Mengatur Ulang Pola Pikir dan Pola Belajar Siswa

  • Whatsapp
Desy Mauliana, S.Si
Pendidik SMK Negeri 1 Mendo Barat, Bangka, Babel

Tulisan ini Penulis buka dengan inspirasi dari Salman Khan, seorang pendiri Khan Academy, sebuah organisasi non-profit, dimana situs webnya menyediakan ribuan video tutorial pembelajaran untuk berbagai mata pelajaran. Ia menggagas konsep belajar yang ia sebut sebagai Teaching Of Mastery. Lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Harvard Business Schoool ini mengatakan bahwasanya sistem pendidikan umumnya berorientasi pada pencapaian pemahaman dan mampu mengaplikasikan suatu kompetensi tertentu dalam periode waktu pembelajaran tertentu pula. Kemudian sebagai pembuktian dari hasil belajar siswa, dilakukan evaluasi dengan menetapkan standar ketuntasan minimal. Siswa yang mendapatkan nilai mencapai atau melampaui standar minimal tersebut dapat melanjutkan ke tingkatan selanjutnya (naik kelas atau lulus).

Menurutnya, sistem seperti yang dijabarkan di atas menghasilkan siswa-siswa yang hanya memiliki tujuan untuk mencapai standar kelulusan yang sudah ditentukan, bukan pada penguasaan (mastery) atas semua kompetensi yang menjadi kunci utama melanjutkan ke tahapan berikutnya. Semisal standar minimal yang ditetapkan 70% dan siswa hanya berhasil mencapai batasan tersebut, sejatinya 30% kompetensi yang tak dikuasainya merupakan hutang yang tak pernah dapat ia bayar, mengapa demikian? Tentu saja pada tingkatan setelahnya kompetensi yang dipelajari akan semakin sulit yang bisa jadi menuntut penguasaan atas kompetensi sebelumnya (prasyarat) sementara ia masih berhutang penguasaan 30% pada kompetensi sebelumnya. Kemudian, pendidik yang memiliki misi menyediakan pendidikan berkualitas tinggi untuk semua orang dimana saja ini menawarkan solusi untuk membalik sistem. Maksudnya adalah mengedepankan orientasi pada durasi waktu yang diperlukan siswa untuk menguasi suatu kompetensi. Secara sederhana, orientasi beralih pada penguasaan kompetensi daripada naik ke tingkatan selanjutnya.

Sebagai pendidik di SMK Negeri 1 Mendo Barat, Penulis sepakat bahwa pendidik bukan hanya memiliki pekerjaan rumah bagaimana agar siswa menjadi hot spoken dengan melenyapkan budaya malu untuk ngomong di kelas atau malu untuk mempresentasikan tugas. Namun pekerjaan rumah yang jauh lebih urgen adalah merangsang siswa untuk bertanya dan berdiskusi secara kritis. Maksud secara kritis adalah menjadi pribadi yang terbuka terhadap setiap kemungkinan pemikiran maupun pengetahuan yang berpotensi membawa siswa kepada pemahan utuh terhadap suatu kompetensi. Pertanyaan dan diskusi yang dikemukakan merupakan sesuatu yang berkualitas dan fundamental dalam rangka menggali pondasi pemahaman yang secara otomatis akan melahirkan penguasaan (mastery) bukan melahirkan siswa yang hanya memiliki kompetensi tentang bagaimana cara melakukan (how to).

Hal ini menjadi penting, sebab kita seringkali menanyakan atau berdiskusi ihwal hal-hal yang sejatinya tak berkontribusi terhadap penguasaan pemahaman maupun kemahiran pengaplikasian. Seperti sebuah pertanyaan: “Di sekolah tempat saya mengabdi, banyak siswa yang terseret arus pergaulan bebas, apa yang harus kami lakukan?” atau semisal: “Bagaimana protokol kerja sebagai seorang petani?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini merupakan pertanyaan yang bersifat teknis bukan pertanyaan kritis. Biasanya jawaban yang diberikan dari bentuk pertanyaan seperti ini akan di copy paste oleh sekolah lain yang mengalami masalah serupa. Lalu, dimana sisi kritis dari pertanyaan ini?

Baca Lainnya

Pertanyaan yang kritis pada umumnya berlandaskan hal-hal yang fundamental dan menuntut jawaban filosofis sampai pada tingkatan yang paling mendasar. Karena dalam konteks mengejar penguasaan yang utuh, pertanyaan seperti di atas tak merangsang otak untuk berpikir secara holistik. Pertanyaan tentang “pergaulan bebas” pada contoh di atas secara lebih baik dapat diganti menjadi: “Di sekolah tempat saya mengabdi sudah terpasang spanduk dan poster tentang bahaya pergaulan bebas. Selain itu, di lingkungan sekitar tempat tinggal siswa juga telah terdapat contoh akibat dari pergaulan bebas, lantas kenapa siswa-siswa masih saja melakukan pergaulan bebas?”. Pertanyaan sejenis ini dapat merangsang pikiran kritis. Otak dituntun untuk menemukan jawabannya dengan cara menganalisis dan memunculkan kemungkinan-kemungkinan variabel untuk menjawab kenapa siswa-siswa masih saja melakukan pergaulan bebas. Sebut saja hal-hal seperti pemahaman para siswa yang kurang mendalam, pola perilaku masyarakat yang tidak perduli dan tidak mengawasi atau bukti-bukti yang tak cukup untuk meyakinkan siswa-siswa tentang bahaya pergaulan bebas, dan lain sebagainya.

Si penanya dengan sendirinya akan mengambil kesimpulan bahwa spanduk, poster, dan orang-orang yang telah merasakan akibat dari pergaulan bebas ternyata tak cukup untuk mengubah perilaku siswa, perlu dibuat sebuah penelitian sederhana untuk memastikan variabel apa yang terkait sehingga program kerja sekolah terkait dengan pemberantasan pergaulan bebas dikalangan siswa dapat disusun.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwasanya paradigma belajar selama ini lebih menekankan hasil ketimbang proses, lebih menekankan kemampuan teknis alih-alih penguasaan kompetensi secara holistik. Kita harus merubahnya dimulai dari tempat kita mengajar, seperti penulis yang mulai melakukan perubahan paradigma belajar di tempat penulis mengabdi yaitu SMK Negeri 1 Mendo Barat. Jika kita menginginkan siswa menjadi kritis, maka tugas kita tak cukup hanya sekadar menyampaikan materi, memberikan tugas, kuis, dan melaksanakan ujian. Pendidik harus cakap dalam merangsang siswa menemukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, pertanyaan-pertanyaan fundamental, sehingga ketika terdapat permasalahan sejenis namun di lingkungan berbeda, mereka tak dengan mudah copy paste solusi. Karena kita semua tahu dengan permasalahan yang sama, solusi yang diterapkan bisa berbeda antara lingkungan satu dengan lingkungan yang lainnya. Sisi kritis siswa inilah yang perlu kita gali dengan mengubah paradigma belajar selama ini. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, pendidik merupakan garda terdepan dari perubahan. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?.(***).

Related posts