Meng-counter Hoax dalam Pembelajaran di Kelas

  • Whatsapp

Oleh: Yudi Sapriyanto, S.Pd
Guru SMA Negeri 2 Toboali

“Pendidik yang literasinya andal akan meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial baik secara langsung atau tidak langsung. Sebaliknya, kemampuan literasi pendidik yang rendah dapat mengakibatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menjadi rendah.”

Akhir – akhir ini, informasi yang tersedia membanjiri pembaca, termasuk pendidik didalamnya. Keberadaan media mainstream dan berkembangnya media sosial seperti facebook, whatsapp, twitter dan lainnya, membuat informasi sampai kepada pembaca dengan sangat cepat. Hal ini mengakibatkan informasi jauh melebihi dari apa yang kita butuhkan, baik melalui media cetak maupun media online. Dengan akses informasi yang lebih mudah dan didukung seperangkat smartfone yang terhubung internet selama 24 jam menjadikan pendidik tidak akan kekurangan informasi. Banjirnya informasi menjadikan banyak alternatif informasi bagi pendidik.
Keberadaan Informasi yang terlampau banyak ini, tentu saja akan menyulitkan pendidik, karena tidak setiap informasi dapat disajikan sebagai bahan materi. Hal ini dikarenakan, kualitas informasi harus mengandung aspek ketepatan, kecepatan dan keakuratan. Disisi lain, tidak semua informasi harus pendidik sampaikan. Pendidik harus membuat keputusan dan menyeleksi setiap informasi. Hasil dari seleksi inilah yang akan membuat informasi ini memiliki kualitas. Kualitas informasi akan menentukan kualitas pembelajaran oleh pendidik. Apalagi dalam dunia pendidikan pertimbangan daya serap siswa, kerumitan materi dan daya dukung sarana prasarana terkait informasi juga harus dipertimbangkan. Informasi yang disampaikan oleh pendidik kepada peserta didik harus disampaikan pada waktu yang tepat. Tidak kalah pentingnya, perubahan situasi lingkungan yang terkadang harus direspon oleh pendidik agar menguatkan motivasi didik dalam belajar sehingga tidak mengurangi semangat belajar peserta didik.
Pendidik sebagai ujung tombak pendidikan tetap merupakan aset penting. Pendidik sebagai agen informasi kepada peserta didik walaupun bukan satu-satunya sebagai sumber informasi. Setidaknya dalam menyampaikan informasi pendidik selalu berkomunikasi dengan peserta didik. Ketika mengawali pembelajaran di kelas, membersamai peserta didik dalam kegiatan inti pembelajaran dan melakukan closing pembelajaran dengan kesimpulan bersama peserta didik, peran pendidik masih sangat menentukan. Informasi terkadang juga membawa pesan berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian. Termasuk dikalangan pendidik bisa menjadi korban sekaligus pelaku hoax.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘hoaks’ adalah ‘berita bohong.’ Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’. Mirisnya, tekadang kegiatan pembelajaran dikelas tidak dapat terlepas dari informasi hoax. Bila dibiarkan akan merugikan pendidik dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran khususnya dan pendidikan pada umumnya. Ketika pendidik memberikan informasi yang salah maka dengan sendirinya peserta didik dapat pemahaman yang salah yang tidak sesuai dengan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) serta tujuan pembelajaran.

Meningkatkan Literasi Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran oleh seorang pendidik merupakan cikal bakal pendidikan yang berkualitas. Manakala seorang pendidik mampu memanfaatkan literasi pada kegiatan awal, inti dan penutup pembelajaran, maka diharapkan hoaks dalam kegiatan pembelajaran dapat ditekan sekecil mungkin.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan literasi pembelajaran dalam meminimalisir hoaks: Pertama, Melaksanakan kegiatan awal. Dalam mengawali pembelajaran sebaiknya pendidik tidak hanya terpaku kepada sistematika rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Karena situasi yang berbeda dan informasi awal yang diterima peserta didik terkait materi sering belum benar terkadang pendidik perlu untuk meluruskan persepsi awal. Pendidik perlu menyampaikan tujuan pembelajaran dan meningkatkan motivasi peserta didik. Diharapkan setelah memahami tujuan pembelajaran mereka termotivasi untuk dapat menuntaskan materi tersebut. Penting juga sebelum memulai pembelajaran mengulas sekilas materi sebelumnya, kegiatan wajib membaca literature dan penguatan mental pra-pembelajaran. Aktivitas penguatan (reinforcement) keyakinan peserta didik pada awal pembelajaran merupakan langkah penting yang dapat meminimalisir hoaks dalam pembelajaran.
Kedua, Melaksanakan kegiatan inti. Melaksanakan pembelajaran dikelas berarti mempertimbangkan kerumitan materi, daya tangkap peserta didik dan ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana pembelajaran. Mengawali pembelajaran dari hal yang mudah baru yang sulit, dari konsentrasi yang rendah ke konsentrasi tinggi dan dari materi yang fasilitas belajarnya mudah didapat ke materi yang fasilitas belajarnya sulit didapat merupakan prinsip pembelajaran yang penting untuk pendidik lakukan. Selain itu perlu menggunakan pendekatan, metode dan model pembelajaran yang sesuai.
Dalam pembelajaran abad 21, dimana proses pembelajaran yang berpusatkan kepada peserta didik. Beberapa karakter yang diterapkan dalam pembelajaran adalah komunikasi dan kolaboratif. Perlu dibangun hubungan komunikasi yang menyenangkan antara pendidik dengan peserta didik dan antar peserta didik. Melalui diskusi dalam pembelajaran dan kolaborasi dalam menyampaikan pendapat diharapkan peserta didik memiliki persepsi yang sama terkait materi pembelajaran dan mengurangi hoaks pemahaman.
Ketiga, Melaksanakan kegiatan penutup. Dalam menutup pembelajaran perlu kiranya pendidik untuk menguji peserta didik terkait materi pembelajaran yang sudah diterima. Dengan mengadakan semacam quis atau meminta pendapat peserta didik dalam menyimpulkan materi pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang telah didapat peserta didik. Selanjutnya, pendidik bersama peserta didik dapat menyimpulkan secara bersama-sama agar peserta didik memiliki pemahaman yang benar tentang materi pembelajaran yang dipelajari.

Meningkatkan Literasi Pendidik
Meningkatkan literasi pendidik merupakan langkah strategis dan efektif dalam menangkal hoaks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tiga definisi yang berbeda untuk literasi, yaitu: 1) kemampuan menulis dan membaca; 2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; 3) kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.
Menurut Agus Budi Wahyudi (2018), guru literatif memberikan bayangan bahwa guru andal dalam berliterasi. Dalam meningkatkan literasi informasi pendidik terutama dalam meminimalisir hoaks, pendidik dapat melakukan beberapa hal. Pertama, rutinlah membaca berita dari media yang terpecaya dan dihormati. Kedua, kalau suatu berita kedengarannya tidak mungkin, bacalah dengan lebih teliti karena seringkali itu karena memang itu tidak mungkin. Ketiga, menghindari share artikel/foto/pesan berantai tanpa membaca sepenuhnya dan yakin akan kebenarannya terutama kepada peserta didik. Pendidik yang literasinya andal akan meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial baik secara langsung atau tidak langsung. Sebaliknya, kemampuan literasi pendidik yang rendah dapat mengakibatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menjadi rendah.
Keberhasilan pendidik dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan apa yang sudah direncanakan dan mengevaluasi pembelajaran (perencanaan dan pelaksanaan) yang terbebas dari hoaks, merupakan harapan yang tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional. Dalam rangka pencapaian tersebut, kiranya pendidik perlu untuk meningkatkan literasinya. Selain itu, stakeholder pendidikan diantaranya dunia usaha dan dunia industri, dinas pendidikan dan pemerintah, dapat berperan aktif, agar mendorong terciptanya pendidik mampu menjadi pendidik literatif. (***).

Related posts