Mengenal Profesi Pekerjaan Sosial

No comment 86 views

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial adalah dua komponen yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan satu sama lainnya. Kesejahteraan sosial dapat didefinisikan sebagai berbagai kegiatan yang terorganisasi yang ditujukan untuk memberikan berbagai pelayanan kesejahteraan sosial kepada perorangan, keluarga, kelompok, dan berbagai kesatuan masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah sosial, membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat serta mengembalikan keberfungsiansosialnya.
Menurut  Walter Friedlander (1961), kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan sosial dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk membantu  individu  dan  kelompok  untuk mencapai standar hidup dan kesehatan yang memuaskan, relasi-relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin, meningkatkan kesejahteraannya selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakatnya.
Pembaca yang budiman, penjelasan di atas menunjukan bahwa konsep kesejahteraan sosial sebagai sistem yang berintikan lembaga-lembaga dan pelayanan social. Tujuan sitem tersebut adalah untuk mencapai tingkat kehidupan yang sejahtera dalam arti tingkat kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan, kesehatandan juga relasi-relasi sosial dengan lingkungannya. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan cara meningkatkan kemampuan individu baik dalam memecahkan masalahnya maupun dalam memenuhi kebutuhannya.
Sistem usaha kesejahteraan sosial merupakan berbagai aturan yang terdiri dari program-program dalam pelayanan kesejahteraan sosial. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain mencegah (preventive), memperbaiki (rehabilitative), menyembuhkan (curative), mengembangkan (development), dan sebagainya. Untuk mencapai semua itu, diperlukan sebuah profesi yang disebut dengan pekerjaan sosial. Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang bertugas untuk memberikan pelayanan-pelayanan kesejahteraan sosial, baik kepada individu, kelompok, komunitas, maupun masyarakat yang berkebutuhan, agar mampu mencapai keberfungsian sosial. Pekerjaan Sosial adalah profesi kemanusiaan yang telah lahir cukup lama. Sejak kelahirannya sekitar tahun 1800-an (Zastrow, 1999, Shulman, 2000), pekerjaan sosial terus mengalami perkembangan sejalan dengan tuntutan perubahan dan aspirasi masyarakat. Namun demikian, seperti halnya profesi lain (kedoteran, keguruan) fondasi dan prinsip dasar pekerjaan sosial tidak mengalami perubahan.Pekerjaan sosial merupakan suatu pekerjaan atau profesi pelayanan yang prakteknya  didasarkan kepada pengetahuan, nilai, dan keterampilan ilmiah tentang relasi antar manusia, sehingga nantinya ia dapat membantu individu, kelompok, dan masyarakat untuk menyelesaikan masalah dan mencapai tujuannya. Sebagaimana yang tertulis dalam Undang-Undang Nomor 11tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, menyatakan bahwa pekerja sosial profesional ada;ah seseorang yang bekerja baik di lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan/atau pengalaman praktik pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial.
Pekerjaan sosial berbeda dengan profesi lain semisal psikolog dan dokter atau psikiater. Sebagai ilustrasi, pada saat mengobati pasien sesorang dokter hanya memfokuskan perhatian pada penyakit pasien saja. Saat bertemu dengan penerima manfaat, seseorang pekerja sosial tidak hanya melihat klien sebagai target perubahan, melainkan pula mempertimbangkan lingkungan atau situasi sosial dimana penerima manfaat berada termasuk di dalamnya “orang-orang penting lain” (significant other) yang mempengaruhi penerima manfaat. 
Pekerjaan sosial senantiasa harus mampu memberikan berbagai bentuk fasilitas yang menunjang penerima manfaat agar dapat memperbaiki dan menangani berbagai masalah yang berhubungan dengan keberfungsian sosial. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dapat menggunakan metode casework, social group work, community development, community organization, serta metode bantu (penjelasannya penulis akan paparkan pada tulisan berikutnya).
Pembaca yang budiman, berikut ini penulis paparkan tujuan utama dari praktik pekerjaan sosial, yaitu: pertama enhance the problem solving and coping capacities of people. Salah satu tujuan dari pekerjaan sosial itu, yaitu berusaha untuk memecahkan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi penerima manafaat, juga untuk berusaha meningkatkan atau memperbaiki kemampuan penerima manfaat, agar ia dapat berfungsi sosial. Pekerja sosial juga berusaha menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan juga mereka untuk mencapai tujuan, khususnya dalam bidang relasi sosial dan interaksi mereka dengan lingkungannya.
Kedua link people with system that provide them with resources, services, and opportunities. Pekerjaan sosial berusaha untuk memberikan berbagai pelayanan dengan cara menghubungkan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan sistem sumber dan berbagai pelayanan-pelayanan yang dapat diberikannya. Pekerjaan sosial berusaha untuk mengadakan usaha agar kebutuhan-kebutuha-n jasmani, rohani, dan sosial yang layak bias didapatkan oleh mereka, dan dapat menciptakan suatu keadaan yang lebih baik.
Ketiga promote the effective and human operation of the system. Pekerja sosial berusaha untuk meningkatkan pelaksanaan berbagai sistem kegiatan sosial secara efektif dan manusiawi, dan berusaha untuk mewujudkan suatu sistem yang terorganisasi dengan baik, misalnya berbagai pelayanan dan lembaga sosial, yang tentunya bermaksud untuk membantu individu, kelompok, dan masyarakat supaya dapat mencapai standar kehidupan yang memuaskan. Pekerja sosial juga harus mampu menggali dan memanfaatkan sistem sumber kesejahteraan sosial.

Pekerjaan sosial juga sebagai profesi yang bertugas menyelenggarakan dan membantu orang-orang dengan menggunakan berbagai macam program-program yang berhubungan dengan pelayanan kesejahteraan sosial. Pelayanan ini mencakup pemeliharaan atau perawatan, penyembuhan dan pencegahan.
Keempat contribute to the development and improvement of social policy. (Pincus and Manahan, 1973). Pekerjaan sosial berusaha untuk memberikan masukan, sumbangan, atau saran terhadap usaha pembangunan dan berbagai kebijakan sosial. Partisipasi pekerjaan sosial disini sangat dibutuhkan dalam memanfaatkan dan mengembangkan kebijakan sosial untuk meningkatkan fungsi sosial dari individu, kelompok, masyarakat dalam mencapai kesejahteraan sosial.
Kerangka profesi pekerjaan sosial merupakan suatu sistem dari prinsip dasar, konsep-konsep, atau nilai-nilai yang merupakan ciri khas yang melandasi satu bidang pekerjaan yang dilandasi oleh pendidikan keahlian dalam bidang pekerjaan sosial.
Ada tiga bentuk kerangka profesi di dalam bidang pekerjaan sosial, yaitu kerangka pengetahuan pekerjaan sosial (body of knowledge), kerangka nilai pekerjaan sosial (body of value), dan kerangka keterampilan pekerjaan sosial (body of skills).

Kerangka Pengetahuan Pekerjaan Sosial (Body of Knowledge)Pekerjaan sosial sama seperti profesi yang lainnya, yaitu mempunyai fungsi untuk memecahkan masalah (problem solving function), tetapi di dalam prakteknya, pekerja sosial di dalam memberikan pelayanan kepada klien harus dilandasi oleh pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah teruji kevaliditasannya. Pengetahuan sangat diperlukan dalam praktek pekerjaan sosial, tetapi sangat ditentukan oleh tujuan, fungsi, dan peemasalahan yang dihadapi oleh klien.
Seperti menurut W. Friendler dan Robert Z. Apte, (1980) “Social work is a professional service, based on scientific knowledge and skills in human relations, which help individuals, group, or communities obtain social of personal satisfaction and independence.” Artinya, pekerjaan sosial merupakan suatu pelayanan profesional yang prakteknya didasarkan kepada pengetahuan dan keterampilan ilmiah tentang relasi manusia, sehingga dapat membantu individu, kelompok, dan masyarakat mencapai kepuasan pribadi dan sosial serta kebebasan.
Pengetahuan ilmiah pada dasarnya, dihasilkan dari penelitian (research) dan praktek yang sudah teruji ketepatan dan kebenarannya. Kerangka pengetahuan pekerjaan sosial dikelompokkan ke dalam 3 golongan: pekerja sosial harus mempunyai pengetahuan tentang klien yang akan dilayani, baik klien sebagai individu, kelompok, komunitas, maupun kesatuan-kesatuan penduduk yang lebih luas, seperti masyarakat.
Selain itu, juga harus memiliki pengetahuan tentang lingkungan sosial, seperti pengetahuan yang berkaitan dengan masyarakat dan budaya (social culture), serta berbagai pengetahuan tentang masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. Terakhir, pengetahuan tentang semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan sosial profesional, yang terdiri dari pengetahuan tentang: diri sebagai pekerjaan sosial (self), profesi dan intervensi.
Kerangka Nilai Pekerjaan Sosial (Body of Value)  Pekerja sosial dalam prakteknya perlu melakukan internalisasi nilai-nilai yang profesional, karena merupakan kebutuhan vital bagi para pekerja sosial profesional. Pekerja sosial selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai: nilai pribadi pekerja sosial (personal values), nilai profesi pekerja sosial (profession values), nilai klien atau kelompok klien (the value of a client or client group), nilai masyarakat (the value of the larger society).
Beberapa elemen-elemen nilai dalam praktek pekerjaan sosial: nilai masyarakat (societal values) dan code of ethic, yaitu rumusan yang berisi tentang tuntutan tentang segala perilaku yang dianggap baik dan perlu dilakukan oleh profesi pekerjaan sosial dalam melaksanakan tugasnya.
Beberapa tujuan dari kode etik pekerjaan sosial, yaitu: melindungi reputasi profesi pekerjaan sosial, meningkatkan kemampuan dan kompetensi, kesadaran, dan tanggung jawab pekerja sosial dalam melaksanakan prakteknya, melindungi masyarakat dari praktek-praktek yang tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab.
Prinsip umum kode etik praktik pekerjaan sosialm yaitu: acceptance (penerimaan), artinya pekerja soial menerima siapa pun yang ingin mengakses layanan kesejahteraan sosial. Non judgemental attitude (sikap tidak menghakimi/ menilai), artinya pekerja sosial diawal ketika menerima penerima manfaat tidak memberikan penilaian terhadap penerima manfaat sehingga yang dikedepankan adalah pertolongan pada penerima manfaat.
Perinsip lainnya, yaitu clien self determination (menentukan diri sendiri), artinya pekerja sosial dalam memberikan solusi kepada penerima manfaat hanya bersifat menawarkan beberapa alternatif pemecahan masalah, yang berhak memilih dan menentukan  pilihan adalah penerima manfaat. Individualization, artinya pekerja soisal memandang setiap individu itu unik, tidak dapat disamakan satu sama lain saat meberikan pertolongan kepadanya.
Controlled emotional involment (melibatkan kontol emosional), artinya dalam memberikan pertolongan kepada penerima manfaat, pekerja sosial harus dapat mengontrol emosi/ perasaan, jangan sampai kebablasan. Seperti berkeinginan menikahi penerima manfaat yang sedang berkonflik dengan pasangannya atas dorongan kasihan. Hal ini tidak boleh dilakukan.
Confidentiality (kerahasiaan), artinya pekerja sosial merahasiakan apa pun yang berkenaan dengan penerima manfaat yang sedang ditangani. Adapun informasi tentang penerima manfaat bisa diberikan hanya kepada profesi lain yang memiliki tujuan yang sama dalam memberikan pertolongan kepada penerima manfaat.
Kerangka Keterampilan Pekerjaan Sosial (Body of Skills).Keterampilan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam kerangka pekerjaan sosial. Hal ini disebabkan keterampilan pada prinsipnya merupakan alat untuk menggabungkan antara kerangka pemgetahuan dan kerangka nilai dalam pekerjaan sosial. Beberapa keterampilan dasar yang dimiliki pekerja sosial, yaitu: keterampilan memberikan pertolongan dasar, melakukan perjanjian, melakukan observasi, berkomunikasi, dan keterampilan berempati pada penerima manfaat. 
Pembaca yang budiman, sebagai penutup penulis ingin menyimpulkan beberapa hal diantaranya, bahwa pekerjaan sosial merupakan alat untuk menghubungkan masyarakat dengan kondisi kesejahteraan sosial, yaitu suatu keadaan terpenuhinya kebutuhan, aman sentosa, adil dan makmur, dan sebagainya. Kegiatan ini, diaplikasikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang terdiri dari berbagai program pelayanan untuk membantu individu, kelompok, komunitas, dan masyarakat. (****).  

 

 

 

No Response

Leave a reply "Mengenal Profesi Pekerjaan Sosial"