Mencegah Tindakan Bully di Sekolah

  • Whatsapp
Oleh: Santi Virgianti, M.Pd.I
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Babel

Tahun lalu kita dihebohkan dengan berita mahasiswa berkebutuhan khusus di bully oleh temannya sesama mahasiswa. Kasus bullying bisa dialami oleh semua orang dengan segala jenjang usia. Namun, yang paling banyak terjadi adalah di kalangan pelajar usia menengah ke atas, seperti pelajar SMA atau SMK.

Sebenarnya bullying adalah Bahasa Inggris. Dalam Wikipedia, dalam Bahasa Indonesia bullying adalah Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian. Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian (bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber.

Tapi di antara jenis bullying tersebut yang banyak dilakukan adalah bullying fisik dan bullying verbal. Bullying verbal yaitu bullying dengan bahasa verbal yang tujuanya menyakiti hati orang lain. Seperti mengejek menfitnah, memberi julukan yang tidak pantas dan lain-lain. Bullying merupakan perbuatan yang sangat tercela. Tindakan bullying dapat menyebabkan koban mengalami masalah kejiwaan. Dampaknya tergantung tingkat atau level bully yang dilaksanakan. Berikut adalah dampak dari bullying bagi korban : depresi, minder, pemalu dan penyendiri, merosot prestasi akademik, merasa terisolasi dalam pergaulan dan bahkan si korban bunuh diri.

Biasanya bullying susah terdeteksi oleh guru di sekolah. Itu disebabkan pelaku bulliying biasanya akan mem-bully korbannya tidak dihadapan guru. Ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk mencegah kasus bully di sekolah: Pertama, jadikan masalah bully ini topik diskusi atau obrolan di kelas. Di SMK Negeri 1 Kelapa, misalnya karena penulis adalah guru Pendidikan agama Islam, maka masalah bully akan dikaitkan dengan aturan Islam. Dalam agama islam bullying sangat di larang karena sangat merugikan orang lain. Dalam Alquran juga sudah disebutkan dalam QS Al-Hujarat ayat 11 yang artinya : “Hai orang – orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula suka sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidakberbat, maka mereka itulah orang-orang zalim”.

Baca Lainnya

Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa kita semua itu memiliki derajat yang sama di mata Allah SWT, sehingga kita tidak boleh melakukan bullying karena belum tentu yang direndahkan oleh kita itu lebih buruk dari kita, bahkan malah orang yang kita bully itu lebih baik dari kita. Ukuran tinggi derajat seseorang dalam pandangan islam bukan ditentukan oleh nenek moyangnya, kebangsaannya, warna kulit, bahasa, dan jenis kelamin yang berbau rasialis. Kualitas dan tinggi derajat seseorang ditentukkan oleh ketaqwaannya yang ditunjukkan oleh prestasi kerjanya yang bermanfaat bagi manusia (QS. Al-Hujurat : 13).

 Kedua, selalu ciptakan kondisi kerja sama. Kerja sama tersebut, bisa dituangkan dalam tugas di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler. Kondisi kerja sama ini bisa memupuk karakter gotong royonng dan menghilangkan rasa kebencian yang mendorong munculnya bully. Ketiga, segera ambil tindakan bila melihat gelagat bullying, misalnya dalam bentuk intimidasi. Seluruh guru dan staf di sekolah harus menunjukkan ke anak-anak bahwa mereka peduli dan takkan membiarkan siapapun diperlakukan dengan buruk.

Khususnya di SMK Negeri 1 Kelapa, pelaku bully langsung dipanggil oleh Wali Kelas, guru BK dan didampingi guru agama. Jangan lupa juga untuk melibatkan orang tua. Keterlibatan orang tua ini untuk mendampingi, mengawasi dan melaporkan apabila terdeteksi adanya kasus bully. (***).

Related posts