by

Menata Industri Lada Babel

-Opini-175 views

Oleh : Agustian Deny Ardiansyah, S.Pd
Guru SMP N 2 Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu Provinsi di Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah. Timah, kaolin, lada, sawit, dan karet merupakan sumber daya alam Bangka Belitung yang memiliki peran besar dalam mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dan peningkatan ekonomi masyarakat Bangka Belitung pada umumnya.

Terkhusus lada, atau sering disebut masyarakat Bangka Belitung dengan sebutan sahang dan “the king of spice” dalam dunia rempah-rempah, merupakan salah satu komoditi unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang telah mendunia. Lada disebut sebagai komoditi unggulan karena lada Bangka Belitung dihasilkan dari kebun-kebun rakyat dengan melibatkan sekitar 57.000 petani lada.

Lada Bangka Belitung pada skala nasional juga memiliki andil dalam menyumbang 40 persen produksi nasional atau setara dengan 30.000 ton per tahun. Bahkan pada Tahun 2016 Bangka Belitung tercatat sebagai penghasil lada terbesar di Indonesia dengan produksi 31.408 ton. Produksi tersebut akan terus meningkat mengingat potensi area yang bisa ditanami lada mencapai 237.000 hektar atau 14,8 persen dari luas daratan Bangka Belitung.

Bangka Belitung pada tanggal 15 Februari 2017 atau dua tahun ke belakang telah memilih Dr. H. Erzaldi Rosman, S.E dan Abdul Fatah, M.Si sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk Periode 2017 – 2022. Kepemimpinan tersebut memiliki arti harapan baru bagi masyarakat Bangka Belitung akan berbagai problematika yang harus segera di carikan solusinya.

Salah satunya adalah lada. Beberapa bulan setelah beliau dilantik terjadi fluktuasi harga lada dunia, dari harga Rp. 90.000 – 150.000 per kg pada Tahun 2016 menjadi Rp. 70.000 – 75.000 per kg pada Tahun 2017. Bahkan di akhir Tahun 2017 harga lada kembali terpuruk ke harga Rp. 60.000 – 65.000 per kg dan Tahun 2019 lada kembali merosok tajam ke harga 60.000 – 50.000. Hal tersebut terjadi karena melimpahnya lada di pasar dunia.
Kebutuhan lada dunia saat ini hampir 60 persen dipasok oleh Vietnam, sedangkan Indonesia yang menempati urutan ke tiga dalam hal produktifitas lada hanya mampu memasok 15 persen, dimana 5 persennya dihasilkan dari Bangka Belitung. Oleh karena itu, Vietnam sebagai negara pemasok lada terbesar berhak menentukan haga lada dunia yang kemudian berdampak pada turunya harga lada di Indonesia termasuk di Bangka Belitung.
Luas perkebunan lada Bangka Belitung saat ini, mencapai 48.011 hektar dan dapat menghasilkan lada sebanyak 30.000 ton per tahun dan area potensial yang bisa ditanami lada adalah 237.000 hektar dengan asumsi dapat menghasilkan lada sebanyak 273.000 ton per tahun (1 hektar 1 ton lada). Perpaduan antara produktifitas, luas lahan, dan kualitas lada Bangka Belitung dengan bren “Mentok White Peper” dapat menjadikan Bangka Belitung sebagai produsen lada terbesar di Indonesia dan dunia.

Mengingat Vietnam sebagai negara produsen lada terbesar di dunia hanya menghasilkan 150.000 ton lada dengan lahan kurang dari 80 hektar pada Tahun 2016 (1 hektar 1,5 – 2 ton lada). Data di atas menunjukan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui kepemimpinan Dr. H. Erzaldi Rosman, S.E dan Abdul Fatah, M.Si harus segera merevitalisasi kebijakan dalam hal penataan industri lada Bangka Belitung untuk mengembalikan kejayaan lada Bangka Belitung dan menjadikan Bangka Belitung sebagai “provinsi lada” dunia.
Pertama, mencerdaskan petani lada Bangka Belitung. Langkah ini dilakukan dengan cara menggandeng asosiasi dunia yang bergerak pada bidang perladaan seperti IPC, The American American Spice Trade Association (ASTA), dan European Spice Association (ESA). Hal tersebut dilakukan guna melakukan pendampingan dan pemberian pengetahuan kepada petani lada tentang masalah teknis yang dapat merusak lada dan pemahaman tentang tuntutan mutu yang ketat serta peluang dalam menjajaki pasar global.

Kedua, membangun pusat studi perladaan Bangka Belitung. Pemerintah Bangka Belitung harus segera membangun pusat studi perladaan dengan melakukan kerjasama antar universitas baik dalam negri maupun luar negri untuk melakukan penelitian yang intensif terhadap lada Bangka Belitung. Muara dari kegiatan tersebut adalah untuk memecahkan masalah hama penyakit dan menghasilkan bibit unggul, sehingga dari hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas lada Bangka Belitung.

Ketiga, membangun pabrik pupuk di Bangka Belitung. Pemerintah Bangka Belitung baik secara mandiri atau menggandeng pihak swasta harus segera membangun pabrik pupuk di wilayah Bangka Belitung. Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai mahalnya pupuk yang harus dibeli petani dan mengurangi kecurangan dalam pengadaan pupuk di Bangka Belitung. Sisi lain jika dibangun pabrik pupuk di Bangka Belitung adalah mudahnya melakukan pengontrolan kualitas pupuk yang akan diedarkan ke petani.

Keempat, pembatasan sawit. Pemerintah Bangka Belitung secara intensif harus melakukan pembatasan terhadap sawit dan menggantinya dengan pengintesifan lahan tanam baru lada. Hal tersebut dilakukan karena menurut catatan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung luas area lahan sawit bertambah rata-rata 10 persen per tahun, sementara lada hanya 4 persen per tahun. Oleh karana itu, untuk meningkatkan produktivitas lada pemerintah harus membatasi pembukaan lahan sawit baru.

Kelima, membangun industri lada Bangka Belitung. Pemerintah Bangka Belitung harus segera membangun industri lada untuk melakukan pelembagaan (pewadahan) hasil produksi lada petani Bangka Belitung. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan alur pemasaran lada dan pengendalian harga lada jika pihak eksportir langsung ditangani oleh pemerintah daerah. Pelembagaan perladaan dengan membuat BUMD juga bertujuan mendifersifikasi hasil olahan lada, seperti minyak asiri, tepung lada, butiran packaging dll sehingga tidak hanya bahan mentah yang diekspor namun juga nila tambah dari lada.

Keenam, Subsidi dengan pemantauan lapangan. Pemerintah Bangka Belitung juga harus mengintensifkan subsidi dalam bentuk barang seperti pemberian bibit unggul dan pupuk kepada kelompok petani lada. Hal tersebut tidak hanya sebatas pemberian subsidi, namun pemerintah juga harus melakukan pendampingan terhadap kelompok tani yang diberi subsidi dengan melakukan pendamping lapangan hingga lada siap panen di tahun pertama. Dengan cara seperti itu maka pemerintah dapat memantau dan mengintesifkan produktifitas lada.

Ketujuh, sosialisasi penggunaan junjung (tiang) ramah lingkungan. Pemerintah Bangka Belitung secara intensif harus melakukan sosialisasi tentang tata cara penggunaan junjung (tiang) ramah lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi penebangan kayu sebagai junjung (tiang), sehingga antara perluasan lahan tanam lada dan pelestarian lingkungan dapat terus diindahkan. Terlebih jika pemerintah bisa memberikan solusi dalam hal penggunaan junjung (tiang) seperti menggunakan tanaman hidup atau betonisasi junjung (tiang).

Memang tidak mudah dalam mengupayakan setiap poin di atas, namun dengan kerja keras, semangat ingin membangun, dan komitmen dalam mensejahterakan masyarakat Bangka Belitung dengan kembali memperbaiki tata kelola lada dari hulu sampai hilir akan menggerakan semua elemen masyarakat untuk siap dan patuh pada setiap keputusan pemimpin, terutama pada upaya penatan industri lada Bangka Belitung untuk kemudian mengembalikan kejayaan lada Bangka Belitung. Salam Kawa.(***).

Comment

BERITA TERBARU