by

Mengelola Sampah dengan Bijak

-Opini-87 views

Oleh: Ekawati
Pemerhati Lingkungan, Tinggal di Toboali, Bangka Selatan

Materi tentang Sampah ini, disampaikan oleh Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) TP PKK dengan tema “Peranan TP PKK dalam pencegahan Stunting (gangguan pertumbuhan anak) melalui 10 Program Pokok PKK.

Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bahwa ibu – ibu adalah agen yang paling tepat dalam pengendalian pengelolaan sampah. Jika diibaratkan bapak – bapak di kantor adalah Jenderal Bintang 4, maka Ibu – ibu di rumah adalah Jenderal 5, yang langsung disambut ramai oleh ibu ibu peserta Rakornas. Bagaimana tidak? Jika ibu – ibu mau menggunakan kekuatannya, maka persoalan sampah akan dengan mudah dapat diatasi.

Diketahui bahwa sampah dengan berbagai jenis meliputi sampah organik, plastik, kayu, kertas dan lainnya, yang saat ini banyak sekali dibuang sembarangan, ditemui berserakan memenuhi tepi jalan, tanah lapang bahkan saluran air penuh dengan sampah. Jika hujan datang maka sampah tersebut akan menghambat aliran air dan menyebabkan banjir. Sebagian dari sampah akan ikut aliran dan masuk kedalam laut, sehingga mencemari laut dan membawa Indonesia mendapat gelar negara pembuang sampah plastik terbanyak nomor 2 se-dunia, sebuah gelar yang sangat tidak enak didengar.

Berbagai macam sampah yang masuk kedalam laut, tidak hanya plastik kresek, tapi juga sandal jepit, kursi dan lain-lain. Pada tanggal 19 November 2018 yang lalu, seekor Ikan Paus mati terdampar di Pantai Wakatobi, dan didalam perutnya ditemukan 5,9 kg plastik yang terdiri dari tali rafia 3, 26 kg, 4 buah botol plastik 150 gram, 115 gelas plastik 750 gram, 2 sandal jepit 270 gram, 25 kantong plastik 260 gram, 19 plastik keras 140 gram. Hal ini membuktikan bahwa berbagai macam sampah ada didalam laut dan membunuh biota laut.

Jenis sampah lain yang banyak ditemukan adalah sedotan plastik. KLHK menyatakan bahwa didapat 93,2 juta unit sedotan dalam sehari yang jika disusun akan setara dengan 117.449 KM dalam jika dikumpulkan dalam seminggu, bagaimana jika sebulan, setahun? Bagaimana dengan bekas kemasan air minum? Sama halnya dengan sedotan sejumlah itulah sampah yang dihasilkan, dan hanya sekitar 15% – 20% yang didaur ulang, sisanya terbuang sembarangan memenuhi lahan kosong, dan saat hujan tiba akan terbawa masuk kesaluran air, dan akhirnya ke laut. Sampah plastik ini, tidak terurai sampai ratusan tahun di dalam laut dan membentuk microplastik. Microplastik ini ditumbuhi lumut, melayang dalam air dan dimakan ikan, dan akhirnya ikan dikonsumsi manusia.

Populasi yang rentan terhadap paparan microplastik ini adalah janin, bayi dan anak – anak. Tak luput manusia dewasa pun terkena dampaknya, jika pada anak kecil akan menyebabkan gangguan pertumbuhan, gangguan pada perkembangan syaraf otak yang dapat mengakibatkan Stunting, pada orang dewasa terutama ibu hamil akan mengganggu pertumbuhan janin, sampai memacu pertumbuhan sel abnormal yang kemudian menyebabkan kanker.

Jika terpaksa kita memakai plastic, maka kelolalah dengan bijak, pilah sampah sesuai jenis dan tabung di Bank Sampah, untuk selanjutnya Bank Sampah dapat menyalurkannya untuk didaur ulang pada skala yang lebih besar. Banyak hal lagi yang dapat kita lakukan untuk sampah organik yang merupakan jenis sampah paling banyak (50%) ibu – ibu dapat mengelolanya dengan mudah, yang Pertama adalah kurangi sampah organik dengan menghabiskan makanan di piring yang telah diambil. Banyak sekali di antara kita yang masih menyisakan makanan di piring dan menjadikannya sampah.

Menurut penelitian, sampah bekas makanan ini mencapai 41% dari sampah organic, suatu jumlah yang sangat besar bukan? Sampah organik dapat dengan mudah kita kelola, hanya dengan membuat beberapa lubang biopori di sekitar rumah, masukkan sampah organik kedalamnya, isi terus sampai penuh. Jika penuh, pindah pada lubang berikutnya, demikian seterusnya sampai seluruh lubang biopori terisi. Saat lubang terakhir penuh, periksa lubang pertama, biasanya sampah di lubang ini sudah menyusut karena telah menjadi kompos. Namun, jika masih belum menyusut, buat lubang baru untuk sampah yang baru sampai lubang pertama, bisa di panen komposnya dan siap menerima sampah kembali.

Lubang Biopori atau lebih dikenal dengan Lubang Resapan Biopori (LRB) ini fungsi awalnya adalah untuk meresapkan air hujan sebanyak mungkin kedalam tanah, namun bisa difungsikan juga untuk mengolah sampah organik. Adanya sampah organik membuat LRB lebih kaya fungsi, karena cacing tanah akan membuat alur menuju sumber makanan yaitu sampah yang kita buang tadi sehingga pori – pori semakin banyak, dan air hujan semakin banyak dapat terserap kedalamnya, rupanya inilah penyebab kenapa dia dinamakan biopori.

Partisipasi ibu – ibu untuk membuat LRB dapat mengatasi 50% sampah, ditambah dengan sampah non organik berupa plastik, kertas, kaleng dan lainnya yang ibu tabung ke Bank Sampah yang diperkirakan mencapai 30% dari jumlah sampah, maka 80% sampah teratasi, sehingga tinggal 20% lagi yang harus dibuang ke Tempat Pengelolaan Akhir Sampah.

Pertanyaannya adalah maukah ibu ibu melakukannya? Mari ibu kita peduli dengan lingkungan kita, mari kita kelola sampah kita, mari kita kendalikan sampah plastik, jangan biarkan dia mencemari lingkungan, jangan biarkan dia meracuni anak cucu kita. Mari ibu – ibu kita hentikan mata rantai pencemaran ini. Mari kita mengelola sampah dengan bijak. Mari Kendalikan Sampah Plastik. Bagaimana caranya? Mari diet plastik, bawa botol minum kemana pergi, dengan demikian kita telah mengurangi setidaknya beberapa botol dan gelas plastik. Gunakan sedotan yang bisa dicuci, sekarang telah banyak dijual sedotan stainless lengkap dengan sikat pembersihnya. Bawa tas belanja jika akan berbelanja baik itu ke pasar maupun ke supermarket, bahkan ke Mall. Dengan demikian kita telah mengurangi sampah kresek.(***).

Comment

BERITA TERBARU