Mendongkrak IPM Dimulai dari Desa

  • Whatsapp

Oleh: IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

Sekitar 1 bulan lalu, tepatnya 6 Mei 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) baru saja merilis capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Babel 2018. Terjadi kenaikan dari 69,99 pada Tahun 2017 menjadi 70,67 pada Tahun 2018 dan semakin mengukuhkan Provinsi Babel sebagai Provinsi dengan status high human development. Namun, kenaikan IPM di tingkat Provinsi saja tidaklah cukup. Kita ingin pencapaian IPM yang semakin merata. Faktanya, masih ada kesenjangan IPM antar Kabupaten/Kota di Babel.

Data capaian IPM per Kabupaten/Kota di Babel menunjukkan bahwa masih terdapat Kabupaten/Kota di Babel dengan status capaian IPM pada kategori sedang, yaitu Bangka Tengah, Bangka Barat, dan Bangka Selatan, dengan masing-masing capaian IPM pada Tahun 2018 adalah 69,52; 68,68; dan 65,98. Sedangkan 4 Kabupaten/Kota lainnya telah terdongkrak ke level IPM pada kategori tinggi (high human development), yaitu antara lain Pangkalpinang, Bangka, Belitung, dan Belitung Timur, dengan capaian IPM masing-masing adalah 77,43; 71,80; 71,70; dan 70,22. Dari 4 Kabupaten/Kota dengan nilai IPM tinggi, Kabupaten Belitung Timur merupakan satu-satunya kabupaten/kota yang meningkat dari kategori IPM sedang pada Tahun 2017 menjadi kategori IPM dengan status tinggi pada Tahun 2018, sedangkan 3 Kabupaten/Kota lainnya (Pangkal Pinang, Bangka, dan Belitung) memang telah mencapai IPM dengan kategori tinggi sejak 2017 lalu.

Strategi meningkatkan IPM
Untuk memahami capaian angka-angka sebagaimana diurai di atas, perlu kiranya kita memahami cara perhitungan indikator IPM agar kita bisa memformulasikan kebijakan dan strategi untuk mengungkit IPM menjadi lebih efektif. Jika kita urai komponen yang menyusun IPM, setidaknya ada 3 aspek yaitu: dimensi kesehatan, dimensi pendidikan, dan dimensi ekonomi. Satu-satunya indikator pada dimensi kesehatan yang digunakan dalam perhitungan IPM ialah usia harapan hidup.

Yang perlu dilakukan untuk meningkatkan capaian Indikator Usia harapan hidup adalah dengan menekan seminim mungkin angka kematian bayi. Berdasarkan data profil kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Babel 2016, angka kematian bayi mencapai 7,22 bayi per 1000 kelahiran Hidup, sedangkan angka kematian balita mencapai 8,07 balita per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2017, sebagaimana dikutip dari data profil kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Babel 2017, angka kematian bayi turun menjadi sekitar 4,21 bayi per 1000 kelahiran hidup, dan angka kematian balita juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sekitar 5,03 balita per 1000 kelahiran hidup. Sebuah capaian yang perlu diapresiasi dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, setiap 1000 bayi yang lahir hidup, masih ada 4-5 bayi yang meninggal sebelum mencapai ulang tahun pertamanya. Untuk itu, masih diperlukan upaya yang masif untuk menurunkan angka kematian bayi tersebut.

Dimensi berikutnya adalah dimensi pendidikan, Strategi untuk mendongkrak IPM dari aspek pendidikan perlu dilakukan dengan cara menekan sekecil mungkin angka putus sekolah. Program Indonesia Pintar (PIP) memiliki peran penting untuk menekan angka putus sekolah, dan perlu ditunjang juga dengan pemberian beasiswa bagi keluarga miskin dan kurang mampu. Karena faktanya, di beberapa pelosok di daerah ini menunjukkan bahwa putus sekolah erat kaitannya dengan kemiskinan orangtua. Mendorong anak untuk terus sekolah melalui kampanye pentingnya pendidikan tidaklah cukup karena harus dibarengi upaya perbaikan kesejahteraan bagi keluarga si anak. Fakta ini yang menguatkan argumentasi bahwa PIP harus berjalan bersamaan dengan program jaminan sosial lainnya, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH) yang cakupannya perlu diperluas tidak hanya kepada rumah tangga miskin, tapi juga rumah tangga yang hampir miskin, yang berpotensi jatuh ke kategori miskin jika terjadi fluktuasi harga dan inflasi pada komoditas pokok.

Aspek berikutnya dalam komponen IPM adalah Indikator ekonomi yang mencerminkan daya beli masyarakat yang diukur melalui pendekatan pengeluaran per kapita/tahun. Upaya untuk meningkatkan Daya beli harus memenuhi setidaknya dua syarat utama, yaitu memastikan stabilitas harga dan mengupayakan kesejahteraan masyarakat dari peningkatan pendapatan. Perbaikan kesejahteraan diawali oleh perbaikan pendidikan dan kesehatan penduduk. Oleh karena itu, memperbaiki IPM pendidikan dan kesehatan akan berdampak jangka panjang terhadap perbaikan daya beli masyarakat. Jika kita cermati data capaian pengeluaran per kapita/tahun pada Tahun 2018 lalu, Belitung menempati poisisi tertinggi kedua di antara Kabupaten/Kota di Babel setelah pangkal pinang, dengan nilai capaian pengeluaran sekitar 13.281.000 perkapita/tahun. Sedangkan Belitung Timur menempati urusan paling kecil di antara seluruh kabupaten/kota di Babel dengan nilai pengeluaran mencapai 11.302.000 per kapita/tahun. Ini menunjukkan bahwa untuk 2 Kabupaten/Kota dalam 1 pulau, masih terdapat kesenjangan aspek daya beli yang cukup tinggi.

Analisa menarik lainnya yang perlu kita cermati adalah bahwa dari 7 kabupaten/kota yang tersebar di Babel mayoritas penduduknya tinggal di perdesaan (dengan proporsi lebih kurang 60 persen). Hal ini menunjukkan sinyal bahwa untuk membangun IPM Babel, maka perlu dilakukan mulai dari pembenahan desa agar tercipta pemerataan pembangunan manusia di seluruh wilayah Babel. Berdasarkan data dari situs resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Sejak 2015 hingga tahun 2019 ini, pemerintah telah menyalurkan lebih kurang Rp 187 triliun dana desa ke desa melalui rekening kas umum Pemerintah Kabupaten/Kota, dengan rincian alokasi dana desa pada tahun 2018 sebesar Rp 60 triliun, pada 2017 seebsar Rp 60 triliun, pada 2016, sebesar Rp 46,98 triliun, dan pada 2015 sebesar Rp 20,7 triliun. Pemerintah mengklaim bahwa pada periode 2019-2024, akan digelontorkan dana desa mencapai 400 triliun rupiah selama 5 tahun ke depan. Ini berarti bahwa Pemerintah melihat pentingnya membangun Desa, salah satunya demi pemerataan capaian IPM di seluruh pelosok daerah di Indonesia. Meskipun tentu saja dalam pelaksanaanya masih perlu berbagai perbaikan pelaksanaan, tetapi dana desa telah menjadi penggerak pembangunan di banyak desa.

Menyoal kembali upaya bersama untuk menguatkan capaian IPM dari dimensi kesehatan, maka salah satu upaya yang bisa dilakukan di desa di antaranya melalui program penanganan stunting yang berdampak terhadap penurunan angka kematian bayi. Pemerintah telah menetapkan 100 kabupaten prioritas penanganan stunting pada 2018, sehingga menempatkan salah satu Kabupaten/kota (Bangka Barat) di Babel di dalam prioritas tersebut.

Stunting merupakan kondisi anak balita gagal tumbuh yang diukur berdasarkan tinggi badan menurut umur. Stunting menciptakan risiko kematian yang lebih besar, menurunkan kemampuan kognitif anak serta rentan terserang penyakit degeneratif saat dewasa. Penyebabnya dapat dibagi dua kelompok. Pertama, masalah kurang gizi akibat kekurangan sumber pangan atau salah pola pangan. Kedua, karena infeksi berulang (recurrent infection) yang berdampak terhadap defisit gizi anak, terjadi akibat sulitnya akses air bersih, buruknya sanitasi, dan rumah tidak layak huni.

Ditopang Dana Desa
Melanjutkan uraian mengenai peningkatan IPM kesehatan, selain kegiatan yang bersumber dari APBN dan APBD, dana desa digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur air bersih, sanitasi, dan permukiman guna mengatasi masalah infeksi berulang pada bayi dan anak balita.

Dana Desa juga dimanfaatkan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan menggerakkan aktivitas posyandu dan peningkatan gizi anak melalui pemberian makanan tambahan. Dana desa digunakan untuk membangun jalan dan jembatan, membuka keterisolasian, meningkatkan akses penduduk desa terhadap sumber daya ekonomi dan pendidikan yang lebih baik.

Kita yakin pemanfaatan dana desa yang akuntabel berkontribusi meningkatkan IPM, mengikis kesenjangan IPM antardaerah. Menjadi tugas pemerintah bersama pemda untuk mendorong penyaluran Dana Desa tepat waktu, tepat manfaat, dan tepat pelaporannya, demi mewujudkan pembangunan manusia yang berkeadilan di tanah serumpun sebalai ini.(***).

Related posts