Menanamkan Sikap Toleransi dalam Masyarakat

  • Whatsapp

Oleh: Meta Nopita
Jurusan Sosiologi FISIP UBB

Meta Nopita

Ekonomi menjadi salah satu penyebab masyarakat untuk melakukan perubahan di dalam kehidupannya. Pulau Jawa, salah satu wilayah di Indonesia yang merupakan pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia. Sehingga, tak heran untuk mengurangi jumlah penduduknya, kebanyakan penduduk disana bertransmigrasi ke daerah yang penduduknya masih sedikit, agar bisa mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Bagaimana tidak, dengan penduduk yang begitu padat otomatis untuk mencari pekerjaan saja susah, karena banyaknya saingan baik itu dari segi modal, pendidikan, ataupun skill.
Pulau Bangka ternyata, adalah tujuan yang paling tepat bagi masyarakat yang ingin merubah nasibnya. Setengah dari seluruh penduduk asli Pulau Bangka merupakan penduduk pendatang baik itu dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan tak kalah banyaknya ialah Pulau Jawa. Tujuan mereka melakukan transmigrasi ini, bermacam-macam, seperti menjadi tenaga pengajar/pendidik, sehingga tak jarang kalau tenaga pengajar kebanyakan berasal dari luar Pulau Bangka baik itu dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga dalam ranah perkuliahan pun, bisa juga membuka usaha seperti berdagang, ataupun menjadi buruh kuli/buruh tani, dengan maksud secara keseluruhan ingin mencari pekerjaan dan merubah kehidupan yang lebih baik. Kedatangan penduduk dari luar Pulau Bangka ini, tidak hanya terjadi dalam beberapa periode ini saja, karena sudah sejak lama pendatang mulai memasuki sebagian wilayah bangka dan seiringnya waktu hal ini sudah di pandang biasa oleh masyarakat. Menjadi pengajar ataupun buruh ditempat orang pastilah sesuatu yang sangat menantang, dan tak jarang hal ini menjadi suatu faktor terjadinya konflik di dalam masyarakat karena adanya kecemburuan sosial.
Desa Pebuar misalnya, merupakan salah satu wilayah yang menjadi tujuan para pendatang. Desa kecil yang terletak di ujung barat Pulau Bangka yang penuh dengan kerukunan antar masyarakatnya ini, sangat homogen, sehingga tak heran masyarakat disini masih memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat erat antara rumah satu dengan lain, sifat gotong – royong yang masih melekat di jiwa masyarakatnya. Di Desa ini, pada awalnya kedatangan penduduk pendatang (Jawa) masih belum begitu banyak. Kedatangan mereka ialah untuk mencari pekerjaan seperti buruh ataupun berdagang, sehingga masyarakat elit yang mempunyai banyak lahan yang tidak sempat untuk diolah sendiri olehnya memakai jasa para pendatang tersebut, yang awalnya sebelum kedatangan masyarakat dari luar Pulau Bangka mereka memakai jasa para buruh di daerah lokal sendiri. Makanya, tak jarang muncul suatu kecemburuan sosial antar masyarakat termasuk kaum buruh lokal yang sudah tidak dipakai oleh para kaum elit. Namun, walaupun hal ini terjadi pada buruh lokal, para kaum buruh ini, sama sekali tidak mempersoalkan hal ini, karena terjalinnya sikap saling menghargai antara buruh lokal dengan buruh pendatang. Dengan begitu potensi konflik yang terjadi sangat minim, bahkan belum pernah terjadi konflik yang berkepanjangan.
Tak jauh dari Desa Pebuar, tepatnya di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Jebus, dulu masyarakatnya bersifat homogeny, tak jauh berbeda dengan Desa Pebuar. Namun, dengan begitu banyak pendatang, khususnya pendatang dari luar Bangka seperti Jawa yang lebih dominan. Karena bisa mendapatkan penghidupan yang layak di tanah orang, para buruh pendatang pun mengajak sanak saudaranya dari Jawa untuk tinggal di daerah kawasannya dimana ia berhasil menjadi buruh yang dipakai oleh penduduk local, dan untuk mencari pekerjaan sebagai jalan merubah kehidupan. Sehingga lama-kelamaan masyarakat ini membentuk sebuah kawasan di daerah Sungai Buluh sebagai daerahnya sendiri, dan terbentuklah suatu kampung yang disebut oleh masyarakat sekitar dengan nama Kampung Jawa. Dari sinilah kebanyakan orang-orang di Desa Pebuar (khususnya orang elit) menggunakan jasa buruh pendatang. Adapun ketertarikan penduduk lokal untuk mempekerjakan buruh pendatang karena adanya beberapa faktor berikut, antara lain mereka menganggap upahnya lebih murah dari buruh lokal, jam kerjanya lebih banyak, serta para buruh pendatang ini sudah mahir dalam bidang pertanian. Jadi, tak heran masyarakat yang ada disana merupakan masyarakat-masyarakat yang suka bekerja, rajin bercocok tanam, dan sangat pandai mengolah kawasan persawahan layaknya orang jawa sesungguhnya.
Adapun yang menjadi faktor untuk terhindar dari terjadinya konflik antar buruh lokal dan buruh pendatang, karena adanya suatu keuntungan seperti dalam teknik pengolahan lahan persawahan. Buruh tani lokal yang belum bisa mengolah lahan persawahan bisa belajar dari buruh tani pendatang, termasuk buruh pendatang dari jawa yang sudah menjadi pekerjaan sehari-harinya. Lama-kelamaan penduduk lokal bisa mengolah lahan sawahnya dengan sendirinya.
Karena manusia tidak bisa hidup dengan sendirinya, pastilah ia membutuhkan orang lain baik itu tenaga, ilmu, ataupun pengetahuan lainnya. Oleh sebab itu, tak ada masalah siapapun yang ingin datang untuk merubah hidupnya, asalkan bisa untuk menyesuaikan keadaan, menanamkan sikap toleransi dan berperilaku masih dalam konteks nilai yang dianut oleh masyarakat setempat, sehingga lama-kelamaan bisa diterima oleh masyarakat dengan baik.(****).

Related posts