by

Mendukung Diversifikasi Pangan di Bangka Belitung

Oleh: Yulietta Kristina
Mahasiswi Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung

Yulietta Kristina

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Tanahnya sangat subur, sehingga hampir semua jenis tanaman dapat tumbuh di negara ini. Tidak mengherankan jika Indonesia dijuluki sebagai negara agraris, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja sebagai petani. Beraneka macam tanaman sumber makanan pokok sangat mudah tumbuh di Indonesia. Namun, untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri, pemerintah masih mengimpor beras, karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Konsumsi beras perkapita masyarakat Indonesia telah mencapai angka 102 kilogram per orang per tahunnya, sedangkan rata-rata tingkat konsumsi beras dunia hanya sekitar 60 kg perorang per tahun.
Dari fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia sangat tinggi. Padahal, banyak sumber karbohidrat yang dapat di konsumsi masyarakat selain nasi seperti jagung, sagu, sorgum, dan umbi-umbian. Dalam hal ini, dibutuhkan upaya untuk mengedukasikan program “One Day No Rice” sebagai salah satu program dari diversifikasi pangan, dimana program ini menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi nasi selama 1 hari dalam seminggu, agar masyarakat tidak bergantung pada satu bahan makanan pokok saja. Program ini sudah dilaksanakan dibeberapa kota besar di Indonesia, contohnya di Kota Depok yang menetapkan pogram ini pada hari Selasa. Pada hari itu, masyarakat dianjurkan untuk untuk mengganti nasi dengan bahan makanan sumber karbohidrat lainnya seperti jagung ataupun umbi-umbian. Warung makan, hotel,serta restoran pada hari itu juga tidak menyediakan nasi dan mengganti nasi dengan makanan sumber karbohidrat lainnya. Agar program ini berjalan lancar, kita harus menghilangkan anggapan yang menyatakan bahwa “rasanya belum makan jika belum makan nasi”.
Anggapan ini, sebenarnya sangat keliru, karena masih banyak makanan pengganti nasi yang bisa membuat perut kenyang. Keuntungan yang dapat kita rasakan jika menerapkan program ini adalah membuat tubuh menjadi sehat, karena seperti yang kita ketahui kadar gula pada nasi sangat tinggi dibandingkan dengan jagung ataupun umbi-umbian yang lainnya. Kadar gula yang tinggi pada nasi dapat menyebabkan penyakit diabetes dan obesitas. Dengan program ini, pemerintah dapat menekan impor beras, sehingga Indonesi dapat mengurangi impor beras untuk kebutuhan dalam negeri. Dengan adanya program “One Day No Rice” ini dapat meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia. Selain itu, dengan kita mengkombinasikan bahan makanan, hal ini dapat menjadikan tubuh kita mendapatkan asupan nutrisi yang baik dari berbagai jenis bahan makanan yang kita konsumsi. Kita sebagai masyarakat diharapkan proaktif untuk mendukung program ini. Kita dapat memulainya dari diri sendiri dengan cara mengatur pola makan sehat dan menetapkan 1 hari dalam seminggu untuk tidak mengkonsumsi nasi sama sekali dan menggantinya dengan makanan pokok lain seperti jagung, sorgum, umbi-umbian, serta beras non-padi atau disebut juga beras analog.
Kita sebagai masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung patut berbangga, karena kita memiliki produk lokal khas Bangka Belitung yang mendukung program diversifikasi pangan yang bernama “Beras Aruk”, yaitu beras yang terbuat dari singkong. Cara membuat beras aruk tidak sulit. Pertama, singkong yang telah dikupas direndam selama 3 hari kemudian dibersihkan dan dibuang sumbunya. Singkong yang telah dibuang sumbunya kemudian di-press dan dibentuk seperti bulir nasi dan di jemur. Beras aruk yang telah jadi dapat langsung ditanak seperti beras. Beras aruk memiliki cita rasa dan tekstur yang khas serta nilai gizinya tidak perlu diragukan lagi . Selain itu, kandungan gula dalam beras aruk jauh lebih rendah dibandingkan dengan beras biasa sehingga direkomendasikan dan aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. Beras aruk dapat dikonsumsi bersama makanan lain serta makanan khas Bangka Belitung seperti lempah darat,lempah kuning,serta belacan.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat mempromosikan dan memberikan modal bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah bagi masyarakat untuk mempromosikan beras aruk, terutama masyarakat yang berjualan di sekitar daerah wisata. Dengan adanya beras aruk sebagai pangan lokal masyarakat Bangka Belitung dapat menjadi daya tarik wisata kuliner selain dari wisata alamnya sehingga wisatawan tertarik dan mengenal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai Provinsi dengan keindahan alamnya serta keindahan budaya dan kelezatan makanan khasnya, sehingga jumlah wisatawan lokal dan asing meningkat. Peningkatan jumlah wisatawan lokal dan asing dapat meningkatkan defisa negara serta meningkatkan perekonomian masyarakat. Beras aruk dapat dijadikan oleh-oleh khas dari Bangka Belitung bagi wisatawan yang berkunjung. Selain itu, dengan mengkonsumsi beras aruk, kita telah mendukung upaya pemerintah dalam bidang diversifikasi pangan sehingga ketahanan pangan di Bangka Belitung meningkat. (***).

Comment

BERITA TERBARU