Menanti Punahnya Warisan Anak Cucu

  • Whatsapp

Oleh : Melia Noprianda, S.Pd
Guru IPA SMP Negeri 2 Tukak Sadai Bangka Selatan

Melia Noprianda, S.Pd

Indonesia dikenal sebagai negara maritim karena memiliki wilayah perairan laut yang cukup luas serta memiliki gugusan pulau-pulau yang sangat banyak jumlahnya. Total ada lebih dari 17 ribu Pulau di Indonesia. Dengan perairan laut yang luas tersebut, tentunya kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) laut yang dimiliki Indonesia juga sangat banyak pula. Tak hanya di laut, di darat pun kekayaan Indonesia sangat beragam, misalnya keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Karena letaknya yang berada di kawasan tropis, Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Memiliki lingkungan beriklim tropis tersebut membuat Indonesia memiliki tanah yang sangat subur, sehingga tak heran jika Indonesia digadang-gadang sebagai wilayah paru-paru dunia karena memiliki hutan yang sangat luas. Ibarat pepatah, benih apapun yang dilemparkan di tanah Indonesia dapat langsung tumbuh dan berkembang dengan baik.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang merupakan bagian dari wilayah Indonesia tak luput dari berkah dan karunia yang melimpah tersebut. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang merupakan kepulauan dengan iklim tropis juga memiliki kekayaan laut yang sangat kaya dan melimpah. Selama ini, Bangka Belitung sangat dikenal dengan sektor pertambangan timahnya. Namun, selain pertambangan timah, Bangka Belitung sesungguhnya juga memiliki kekayaan SDA di sektor-sektor lainnya, terutama kehutanan, pertanian, perkebunan dan perikanan. Hutan di kepulauan ini memiliki luas sebesar 657.510 ha yang terbagi menjadi hutan produksi, lindung dan konservasi. Dari sektor pertanian, provinsi ini memiliki lahan sawah dengan total luas 6.587 ha. Perkebunan yang dimiliki provinsi ini juga sangat strategis dalam menunjang perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, beragam komoditi unggulan Bangka Belitung seperti misalnya lada, karet dan kelapa sawit, telah lama ditekuni dan menjadi mata pencaharian masyarakat Babel sehari-hari. Terakhir dari sektor perikanan juga sangat beragam dan menjanjikan yang terdiri dari perikanan laut dan budidaya, baik itu budidaya ikan air tawar dan payau.

Namun, sayangnya gambaran mengenai kekayaan yang dimiliki Indonesia maupun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri hanya sebagai gambaran ideal belaka. Beragam permasalahan lingkungan telah menghantui kepulauan tersebut dan bahkan Indonesia. Gambaran ideal yang didengungkan sebagai kekayaan melimpah yang akan diwariskan kepada anak cucu lambat laun mulai terkikis dan bahkan terancam punah. Warisan apa saja yang menunggu detik-detik kepunahan tanpa sempat diwariskan kepada anak cucu kita jika tidak ditanggulangi dari sekarang?

Pertama, sektor kelautan. Sebagai provinsi kepulauan yang dikelilingi oleh laut, Bangka Belitung tentu saja memiliki kekayaan perikanan yang luar biasa. Tidak hanya itu, keindahan pantai serta terumbu karang menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakatnya. Namun, kekayaan serta keindahan itu justru menjadi barang yang langka terlihat. Banyak nelayan mengeluhkan hasil tangkapan yang semakin hari semakin berkurang. Terumbu karang juga tak luput dari kerusakan. Permasalahan rusaknya laut yang menjadi keruh sehingga biota laut menjauh dan mati tentu bukan menjadi rahasia umum lagi. Operasi ponton-ponton timah ilegal yang mengeruk tanah laut menjadi sumber kerusakan utama. Meski pemerintah sudah berupaya agar praktek kegiatan penambangan ilegal dihentikan, namun tetap saja masih banyak oknum nakal yang tidak sadar akan rusaknya lingkungan hidup untuk warisan anak cucu mereka.

Kedua, sektor kehutanan. Selain perikanan, sektor kehutanan tak luput dari tangan jahil oknum tak bertanggung jawab. Menurut peneliti lingkungan dari PT Ekologika Consultans sebanyak 3 jenis spesies endemik kepulauan Bangka Belitung terancam punah yang terdiri dari satu jenis fauna yaitu trenggiling (Manis javanica) serta dua flora endemik yaitu keruing gajah (Dipterocarpus grandiflorus) dan mata kucing (Hopea mengarawan), (Republika, 2015). Detik-detik kepunahan fauna langka tersebut tak lepas dari peran manusia yang merusak hutan sebagai habitatnya. Selain itu kegiatan pembukaan lahan untuk jalan, pembukaan perkebunan, pembalakan liar, serta penangkapan satwa menjadi momok bagi hewan dan tumbuhan endemik provinsi Bangka Belitung.

Ketiga, Daerah Aliran Sungai (DAS). Daerah aliran sungai yang merupakan sumber kekayaan biota sungai dan digunakan sebagai sumber irigasi bagi sektor pertanian juga terancam keberadaannya. Sangat ironis ketika kepala dinas kehutanan provinsi babel menyebutkan bahwa sebanyak 65% DAS telah rusak dan tercemar (PosBelitung.com, 2016). Hal tersebut berarti lebih dari separuh DAS yang terdapat di provinsi babel telah tidak layak digunakan lagi. Rusaknya DAS akan berdampak pada rusaknya biota sungai yang akhirnya juga akan berdampak pada tanaman pertanian.

Dengan beragam permasalahan lingkungan pada hampir seluruh sektor akibat kelalaian oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut, maka masihkah kita dapat berkata bahwa kita memiliki kekayaan yang tidak akan habis sampai keturunan ketujuh? Warisan apa yang akan kita persembahkan untuk anak cucu kelak jika SDA dan kekayaan alam lainnya sudah hampir habis dan punah? Sangat prihatin mengetahui bahwa saat ini kita hanya sekedar menanti punahnya warisan anak cucu kita. Anak cucu tidak akan pernah melihat jernihnya laut dengan beragam biota yang menghiasinya, tidak akan pernah mengenal flora dan fauna khas dari kepulauan kita, tidak akan pernah menikmati segarnya air sungai yang jernih dan mengalir deras tanpa ada limbah yang mencemarinya.

Sekarang, mari kita renungkan dan bertanya kepada hati nurani, dapatkah kita hidup tenang dan menikmati hasil alam sementara gambaran kehidupan anak cucu begitu muram? Dapatkah kita hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada lingkungan ketika warisan anak cucu kita menunggu detik-detik kepunahan? Bagaimana kehidupan mereka setelah kita tinggalkan dengan beragam permasalahan lingkungan yang semakin tidak terkendali?

Jawaban tentu kembali kepada hati nurani masing-masing, apakah kita hanya menunggu kepunahan itu terjadi atau kita bergerak saling membahu memperbaiki apa yang telah rusak. Kita dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk mulai memperbaiki warisan anak cucu, misalnya dengan memperbanyak sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat agar peduli dengan lingkungan sekitar, menghentikan perburuan liar, menghentikan tambang ilegal, melakukan penebangan secara tebang pilih, serta pengayaan jenis tanaman atau satwa yang terancam punah dengan cara menggalakkan penanaman kembali. Terakhir, tentu saja tak lupa mengajarkan sejak dini kepada generasi penerus agar mereka sadar dan mencintai lingkungan. Dengan saling membahu untuk menjaga lingkungan sebagai warisan anak cucu berarti kita telah menyelamatkan mereka dari kehancuran. Tak dapat dipungkiri bahwa menjaga itu berat, namun kehilangan itu lebih berat lagi. Selamat memperingati hari lingkungan hidup, selamat menjaga lingkungan untuk warisan anak cucu.(****).

Related posts