingga terlihat natural.

Informasi Fabrikasi
Informasi fabrikasi ini tak ubahnya seperti mengarang atau “mempercantik” informasi sesuai pesanan dengan tujuan politis yang jelas dan dilakukan dengan cara yang masif sistematis. Terpilihnya Donal Trumph sebagai Presiden AS yang terpantau melalui jejak digital adalah berkat informasi terfabrikasi yang diedarkan tim suksesnya secara masif dan terstruktur. Kebanyakan informasi fabrikasi ini menyisir keperluan politik dan finansial.

Melihat hebatnya produksi informasi fabrikasi ini, jelas informasi jenis ini lebih jahat daripada jenis informasi dimanipulasi. Informasi ragam ini disinyalir disediakan secara profesional oleh sindikat penyedia jasa konten kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sindikat tersebut dikenal dengan nama Saracen (Indonesia). Selain memproduksi informasi fabrikaasi, Saracen memiliki kepandaian untuk menganeksasi atau “merampas” akun jejaring sosial.

Forum anti fitnah hasut hoax (FAFHH) menampilkan informasi yang dinyana sebagai informasi fabrikasi. Informasi fabrikasi itu berupa berita Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan nama Ahok, mantan Bupati Belitung Timur dan Mantan Gubernur DKI Jakarta diwartakan memesan sendiri 1200 karangan bunga atas penangkapan dirinya terkait kasus penistaan agama. Seolah-olah berita ini benar adanya, diberikanlah “amunisi” berupa tangkapan layar whatsapp ponsel pribadi Ahok “yang berhasil di hack” si empunya berita.

Informasi Satir
Satir adalah bentuk disinformasi yang umumnya disebarkan melalui portal berita online. Satir ini semacam informasi bohong atau hoax. Ketika suatu berita mengandung unsur hiperbolis, fantastis, sampai parodi, patut diduga berita tersebut adalah satir. Umumnya disinformasi yang mengandung satir akan di buat lebih halus dari dari kedua diinformasi di atas. Informasi satir “diramu” dan dibaurkan dengan fakta kebenaran. Berita satir yang “diaduk” dengan kritis sarkas yang tajam seringkali dianggap berita yang memaparkan fakta. Untuk menghindari agar tidak terjebak informasi yang bersifat satir, sebaiknya jangan sekilas membaca berita. Mengkaitkan berita dengan konteksnya merupakan langkah menyerap berita yang telah terkontaminasi satir.

Informasi yang ditaksir satir oleh forum anti fitnah hasut hoax (FAFHH) dan telah kadung beredar via liputan6.com, babe.news, dan kaskus.co.id adalah berita tentang seorang narapidani yang melahap Alkitab sebelum di eksekusi mati. Kebenarannya, sumber primer berita ini yakni worldnewsdailyreport.com telah mengakui bahwa berita yang terdapat dalam portal mereka adalah berita dengan bumbu satir untuk kepentingan afiliasinya.

Saring sebelum sharing (3S) menjadi cara efektif tetap “sehat” dari disinformasi yang sudah menjadi endemi di jagat digital. Forum yang ada di jejaring sosial seperti forum anti fitnah hasut hoax (FAFHH) yang terdapat di facebook dan twitter pun dapat dimanfaatkan untuk gerakan 3S. (***).

.

Comment

BERITA TERBARU