Mencintai dan Meneladani Rasulullah SAW

  • Whatsapp

Oleh M Benny Adzan F, SE

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mengisi bulan Ramadhan 1440 H dengan beribadah kepada Allah SWT. Sesungguhnya semua ibadah mahdhah yang kita lakukan bermuara pada semakin meningkatnya ketaatan kepada Allah SWT. Demikian pula dengan ibadah shaum kita, yakni kita agar menjadi manusia yang bertakwa, la’allakum tattaqun. Takwa diartikan sebagai menjalankan seluruh ajaran islam, baik dalam hal kepatuhan terhadap perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Karenanya mencintai seluruh ajaran Islam adalah konsekuensi keimanan seorang Muslim. Seorang Muslim tidak boleh mencintai sebagian ajaran Islam, tetapi membenci sebagian lainnya. Menerima sebagian hukum Islam, tetapi menolak sebagian yang lain. Menjalankan sebagian amalan Islam, tetapi anti terhadap sebagian amalan Islam yang lain.
Seorang Muslim tidak boleh, misalnya, melaksanakan shalat, tetapi menolak zakat. Mencintai ibadah haji, namun membenci kewajiban kaum Muslimah menutup aurat dengan memakai kerudung dan jilbab. Menerima ajaran Islam seputar akhlak, tetapi membenci ajaran Islam yang lain tentang poligami, jihad atau hudud (seperti hukum rajam bagi pezina atau hukum potong tangan bagi pencuri). Menerima sistem ekonomi syariah, tetapi anti terhadap penerapan hukum syariah secara formal dalam negara.
Padahal jelas, mencintai seluruh ajaran Islam adalah bagian dari totalitas mencintai Allah SWT, sementara mencintai Allah SWT merupakan konsekuenasi keimanan seorang Muslim. Allah SWT berfirman:
“Orang-orang beriman amat dalam cintanya kepada Allah” (TQS al-Baqarah [2]: 165).
Mencintai Allah SWT tentu harus dibuktikan dengan menerima, mengikuti dan mengamalkan seluruh ajaran dan tuntunan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS Ali Imran [3]: 31).
Mencintai Allah SWT tentu harus dibarengi dengan mencintai Rasulullah saw., kekasih-Nya. Kecintaan kepada Rasulullah saw. juga merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Rasul saw. sendiri yang menyatakan demikian: “Belum sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai ia menjadikan aku lebih dicintai dari kedua orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR al-Bukhari).
Karena itu tidak layak seorang Muslim mengaku beriman kepada Allah SWT, tetapi tidak mencintai Rasullullah saw., kekasih-Nya. Tidak layak pula ia mengklaim mencintai Rasulullah saw., kekasih-Nya, tetapi tidak mencintai bahkan membenci ajarannya, mengabaikan hukum-hukum yang beliau bawa, apalagi sampai memusuhinya.
Sungguh dalam diri Rasulullah saw. terdapat suri teladan dalam berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Allah SWT berfirman:
“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir serta banyak menyebut Allah” (TQS al-Ahzab [33]: 21).

Teladan Rasul saw. bukan hanya dalam aspek akidah, spiritual, moral dan sosial saja. Tidak boleh keteladanan beliau hanya dibatasi pada aspek-aspek itu saja. Sebab jika demikian, hal itu sama saja mengerdilkan sosok beliau. Beliau juga memberikan teladan kepemimpinan dalam bernegara, berpolitik dalam dan luar negeri, menjalankan pemerintahan, menerapkan hukum dan menyelesaikan persengketaan. Teladan kepemimpinan Rasul saw. itu, ketika diaktualisasikan di tengah kehidupan, akan bisa menyelesaikan problem-problem yang mendera masyarakat modern ini, sekaligus membawa pada kehidupan yang dipenuhi ketenteraman dan berkah. Bagi kita, kaum Muslim, hal itu tentu kita yakini seiring dengan keyakinan kita terhadap Islam yang Rasul saw. bawa kepada kita.
Rasulullah Muhammad saw. bukan hanya pemimpin spiritual (za’îm rûhi), tetapi juga pemimpin politik (za’îm siyâsi). Dalam konteks saat ini, beliau dapat disebut sebagai pemimpin negara (ra’îs ad-dawlah). Allah SWT berfirman:
“Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk ditaati dengan izin Allah” (TQS an-Nisâ` [4]: 64).
Ayat ini menegaskan bahwa kehadiran Rasulullah saw. tidak sebatas penyampai risalah semata. Beliau sekaligus juga pemimpin yang wajib untuk ditaati setiap perintah dan larangannya. Hal ini ditegaskan dalam ayat selanjutnya, bahwa di antara bukti kesempurnaan iman adalah menjadikan Rasul saw. sebagai hakim dan keputusan beliau diterima tanpa ada keberatan sedikitpun. Sepeninggal Rasul saw., hal itu adalah dengan menjadikan syariah sebagai hukum untuk memutuskan segala perkara (lihat: QS an-Nisâ` [4]: 65).
Rasul saw. juga memimpin umat untuk menjalankan misi agung menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Islam dan penerapannya secara totalitas akhirnya merambah ke berbagai negeri menebarkan rahmat di setiap jengkalnya.
Walhasil, Ramadhan kali ini sudah semestinya menjadi renungan bagi kita apakah semua keteladanan Nabi saw. itu sudah kita teladani secara totalitas? termasuk keteladanan dalam kepemimpinan. Meneladani kepemimpinan Nabi saw. bukan hanya meneladani beliau sebagai sosok pemimpin, tetapi juga meneladani dan merealisasikan sistem yang beliau gariskan dan contohkan, yaitu sistem Islam, melalui penerapan syariah Islam secara menyeluruh.

Related posts