Menelisik Nilai-Nilai Karakter Pahlawan Bangsa

Oleh: Ari Sriyanto, S.Pd.I
Guru PAI & Budi Pekerti SMA Negeri 4 Pangkalpinang

Ari Sriyanto, S.Pd.I

Hari Pahlawan adalah Peristiwa sejarah perang antar tentara Indonesia dengan Belanda, yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 di kota Surabaya. Yang merupakan konflik bersenjata terbesar serta terberat pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan menjadi Sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengenang sejarah dan jasa Pahlawan yang bertempur di Surabaya, maka setiap tahunnya tanggal 10 November di peringati sebagai hari Pahlawan Indonesia.

Momentum Hari Pahlawan memberikan pelajaran moral bahwa warisan terbaik para pahlawan bangsa bukanlah “politik ketakutan”, melainkan “politik harapan”. Bahwa seberat apapun tantangan yang dihadapi dan keterbatasan yang ada, tidak akan menyurutkan semangat perjuangan. Kemerdekaan bangsa ini tercapai karena rakyat Indonesia mempunyai semangat berjuang yang sangat tinggi. Tanpa semangat perjuangan yang sangat tinggi, kita yakin kemerdekaan bangsa ini tidak akan tercapai. Selamanya rakyat Indonesia akan hidup di bawah penindasan penjajah. Para penjajah negeri kita bermaksud menguasai negeri dan mengeruk kekayaan bangsa Indonesia tercinta.

Setelah Indonesia merebut kemerdekaannya, Semangat Kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensif, kita butuh patriotisme yang lebih positif dan progresif. Patriotisme sejati bukan sekadar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa hari ini, patriotisme progresif dituntut menghadirkan kemandirian bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing.

Kemerdekaan bangsa Indonesia diraih dengan suatu perjuangan sampai titik darah penghabisan dengan suatu pekikan ‘merdeka atau mati’ diperjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan yang kita menyebutnya sebagai pahlawan kemerdekaan bangsa. Tetapi pahlawan juga merupakan sebutan bagi setiap pejuang yang gagah berani dan mengorbankan dirinya dalam membela kebenaran.

Pengalaman merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga menunjukkan betapa spirit perjuangan dan mental – karakter kepahlawanan memiliki daya hidup yang luar biasa dalam menghadapi berbagai rintangan dan penderitaan. Peringatan Hari Pahlawan harus mampu menggali apinya, bukan abunya. Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, semangat kepahlawanan itu adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Hal lain yang perlu diteladani yaitu sebagai generasi muda harus tangguh seperti para pahlawan yang tangguh untuk menggapai cita cita kemerdekaan dengan merelakan waktu, harta benda, keluarga bahkan jiwa dan raga untuk meraih serta mempertahankan kemerdekaan. Semangat rela berkorban para pejuang kita yang begitu besar itu patut kita teladani juga. Sudah saatnya kita sebagai warga bangsa kembali kepada nilai-nilai kepahlawanan. Sudah saatnya para generasi muda mengobarkan kembali sikap rela berkorban, jiwa kepahlawanan, patriotisme dan nasionalisme.

Semangat Kepahlawanan adalah semangat persatuan, persatuan yang bulat-mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan. Semangat Kepahlawanan adalah semangat membentuk dan membangun negara. Melalui momentum Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2017 yang dilaksanakan dengan berbagai kegiatan, kita dapat mengambil makna yang terkandung di dalamnya dengan meneladani nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada kita semua seperti : taqwa kepada Tuhan YME, pantang menyerah, jujur dan adil, percaya kepada kemampuan sendiri serta kerja keras untuk membangun Indonesia yang sejahtera sebagaimana cita-cita para Pahlawan Bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai perjuangan para pahlawan bangsa. Kata ini dilontarkan untuk mengajak bangsa kita untuk menghormati jasa pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Jika kita memahami perjuangan bangsa para pahlawan itu memiliki semngat kepoloporan yang tinggi. Selanjutnya, kepeloporan dapat menyatu dalam karakter yang sama dengan kepemimpinan yakni berada di muka dan diteladani oleh orang lain. Tetapi, kepeloporan dapat pula memiliki arti sendiri. Kepeloporan jelas menunjukkan sikap maju ke depan, merintis, membuka jalan, dan memulai sesuatu, untuk diikuti, dipikirkan, dilanjutkan dan dikembangkan oleh orang lain. Dalam kepeloporan terdapat unsur menghadapi risiko. Kesanggupan untuk memikul risiko ini penting dalam setiap perjuangan.

Tidak semua orang berani, dapat, atau mampu mengambil jalan yang penuh resiko, maka dia selalu siap untuk tidak bergantung kepada orang lain yang disebut mandiri. Kemandirian selalu dibutuhkan untuk tombak kita bahwa kita tidak perlu selalu menjagakan pendapat orang lain, melainkan pendapat kita yang selalu untuk diikuti, dipikirkan, dan dikembanmgkan oleh orang lain.

Kecerdasan mendasari sifat pahlawan. Cerdas adalah cerdik. Seorang pahlawan selalu cekatan dalam mengambil keputusan di saat ada masalah yang tiba- tiba muncul. Dalam melawan penjajah pun pahlawan selalu memakai strategi yang jitu untuk merebut kembali kemerdekan. Bila di zaman ini kecerdasan dibutuhkan untuk membaca situasi dan kondisi, juga memikirkan cara atau memakai trik-trik untuk memajukan bangsa dan negara.
Pahlawan sosok yang tangguh. Ketangguhan dalam zaman ini sangat penting karena di zaman modernitas memang mengurangi resiko pada bidang –bidang dan cara hidup tertentu tetapi juga memperkenalkan bentuk resiko yang baru yang tidak dikenal di era-era sebelumnya. Untuk itu diperlukan ketangguhan baik mental maupun fisik. Seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Teuku Umar, dan sederet pahlawan bangsa lainnya yang berani menyatakan bahwa imperialisme dan kolonialisme adalah bentuk ketidakadilan dan karenanya harus dilawan. Kita juga perlu membangun keberanian membela kebenaran. Semangat inilah yang seharusnya dimiliki oleh kaum muda bangsa ini untuk memberikan pencerahan kepada rakyat serta mempersiapkan diri menerima estafet kepemimpinan bangsa.

Pada zaman modern ini, kehidupan makin kompleks dan penuh risiko. Seperti pernah dikatakan oleh Giddens, modernity is a risk culture. Modernitas memang mengurangi risiko pada bidang-bidang dan cara hidup tertentu, tetapi juga memperkenalkan bentuk risiko baru yang tidak dikenal pada era-era sebelumnya. Untuk itu maka diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh risiko.

Memang telah terlihat, bahwa bangsa Indonesia telah mengisinya berbagai sisi kehidupan dan lingkupnya dan itu nampak jelas. Oleh karena itu kemerdekaan yang kita miliki sekarang tidak hanya diisi pesta pora, bersenang-senang dan hura-hura. Hanya memenuhi ambisi, berebut kekuasaan, disertai kebebasan berekspresi tidak mempedulikan menurunnya moral dan dampak negatif sosial, seperti demonstrasi melampiaskan amarah dan anarkis, kekerasan, kekacauan, kerusuhan dan terror serta manipulasi.

Belum lagi perselisihan yang menimbulkan kerusakan yang lebih parah yaitu kerusakan dan kejahatan yang mengatasnamakan agama, merubah dan menyelewengkan ajaran agama. Mereka mengira sebagai kebaikan namun sebenarnya kejahatan yang sangat besar bahaya kerusakannya. Terasa kering kehidupan bangsa ini, bencanapun tak jarang mengguncang negeri ini namun manusia tak juga menyadari.

Pahlawan itu ibarat orang-orang tua, yang di usia senjanya masih menanam pohon kelapa meskipun yang memetik dan menikmati buahnya anak, cucu dan generasi berikutnya. Pendek kata, pahlawan itu nyaris tidak menikmati buah dari hasil perjuangannya, kecuali perjuangannya yang tulus tanpa pamrih sebagai kecintaannya kepada kemanusiaan, ketaatan dan pengabdiannya pada Tuhan. Saatnya setiap generasi bangsa selalu menanamkan pada dirinya jiwa dan semangat kepahlawanan, karena setiap anak bangsa juga bisa menjadi pahlawan. “Selamat Hari Pahlawan” .(****).

 

No Response

Leave a reply "Menelisik Nilai-Nilai Karakter Pahlawan Bangsa"