Menanamkan Pendidikan Peduli Lingkungan Sejak Dini di Sekolah

  • Whatsapp

Oleh: SUMARNI, S.Ag
Guru  SMA Negeri 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka

Read More

Sekolah merupakan Lembaga pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah dibawah naungan Kemendikbud. Salah satu lembaga formal pendidikan yang berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan anak, sekolah merupakan tempat kita memperoleh berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk bertahan hidup di kemudian hari. Sebenarnya sekolah sebuah lembaga yang oleh pemerintah digunakan sebagai wahana meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) atau untuk mencetak manusia yang sehat dan cerdas. Karena itu sekolah seharusnya mampu membuat anak didik betah atau kerasan mengikuti proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas dalam lingkungan sekolah tersebut. Tentunya lingkungan sekolah harus diciptakan senyaman.

Dalam Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No.2 Tahun 1989) dikemukakan bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan (depdikbud, 1989). Tujuan pendidikan tersebut tidaklah selalu tercapai, dan pendidikan tidak hanya tanggungjawab guru, tetapi tanggungjawab bersama baik pemerintah, guru dan masyarakat. Seperti halnya tujuan pendidikan nasional tersebut, tujuan pembentukan karakter peduli juga tidak 100% berhasil dan tidak mendapat kendala.

Melihat kerusakan lingkungan di negeri ini, sudah saatnya menyelenggarakan masyarakat Sadar dan Peduli untuk perubahan lingkungan kearah yang lebih baik. Pemikiran ini muncul karena peran masyarakat sangat strategis di dalam penyadaran dan penyelenggaraan kepedulian lingkungan. Komponen masyarakat harus bisa memberi perhatian di dalam menjaga lingkungan. Kerusakan lingkugan diakibatkan perilaku manusia yang serakah dan kebutuhan yang ingin di penuhi untuk mempertahankan hidup.

Menurut Wardahana, ada beberapa alasan mengapa masyarakat dikatakan berperan strategis dalam pelestarian lingkungan. Masyarakat adalah kunci dalam mengembangkan kesadaran masyarakat segala kapasitasnya untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, yang membutuhkan perubahan di berbagai aspek seperti nilai-nilai, sikap dan perilaku, yang semua tidak terlepas dari dukungan para pembuat pembuat kebijakan.

Masyarakat dapat menjembatai seluruh aspek dalam konsep berkelanjutan dalam sebuah pendekatan yang terintegrasi dan komprehensif. Masyarakat berperan dalam mengembangkan konsep pembangunan yang berkelanjutan, dan secara tidak langsung juga akan mengembangkan kemampuan komunitas lainnya juga. Masyarakat agen yang diharapkan mempromosikan pelestarian lingkungan hidup. Menurut Wardahana, pada dasarnya kerusakan lingkungan dapat terjadi oleh dua faktor, yaitu oleh alam dan oleh manusia dan perilakunya. Perilaku yang dimaksud adalah tidak peduli dengan kondisi saling ketergantungan antara manusia dan lingkungannya.

Faktor perilaku manusia merupakan gambaran peranan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan, dan sangat berpotensi untuk menentukan arah lingkungan ke posisi yang lebih baik atau bahkan sebaliknya. Pada realita yang terjadi bahwa perilaku manusia cenderung merusak daripada melesterikan. Pengrusakan  terjadi ada yang sengaja dan ada juga yang tidak menyadari fungsi dan manfaat dari lingkungannya bagi kehidupan, ada yang tahu tapi pemikiran naïf dan ada juga memanfaatkan lingkungan tersebut untuk kepentingan pribadi. Makanya penting penyadaran yang membuat manusia merasa bahwa pelestarian lingkungan yang baik adalah salah satu kebutuhan pokok.

Bila kita melihat di lingkungan sekolah pelestarian lingkungan sekolah pun masih banyak yang belum maksimal. Lihatlah siswa dan mahasiswa masih banyak membuang sampah sembarangan dan merusak lingkungan sekolah. Ada bebarapa analisis mengapa di sekolah anak membuang sampah sembarangan bisa terjadi, karena minimnya sarana pembuangan sampah sehingga membuat kesadaran itu tidak tumbuh, kemungkinan kurangnya sosialisasi pelestarian dan lingkungan dan mungkin tidak diberdayakan proses belajar mengajar untuk pengetahuan pelestarian lingkungan. Melihat di lingkungan masyarakat umum pelestarian lingkungan belum juga maksimal. Masyarakat masih banyak belum sadar dan peduli terhadap apa yang telah diperbuat untuk kerusakan lingkungan. Kesadaran ini tidak tumbuh karena kurangnya penyuluhan dan pelatihan pengolahan sampah yang baik. Masyarakat tidak mendapatkan pendidikan untuk pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Kepedulian tidak tumbuh karena kurangnya sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan sampah sangat kurang membuat masyarakat tidak mendapatkan akses untuk pembuangan, sehingga membuang sampah begitu saja. Masalah di atas adalah masalah sadar dan kepedulian masyarakat yang tidak tumbuh, maka perlu dilakukan pembinaan dan pendidikan secara menyeluruh mulai masyarakat sekolah dan masyarakat umum. Sikap dan perilaku manusia terhadap kepedulian terhadap pelestarian lingkungan bisa ditumbuhkan melalui pendidikan dan pelatihan yang terus-menerus. Masyarakat harus mengingat bahwa pelestarian lingkungan merupakan proses berkesinambungan seumur hidup yang dimulai dari usia dini sampai usia tua. Di sekolah perlu dilakukan pendidikan lingkungan yang menumbuhkan pengetahuan mulai TK sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan sampai Perguruan Tinggi, sehingga ada proses penumbuhan kepedulian dan kesadaran dalam pelestarian.

Dalam proses tersebut ditumbuhkan pengetahuan, sikap dan partisipasi. Tidak lain hal dengan masyarakat umum tetap dilakukan pendidikan lingkungan untuk menumbuh pengetahuan, sikap dan partisipasi. Secara keseluruhan, kebersihan dan keasrian sekolah adalah tanggungjawab bersama dari setiap warga sekolah. Selain guru dan siswa, pemeliharaan dan perwujudan lingkungan sekolah yang bersih sehat dan asri tidak lepas dari peran orang tua, swasta lembaga swadaya masyarakat maupun pemerintah. Kondisi demikian akan melahirkan siswa yang cerdas, bermutu, berwawasan lingkungan serta mampu menerapkan sikap cinta dan peduli lingkungannya di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Menurut Hines, Peduli lingkungan hidup dapat dikembangkan melalui beberapa aspek terbentuknya perilaku manusia, yaitu pengetahuan (knowledge), sikap (Attitude), dan partisipasi (Partice). Dalam Knowledge atau pengetahuan lingkungan adalah upaya untuk membekali individu atau kelompok masyarakat dengan pengetahuan dasar mengenai totalitas lingkungan, permasalahan serta peranan dan tanggungjawab manusia.

Attitude atau sikap adalah upaya mendorong individu dan kelompok masyarakat agar memiliki nilai-nilai sosial, kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan serta motivasi untuk berpartisipasi aktif dalam perlindungan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Sedangkan partisipasi adalah upaya mengembangkan rasa tanggungjawab pada individu dan kelompok masyarakat serta memberi peluang agar dapat terlibat secara aktif memecahkan masalah berbagai permasalahan lingkungan (Djajadningrat, 1994).

Dalam tulisan ini, solusinya adalah solusi yang strategis melalui penyadaran dan pendidikan. Dari faktor penyebab kerusakan yang terjadi dimana manusia adalah faktor terbesar penyebab terjadinya kerusakan lingkungan. Langkah solusi strategis ini menunjang keselamatan kita bersama. Jangan ditanya kenapa lingkungan kita panas, gersang, kerdil dal lain, tapi tanya apa yang sudah kita lakukan dalam pelestarian Lingkungan.

Dalam menghadapi masalah yang dilakukan bagaimana seluruh masyarakat dapat sadar dan peduli terhadap pelestarian lingkungan. Masyarakatlah yang menentukan masa depan lingkungan ke depan. Dalam penyelenggaraan sadar dan peduli terhadap lingkungan di sekolah, ditargetkan seluruh masyarakat sekolah untuk bisa sadar dan peduli terhadap pelestarian lingkungan. Dunia pendidikan merupakan suatu alat yang bisa menunjang target yang dibuat melalui proses belajar mengajar dan dan pengadaan buku serta alat peraga untuk pelestarian lingkungan. (***)

Related posts