Mengajarkan Ibadah Sosial dengan Berkurban

  • Whatsapp
Penulis: Zulkifli, S.Pd.
Kepala SMK Negeri 4 Pangkalpinang, Babel

Dalam momen kurban, hampir setiap muslim yang berkemampuan melaksanakan penyembelihan hewan kurban, entah secara perorangan ataupun berkelompok. Di sekolah-sekolah pun diadakan penyembelihan hewan qurban sebagai suatu sarana untuk mendidik siswa, termasuk di SMK Negeri 4 Pangkalpinang akan melaksanakan ibadah kurban mendatang. Secara etimologis, kurban diartikan mendekat atau pendekatan. Dalam pengertian terminologisnya kurban adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan dengan tuntunan, dalam rangka mencari rida-Nya.

Bila dilacak historisitasnya, ibadah kurban sudah ada sejak Nabi Adam. Menurut M. Quraish Shihab, dalam tafsir al-Misbah, kurban pertama kali yang terjadi di muka bumi ini, adalah kurban yang diselenggarakan oleh dua putera Nabi Adam (Habil dan Qabil) kepada Allah. Secara formalistik, ungkap Quraish Shihab, sejarah ibadah kurban bermula dari Nabi Ibrahim AS. Yakni, tatkala ia bermimpi disuruh Tuhan-nya untuk menyembelih Nabi Ismail AS, seorang putra yang sangat dicintainya. Singkat alkisah, dari persitiwa kenabian Ibrahim inilah ibadah kurban muncul dan menjadi tradisi umat Islam hingga saat ini. Apa makna sosial ibadah kurban?

Sebetulnya, banyak makna yang dapat dipetik dari ibadah kurban ini, baik secara ruhiyah maupun secara sosial-kemasyarakatan. Secara ruhiyah, ibadah ini bisa menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran ritual dari para pelakunya. Secara sosial-kemasyarakatan, ibadah kurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan kurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin dan mustadzafiin.

Secara esensial, tentu saja, tujuan ibadah kurban bagi umat Islam adalah semata-mata mencari rida Allah SWT. Ibadah kurban ini, dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal ketakwaan kepada Allah SWT. Allah akan menilai ibadah ini sebagai wujud ketakwaan hamba kepada-Nya. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS Al Hajj, 22: 37). Hal ini pulalah yang menjadi sebab tertolaknya qurban salah seorang dari kedua putera Nabi Adam A.S dan diterima-Nya kurban yang lain. Bukanlah suatu nilai yang tinggi dan banyak di mata Allah, kurban yang banyak tetapi tanpa keikhlasan dan ketakwaan orang yang berkurban hal itu sama saja tak ternilai di mata Allah SWT. Kebanyakan kita menilai ibadah kurban, mungkin cenderung melihat sesuatu dari lahirnya yang tampak, padahal Tuhan melihat sebaliknya yaitu keikhlasan.

Baca Lainnya

Mungkin tatkala kita melihat seseorang berqurban hanya dengan seekor kambing, kita menganggapnya remeh. Kita lebih memandang besar dan hormat kepada orang yang berkurban dengan seekor sapi yang gemuk. Padahal, belum tentu penilaian kita benar. Sebenar-benar penilai hanyalah Allah. Mungkin saja di mata Allah lebih tinggi nilai seekor kambing tadi, karena takwa di hati orang yang berkurban. Jadi, tak ada yang menghalangi seseorang untuk berkurban sedikit jika disertai hati yang suci, takwa dan ikhlas. Dan tidak ada kepastian diterimanya kurban yang banyak dari seseorang tanpa ketakwaan dan keikhlasan. Namun, di sini bukan berarti tidak diperbolehkan berkurban dengan jumlah banyak, penulis kira, berkurban banyak pun boleh asal disertai dengan takwa dan ikhlas. Takwa dan ikhlas menjadi inti amal, mengapa? Sebab, banyak sebagian dari kita tatkala beramal hanya untuk mencari muka, dan pujian semata.

Selain makna sosial di atas, Ibadah kurban juga bisa menjadi sarana untuk membentuk kepribadian yang penuh toleransi, media menebar kasih sayang, serasi dan jauh dari keegoisan. Hubungan yang baik akan terjalin antara yang kaya dan miskin. Setidaknya selama beberapa hari tersebut orang-orang yang miskin akan merasakan kesenangan. Kalau saja hal itu bisa berlangsung terus–setidaknya untuk kebutuhan pokok-tentu tingkat kemiskinan di masyarakat kita akan menurun. Di dalam masyarakat akan tercipta ketenangan dan ketentraman. Sebab, tidak ada lagi perbedaan status atau keadaan hidup yang mencolok. Pengorbanan yang tumbuh dalam pelaksanaan ibadah kurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berkurangnya atau bahkan hilangnya sikap egois dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan orang itu sendiri dan masyarakat luas.

Padahal, dibalik kesadaran kaum muslimin untuk berkurban serta melimpahnya hewan yang dikurbankan pada hari raya Iduladha dan hari Tasyrik, tersimpan potensi yang sangat besar bahwa daging kurban digunakan sebagai sarana untuk membina masyarakat miskin, serta daerah-daerah bencana alam. Sebagian yang lain dicadangkan untuk mengantisipasi daerahdaerah yang rawan bencana alam.

Lebih dari itu, pembagian daging kurban kepada mereka yang barhak merupakan upaya pendekatan psikologis atas kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Ibadah kurban adalah wahana hubungan kemanusiaan yang dilandasi oleh semangat sense of belonging dan sense of responsibility yang bisa menyuburkan kasih sayang antar sesama dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ilallah). Dengan adanya ibadah kurban, dimaksudkan pula untuk menjembatani hubungan antara si kaya dan si miskin agar tetap harmonis. Si kaya tidak menyombongkan dirinya dan si miskin pun merasa bahwa ia tidak sendiri memikul hidup yang berat ini. Ternyata, masih banyak saudaranya (para aghniya’) yang senantiasa ikhlas memberikan bantuan kepada mereka yang lemah (para dhu’afa).

Wujud kepedulian sesama dengan ibadah kurban ini, merupakan satu rangkaian pengabdian kepada Allah yang memiliki dimensi ibadah murni dan juga dimensi kemanusiaan. Dengan kata lain, habluminannas merupakan salah satu faktor terjalinnya habluminallah secara baik. Sesuai dengan asal katanya “Qaruba” yang berarti dekat. Dengan demikian ibadah kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah sekaligus ungkapan syukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan kepada kita. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWTdalam Q.S.al-Hajj, 22: 36.

Lewat ibadah kurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Terlebih saat ini bangsa Indonesia sedang berduka, di mana saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana alam yang telah merenggut ratusan ribu nyawa, keluarga dan harta. Melalui ibadah kurban ini, kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di negeri ini, terlebih saat pandemi COVID-19 yang masih terus meningkat diberbagai daerah

Adakah pesan dan pelajaran penting yang dapat dipetik dalam perayaan ibadah kurban? Di setiap merayakan Idhuladha, kita sesungguhnya diajak berpikir sejenak, tapi mendalam maknanya. Utamanya dalam upaya untuk mengenang keteladanan Nabiullah Ibrahim A.S. dan Siti Hajar ketika ingin mendapatkan hingga melahirkan, mendidik dan mengasuh anak sholih. Putra Nabi Ibrahim yang pada bernama Ismail tersebut pada akhirnya juga menjadi salah satu Nabi Allah SWT Keberhasilan beliau berdua dalam mendidik putranya adalah sebuah pola asuh demokratis dan Islami, bukan pola asuh penelantar, permisif maupun otoriter. Pola asuh demokratis ala Nabi Ibrahim AS. Itulah seperti cermin yang bisa kita jadikan ukuran, contoh dan teladan dalam kehidupan kita.

Bagi seorang muslim, inti hikmah di setiap perayaan Iduladha yang dapat diambil dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan saat ini, hingga akhir hayat nanti adalah marilah berusaha semaksimalnya dalam bertakwa dengan memupuk semangat memiliki dan membagi dengan penuh keikhlasan. Semangat untuk berbagi antar sesama dengan ikhlas merupakan kunci dan esensi berkorban yang akan menumbuhkan ketentraman, kedamaian dan solidaritas sosial masyarakat dan lainnya.

Akhirnya, semoga kita semua selalu diberi kemudahan, kebahagiaan, kekuatan, kesuksesan dalam bersyukur, beriman, bertakwa kepada Allah SWT sekaligus kita semua tergolong menjadi orang yang bersemangat untuk berkurban dengan penuh ikhlas lillahi ta’ala, sepanjang hayat masih di kandung badan. (***).

 

 

Related posts