by

Meneladankan Kebersihan Sejak Dini

-Opini-202 views

Oleh: Baginda Apri Amsalta Sidabutar
Guru bidang di SMK YAPIM Biru-Biru

Beberapa waktu lalu, tepatnya 14 Januari 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutahan (KLHK) menganugerahkan penghargaan Adipura kepada kota-kota yang ada di Indonesia sebagai bentuk apresiasi pemerintah bagi masyarakat yang menjaga kebersihan di daerahnya. Sebagaimana kita ketahui bersama, Adipura adalah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan. Untuk kesekian kalinya, kota Surabaya menjadi kota terbersih Indonesia 2019.

Di saat yang bersamaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga memaparkan nama-nama kota yang mendapat predikat kota terkotor diantaranya kota Medan, Kupang, Sorong, Palu, Bajawa, Buol, Ruteng, Waisai, dan Waykabubak. Semua kota tersebut dijadikan kota terkotor dalam beberapa kategori, yakni Kota Metropolitan Terkotor, Kota Sedang Terkotor, dan Kota Kecil Terkotor.

Yang perlu kita sadari dari penobatan dan penghargaan Adipura ini adalah secara keseluruhan Indonesia bukan negara yang “Adipura”. Jika kita kaji tingkat kebersihan di tingkat global, Indonesia bukanlah negara yang tergolong kategori bersih. Berdasarkan Indeks Kinerja Lingkungan atau Environmental Performance Index (EPI) yang dipublikasikan oleh Yale University tahun 2018 lalu, yang merupakan metode untuk menilai kinerja lingkungan, Indonesia hanya menempati urutan ke 133 dari 180 negara. Bahkan Indonesia masih berada di bawah sebagian besar negara ASEAN seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.

Menjaga kebersihan merupakan tugas yang terlihat sederhana namun nyatanya sulit diimplementasikan. Sampah yang bertebaran di jalanan, di selokan, bahkan di lautan adalah bukti konkret betapa malasnya masyarakat untuk menjaga kebersihan. Ironisnya, saat itu semua terjadi, pemerintah selalu disasar dan disalahkan.

Penulis sering menyaksikan sejumlah orang dengan sembarangan membuang sampah di tempat yang tidak seharusnya. Bahkan dalam berbagai kesempatan, ada orang tua yang dengan mudahnya menyuruh anaknya untuk membuang sampah bekas jajanan ke jalan raya melalui kaca jendela angkutan umum. Penulis yang berprofesi sebagai guru juga sering menasihati dan mengingatkan para siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, namun banyak diantaranya tak mengindahkan hal tersebut.

Alhasil, sampah setiap hari bertebaran di lingkungan sekolah. Setiap pagi berangkat ke sekolah, penulis selalu melihat sampah berserakan di pinggir jalan jembatan. Begitu banyak masyarakat yang melemparkan sampahnya ke jalanan. Pengendara motor dan mobil juga tak enggan untuk membuang sampah usai mengonsumsi sesuatu. Pemandangan-pemandangan yang demikian mencerminkan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Sesungguhnya, perilaku membuang sampah di sembarang tempat tidak hanya terjadi di kota-kota yang dinobatkan sebagai kota terkotor tersebut, melainkan di seluruh daerah di Indonesia.

Kamis (30/1/2019) lalu, berbagai media memberitakan seorang pria yang dengan sengaja membuang sampah ke Kali Krukut Bawah Kebon Dalam, Tanah Abang. Mirisnya, pria tersebut seolah tidak mengetahui keberadaan petugas UPK Badan Air yang sedang membersihkan sungai tersebut. Memang pada akhirnya pelaku ditangkap dan dijatuhi hukuman denda sesuai Perda setempat. Pelaku juga meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal yang sama. Akan tetapi, dari kejadian tersebut menunjukkan betapa bobroknya perilakunya. Ada atau tidak ada petugas kebersihan, sudah sepatutnya kita tidak membuang sampah ke sungai.

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Kita sudah diterkenalkan dengan ungkapan tersebut sejak duduk di bangku sekolah dasar, tetapi perilaku kotor yang selama ini terjadi menandakan bahwa masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan ungkapan tersebut. Menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, petugas kebersihan, bukan pula tugas utama guru melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Menjaga kebersihan seyogianya ditanamkan sejak dini dan dimulai dari keluarga. Ibu yang menyuruh anak membuang sampah ke jalan raya bukanlah contoh yang baik, karena dengan hal tersebut anak akan terdoktrin bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal wajar. Akibatnya, ketika mereka masuk ke lingkungan pendidikan, perilaku tersebut akan terus dilakukan dan sulit untuk diubah. Sebaliknya, orang tua yang mendidik anaknya bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungan akan menjadi lebih peduli terhadap lingkungan di mana pun mereka berada. Mengantungi atau memegang sampah sisa makanan dan minuman sebelum menemukan tempat penampungan sampah mestinya bukanlah perkara sulit, hanya butuh kesadaran diri saja.

Di sisi lain, guru-guru juga perlu menjadi teladan bagi pelajar. Tak bisa dimungkiri, terkadang para guru sering menyuruh dan menasihati siswa untuk membuang atau memungut sampah yang berserakan, tetapi diri sendiri enggan untuk melakukannya ketika menemukan sampah berserakan di sekitarnya. Kita harus tahu, memberi nasihat tanpa memberi teladan adalah percuma. Anak-anak butuh lebih dari sekadar nasihat.

Selain itu, orang tua memegang peran vital dalam hal ini. Orang tua perlu membiasakan anak untuk mencintai lingkungan dan dmulai dari rumah. Kita ajarkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya sekaligus menjelaskan bahaya yang ditimbulkannya. Kita juga perlu mengajarkan perbedaan sampah organik dan non-organik. Selanjutnya, orang tua mulai mengajak anak untuk menciptakan kreasi dengan memanfaatkan barang bekas atau sampah yang masih bisa didaur ulang. Dengan begitu, selain mengurangi produksi sampah, anak juga menjadi lebih kreatif. Terakhir, ajaklah anak berwisata alam agar mereka mencintai keindahan alam supaya kelak mereka tumbuh besar semakin ramah dengan alam dan tidak berniat mengotorinya.

Orang tua dan guru adalah pihak utama yang menciptakan generasi berkualitas dan berakhlak. Jika keduanya mampu bekerja sama dan bersinergi untuk mendidik anak memiliki karakter yang baik, maka perilaku kecil membuang sampah di sembarang tempat, tidak akan pernah dilakukan lagi. (***).

Comment

BERITA TERBARU