Menerapkan Enam Tabiat Luhur Sebagai Karakter Bangsa  


Oleh: Ari Sriyanto, S.Pd.I

Ketua DPW LDII Prov. Kep. Bangka Belitung

Sebelum kemunculan teknologi informasi canggih, masyarakat dahulu dilihat sebagai bersifat komunal dan organis, di mana orang dapat setuju atau tidak setuju terhadap suatu nilai. Nilai tersebut mengatur integrasi mereka ke dalam masyarakat. Pada titik ini, budaya popular tumbuh subur. Budaya popular tumbuh secara spontan dari grass-root, tercipta secara otomatis, otonom, dan secara langsung merefleksikan hidup dan pengalaman masyarakat tersebut. Permainan-permainan rakyat, memainkan musik bersama pasca panen, mencari ikan bersama, merupakan budaya-budaya popular yang variasinya banyak terdapat di Indonesia.

Namun, seiring munculnya modernisasi (urbanisasi, pendidikan, pers dan komunikasi massa) yang dipercepat oleh teknologi informasi, kecepatan penikmatan budaya seperti itu yang  kemudian menggerus kebijakan-kebijakan lokal, semisal kerukunan, kekompakan, dan gotong royong. Lalu, bagaimana mengembalikan karakter bangsa di tengah-tengah bangsa yang kehilangan jati dirinya. Bangsa ini harus sanggup membebaskan diri dari prasangka buruk, rasa dengki, dan iri antara sesama anggota masyarakat. Bisa kerjasama yang baik bukan sekadar bekerja bersama. Enam tabiat luhur (rukun, kompak, kerjasama yang baik, jujur, amanah, dan kerja keras juga berhemat (muzhid mujhid), untuk membangun karakter bangsa.

Kerukunan sejatinya adalah modal dasar manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berkelompok. Sebab, kerukunan merupakan media untuk mengumpulkan energi positif. Energi positif inilah yang sangat diperlakukan untuk membangun kehidupan sosial ke arah yang lebih baik, dalam bentuk pembangunan. Bayangkan saja bila kerukunan tak dibentuk, energi positif akan terus berbenturan dengan energi negatif, yang berakibat mundurnya proses pembangunan bangsa.

Selain kerukunan, hal lain yang tak boleh diabaikan adalah masalah kekompakan. Sebab, rukun, tak selalu kompak. Manusia bisa saja rukun, meski berbeda pendapat, namun kekompakan membutuhkan kesamaan pendapat, visi, sampai bagaimana memulai dan mengakhiri pekerjaan. Wujud nyata kompak, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam hadits Bukhari: “Orang iman terhadap orang iman yang lain sebagaimana bangunan yang bagian-bagiannya saling memperkuat”. Dengan demikian kekompakan menciptakan sebuah jati diri, kekuatan, dan solidaritas karena dengan kompak kelemahan satu individu bisa ditutupi dengan kelebihan yang lain. Hal ini sangat berguna untuk menyelesaikan suatu program atau menghadapi ancaman dari luar.

Berikutnya adalah kerjasama yang baik. Kerjasama adalah sikap yang harus dimiliki kelompok untuk mencapai cita-cita bersama. Dalam kerjasama, setiap individu harus menjauhkan diri dari sikap saling jegal atau merugikan satu sama lain. Kerjasama diperlukan untuk mengorganisasi potensi yang dimiliki dalam suatu kelompok. Dalam team building, pengertian satu sama lain untuk meraih cita-cita bersama menjadi sangat penting, sehingga pada satu titik diperlukan pengorbanan dari salah satu anggota kelompok.
Selanjutnya, untuk pengembangan potensi individu, ada tiga hal yang mesti dimiliki oleh individu untuk membangun integritas bangsa, yakni sifat jujur, amanah, dan bekerja keras. Kejujuran boleh dikata adalah pangkal atau modal dasar membangun integritas. Seorang individu harus mampu jujur terhadap diri sendiri (internal honesty) maupun terhadap orang lain (external honesty).

Kejujuran terhadap diri sendiri diperlukan untuk merumuskan target yang bisa diraih oleh seorang individu. Selain itu, kejujuran terhadap diri juga sangat penting untuk menselaraskan antara ucapan dan perbuatan. Sebab, ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan mengakibatkan tergerusnya integritas seseorang.
Acap kali yang terjadi di Indonesia adalah, pada saat Pemilu para calon pemimpin berkampanye dengan janji-janji, yang sebenarnya mereka sendiri tak bakal mampu memenuhi janjinya itu.

Walhasil, usai memenangi Pemilu, mereka tak akan pernah menepati janjinya, lantaran orientasi berpolitik hanya soal kekuasaan atau posisi belaka. Inilah yang membuat Indonesia berjalan di tempat. Jujur terhadap orang lain diperlukan untuk menjaga integritas. Juga merupakan syarat terwujudnya keutuhan dan kekompakan kelompok. Tanpa kejujuran terhadap orang lain, mustahil kerukunan, kekompakan, dan kerjasama yang baik bakal terwujud. Semakin tinggi tingkat kejujuran dalam suatu kelompok atau bangsa, maka semakin ringan beban sosial yang ditanggung oleh bangsa, sebaliknya semakin rendahnya tingkat kejujuran menambah beban sosial suatu bangsa.

Lantas, sikap amanah diperlukan agar setiap individu dapat dipercaya dan mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sikap amanah, diperlukan untuk membangun kemampuan bekerjasama dengan pihak lain, untuk mencapai cita-cita bersama. Kemampuan mengemban amanah, sangat berkait dengan kemampuan membentuk kinerja kelompok, bahkan membentuk kinerja suatu bangsa. Kemampuan mengemban amanah akan menghasilkan kehidupan saling percaya, yang selanjutnya menghasilkan energi positif.

Sebaliknya, ketidakmampuan mengemban amanah akan menghasilkan energi negatif, yang membuat suatu kelompok atau bangsa selalu ingin berfikir negatif antara satu dengan yang lainnya, yang hasilnya justru membuat menurun kinerja individu atau kelompok. Tingginya tingkat korupsi di Indonesia, salah satu disebabkan ketidakmampuan birokrat untuk jujur dan amanah terhadap tugas yang diembankan pada mereka. Lalu korupsi inilah yang membuat ekonomi berbiaya tinggi, yang hasilnya produk Indonesia kalah bersaing dari sisi kualitas dan harga, juga investor jeri untuk melakukan investasi di Indonesia, lantaran banyak korupsi dalam bentuk pungutan liar, di luar pungutan yang legal.

Berhemat dan Bekerja Keras Sikap terakhir yang diperlukan untuk membangun integritas bangsa adalah muzhid mujhid. Muzhid (bekerja keras), adalah usaha keras agar dapat bersaing dalam iklim kompetisi global. Dalam meraih tujuan, seseorang harus melakukan kerja keras untuk hasil yang maksimal sekaligus memenangi persaingan. Bekerja keras dapat menghasilkan sesuatu untuk pencapaian kebutuhan hidup atau memberi solusi terhadap suatu permasalahan.

Budaya kerja keras inilah yang tampak dari orang Jepang dengan semangat bushido, yakni kerja keras dan tekun hingga tercapainya suatu target. Semangat inilah yang juga menyelamatkan bangsa Jepang dari keruntuhan fisik dan moril pasca Perang Dunia II. Demikian pula dengan masyarakat maju di negara Barat, mereka bekerja keras sekaligus merencanakan semuanya dengan matang. Dengan demikian, Barat mencapai peradaban tertinggi dalam hal teknologi sejak revolusi industri di abad 19.

Selanjutnya adalah berhemat. Hemat menjadi bagian penting dari pembangunan integritas, lantaran inilah sikap terampil dalam mengelola pengeluaran. Ketika budaya konsumerisme menyergap dunia, orang tak lagi memperhatikan fungsi dalam membeli produk, tapi lebih mengutamakan gengsi. Pendekatan ini membuat orang semakin boros lantaran slogan: Anda adalah apa yang Anda pakai. Walhasil status seseorang bukan lagi ditentukan oleh profesi atau kelebihan dalam suatu ketrampilan, tapi diukur dengan apa yang dimiliki.

Repotnya, konsumerisme ini mendorong orang berbuat apa saja untuk memiliki materi, alias brand terkemuka. Mereka tak lagi hanya bekerja keras, tapi juga karena desakan-desakan keinginan dari keluarga, seorang ayah misalnya bisa saja korupsi karena ingin membelikan mobil istrinya. Semoga enam tabiat luhur bisa diterapkan dalam segala lini kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang selanjutnya menjadi karakter bangsa menuju negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.(****)

No Response

Leave a reply "Menerapkan Enam Tabiat Luhur Sebagai Karakter Bangsa  "