Mencegah Plagiarisme Secara Penindakan

  • Whatsapp

Oleh: Nurfitriani
Mahasiswi Sosiologi FISIP UBB

Nurfitriani

Plagiat atau plagiarisme dalam ruang lingkup akademik sekarang merupakan hal yang sering dilakukan. Hal itu tidak saja terjadi pada ranah pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan juga terjadi pada tingkat mahasiswa dan dosen. Tugas penelitian serta pembuatan karya tulis ilmiah lainnya dirasa rumit oleh para mahasiswa membuat mereka melakukan kegiatan plagiarisme tanpa ragu atau dengan istilah “copypaste” yang lebih tepat lagi merupakan pilihan utama dalam penyelesaian tugas para mahasiswa, karena dianggap dapat mempermudah pekerjaan mereka dalam waktu singkat.
Pengertian plagiarisme yang Penulis kutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia mengartikan bahwa plagiarisme merupakan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikan seolah karangan dan pendapat sendiri. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 dikatakan: Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa mengatakan sumber secara tepat dan memadai. Dan sebutan untuk orang yang melakukan tindakan plagiat terebut adalah plagiator.
Namun, perlu kita ketahui bahwa tindakan plagiarisme merupakan tindakan yang salah, dilarang, mungkin berdosa, karena termasuk dalam kategori kriminal, yakni mencuri karya orang lain. Pemerintah juga telah membuat Undang-undang terhadap pelaku plagiarisme yang diatur dalamUndang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 25 ayat (2) yang berbunyi: “Lulusan perguruan tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan dicabut gelarnya”. Kemudian, pasal 70 mengatur sanksi bagi masyarakat yang melakukan plagiat, khususnya yang terjadi di lingkungan akademik yakni: “Lulusan yang karya ilmiah digunakannya untuk mendapat gelar akademik, profesi, vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) terbukti merupakan jiplakan dipidana dengan penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp200.00.00.00,00 (dua ratus juta rupiah). Serta Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2010 telah mengatur sanksi bagi mahasiswa yang melakukan tindakan plagiat.
Pada intinya, semua pengertian di atas menekankan bahwa tindakan plagiat merupakan tindakan yang buruk dan tidak boleh dilakukan. Apabila melanggar akan dikenakan sanksi-sanksi seperti disebutkan di atas. Kasus-kasus yang sebelumnya sudah pernah terjadi di Indonesia ternyata terbukti tidak hanya terjangkit pada kalangan mahasiswa, namun juga sudah meluas dan terjadi pada dosen hampir di seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Sebagai contoh kasus yang pernah terjadi di Universitas Bangka Belitung, diketahui tiga dosen yang terbukti berpraktik Plagiarisme Jurnal dalam Jenjang Jabatan Akademik (JJA) ini, dikenai sanksi atas perlakuan plagiat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sudah berlaku, yakni dengan sanksi maksimal pemecatan. Bila terbukti gelarnya akan dicabut, dan diancam pidana penjara maksimal dua tahun serta denda Rp200 juta, (Pangkalpinang, Bapos). Hal ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di Universitas yang berada di luar negeri seperti Australia.
Dari kacamata akademis plagiarisme adalah “Haram Hukumnya” dilakukan, karena pada dasarnya kaum intelektual merupakan orang-orang yang cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Mahasiswa seharusnya menciptakan kreatifitas dan dapat menjadi sumber informasi atas pemikiran kritisnya dalam menanggapi fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini, baik dari segi ekonomi, pendidikan, politik, agama dan lainnya. Oleh sebab itu, tindakan plagiat dapat membuat daya pikir mahasiswa, daya kritis dan kreatif menjadi lemah dan berkurang.

Penulis beranggapan, dilihat dari kasus-kasus yang pernah terjadi, plagiat merupakan salah satu kasus serius dan sangat menjamur di kalangan akademis, sehingga dapat merusak pemikiran para kaum intelektual sebagai generasi penerus bangsa. Lalu bagaimana cara mengantisipasi hal tersebut?
Untuk hal pencegahan dapat dilakukan dengan cara: Pertama, pihak akademik maupun perguruan tinggi memberikan suatu pemahaman akan pentingnya bersikap jujur, bila perlu mengadakan sosialisasi mengenai anti plagiat. Kedua, pihak perguruan tinggi selalu mengawasi setiap tugas mahasiswa dalam bentuk apapun.
Ketiga, dalam pelaksanaan pembelajaran dari pihak akademik baiknya memberikan pemahaman tentang kode etik mahasiswa. Dan terakhir, setiap karya ilmiah yang dihasilkan oleh perguruan tinggi harus melampirkan pernyataan yang ditandatangani oleh penyusun berupa bukti keterangan karya ilmiah tersebut anti plagiat, dan apabila terbukti terdapat plagiat dalam karya ilmiah tersebut, maka penyusunnya harus bersedia menerima sanksi berdasarkan peraturan perundang-udangan.
Nah, itu tadi merupakan langkah mencegah plagiarisme secara penindakan dari berbagai pihak. Selanjutnya, Penulis sedikit memberi tips anti plagiat dari segi penulisannya. Pertama, tentukan buku yang hendak di baca, hal ini penting untuk langkah awal dalam penulisan sebagai referensi untuk judul karya tulis. Kedua, sembari membaca buku, salin ide utama yang anda dapatkan pada kertas atau catatan. Setelah selesai membaca buku fokuslah pada catatan yang telah kita buat. Kedua hal tersebut merupakan bagian penting, karena apabila kita sudah menemukan ide dan konsep dalam sebuah penulisan, maka kita hanya perlu mengembangkan kalimat yang ada dan jangan lupa menuliskan sumber kutipan, daftar pustaka atas karya yang dirujuk dengan baik dan benar atau paraphrase dengan tetap menyebutkan sumbernya. Selain itu, untuk lebih meyakinkan bahwa tulisan kita jauh dari unsur plagiarisme, dapat menggunakan aplikasi/softwere untuk mengecek tingkat plagiarisme pada tulisan yang sudah kita hasilkan.(****).

Related posts