Menanamkan Nilai-nilai Komitmen sebagai Guru Profesional

  • Whatsapp

Oleh: Drs. Zainuri
Guru SMKN 4 Pangkalpinang

Semakin komplek problema kehidupan, menjadikan dunia pendidikan khususnya para guru, kesulitan membuat kebijakan. Bahkan pengaruh teknologi tanpa kontrol sering menjebak perilaku negatif dalam interaksi sosial, terutama kasus-kasus yang berkembang seperti; kasus hoaks, Kurang minat belajar, kenakalan remaja, narkoba, dan lainnya. Undang – Undang Perlindungan Anak (UUPA), seolah – olah menjadikan para guru semakin kaku berbuat dan bertindak. Dua sisi yang sama penting antara kebutuhan karier maupun tuntutan sebagai profesional guru.
Menghadapi tekanan-tekanan adakalanya membuat para guru beralih ke bidang yang lain, atau bekerja apa adanya tanpa mengambil sikap yang pasti. Bagi mereka yang kuat dan tangguh menjalankan profesinya, pemerintah dengan kebijakan menganugerahkan sebagai guru profesional.
Melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, secara tegas menyatakan bahwa kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dengan harapan, ini semua memberi penguatan kepada guru untuk mencerdaskan anak bangsa.

Problema Guru Profesional
Sebagai tenaga profesional, apakah sudah melakukan apa yang diinginkan dalam dunia pendidikan atau sudah menyelaraskan dengan cita-cita bangsa? Guru menjalankan tugas harus didasari ikhtiar yang kuat, sehingga melahirkan generasi yang tangguh, kuat, cerdas dan berkarakter dalam mengisi peradaban bangsa yang semakin komplek. Mewujudkan profesional hendaknya diawali ketulusan hati dan kematangan proses dalam menuju kariernya. Untuk dapat melaksanakan tugas secara professional, diperlukan berbagai persyaratan seperti kompetensi, kematangan pribadi, sikap penuh dedikasi, serta harus mempunyai komitmen yang tinggi.
Dalam rangka memahami komitmen guru profesional dalam proses pendidikan maupun memotivasi diri, agar kembali keporosnya sebagai insan yang paling bertanggungjawab, maka hal ini sangat signifikan sekali untuk dibahas.

Peranan Komitmen Guru

Park menjelaskan, komitmen guru merupakan kekuatan bathin yang datang dari dalam hati seorang guru dan kekuatan dari luar itu sendiri tentang tugasnya yang dapat memberi pengaruh besar terhadap sikap guru berupa tanggung jawab dan responsif (inovatif) terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanggung jawab keguruan yang lahir dari komitmen guru profesional adalah tanggung jawab yang tidak hanya dialamatkan kepada manusia, akan tetapi juga dihadapan Tuhan. Profesi dalam pandangan agama tidak hanya bersifat horizontal-formal sesama manusia, tetapi juga bersifat vertical-moral, taggung jawab terhadap Tuhan yang memberikan amanah.
Disisi lain, Louis menjelaskan 4 jenis komitmen guru profesional, sebagai berikut: Pertama, komitmen terhadap sekolah sebagai satu unit social. Sekolah merupakan lembaga sosial yang tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Lembaga sosial formal tersebut, merupakan suatu organisasi yaitu terikat terhadap tata aturan formal memiliki program dan target atau sasaran yang jelas serta struktur kepemimpinan penyelenggaraan atau pengelolaan yang resmi. Guru sebagai pendidik berkewajiban membawa anak didik ke arah kedewasaan dengan memanfaatkan pergaulan sehari-hari dalam pendidikan merupakan cara yang paling baik dan efektif dalam pembentukan pribadi anak didik. Cara ini, akan menghilangkan jurang pemisah antara guru dan anak didik.
Kedua, komitmen terhadap kegiatan akademik sekolah. Tugas guru terkait dengan komitmen kegiatan akademik sekolah antara lain: 1) Guru sebagai perancang pembelajaran, membuat dan merumuskan, menyiapkan materi yang relevan dan dengan tujuan waktu, merancang metode yang seusia dengan situasi dan kondisi peserta didik, menyediakan sumber belajar, media yang efektifitas dan efisiensi; 2) Guru sebagai pengelola pembelajaran. Dalam hal ini, guru menyediakan dan menggunakan fasilitas dalam kegiatan belajar mengajar, serta mengembangkan kemampuan Peserta didik dalam menggunaan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik memperoleh hasil yang diharapkan; 3) Guru sebagai pengarah pembelajaran, hendaknya berusaha menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi pesertadidik untuk belajar. Kemudian, membangkitkan dorongan peserta didik untuk belajar, menjelaskan secara kongkrit apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran, memberikan gambaran terhadap prestasi yang dicapai hingga dapat merangsang pecapaian prestasi yang lebih baik; 4) Guru sebagai pelaksana kurikulum. Keberhasilan dari suatu kurikulum tergantung pada factor kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru; 5) Guru sebagai evaluator. Tujuan utama penilaian adalah untuk melihat tingkat keberhasilan efktifitas dan efisiensi dalam proses pebelajaran.

Sifat Guru Profesional

Menurut Dedi Suherman, guru profesional harus memiliki sifat: Persuasif, Edukatif, Normatif, Dedikatif, Ilmiah, Demokratis, Inovatif dan Kreatif atau disingkat penddidik. Untuk masing-Masing sifat tersebut yang merupakan sebagian sifat atau karakter guru profesional.

Untuk mewujudkan profesionalitas guru, setidaknya kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru: 1) Kompetensi Paedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik; 2) Kompetensi Personal, adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia; 3) Kompetensi Profesional, adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan; 4) Kompetensi Sosial, adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif terutama orang tua, dan masyarakat sekitar.

Memberi Contoh dengan Tindakan
Seorang guru mengajar dengan metode ceramah saja tidaklah cukup. Baik itu dalam menyampaikan materi atau mendidik perilaku peserta didik. Kalau ceramah saja akan sulit diingat, ada yang mengatakan “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”. Materinya sekadar melewati telinga saja. Bagaimana mungkin sesuatu yang hendak ditanamkan akan membekas dan mempengaruhi kehidupannya nanti. Sembari itu peserta didik diajak bersama-sama yang dilakukan membersihkan lingkungan seperti ruang kelas, halaman sekolah, dll.

Percaya Diri
Kewibawaan seorang guru akan runtuh ketika peserta didik mendapati gurunya tidak memiliki kepercayaan diri yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana ia mengkomunikasikan pelajarannya. Guru seperti ini akan menyampaikan materi dengan penuh kebimbangan dan kurang meyakinkan. Padahal dalam menyampaikan ilmu, seorang guru harus dapat meyakinkan anak didiknya. Jika seorang guru menyampaikan materi dengan penuh percaya diri, maka peserta didik akan percaya diri pula mengikuti gurunya.

Konsisten
Konsisten adalah sikap yang dituntut untuk tidak berubah-ubah atau plin plan. Guru yang selalu berubah-ubah dalam membuat aturan akan mengurangi rasa hormat para peserta didiknya. Apabila seorang guru akan menerapkan disiplin positif, guru hendaknya menerapkan aturan yang sudah dibuat dan memberlakukan konsekuensi negatif bagi yang melanggarnya.

Memahami Kejiwaan Peserta Didik
Seorang guru ibarat seorang dokter. Masa pertumbuhan anak didik adalah waktu yang baik untuk membentuk akhlaknya. Peranan guru diharapkan dapat memberikan pendekatan-pendekatan yang mampu memberikan kenyamanan bagi peserta didik

Komitmen Guru Professional
Seorang guru yang mempunyai komitmen tinggi akan memiliki kepedulian terhadap tugas, kebutuhan siswa, teman sejawat, atau atasan langsung. Ia punya komitmen terhadap tugas yang dibebankannya, termasuk tanggung jawab terhadap bangsa, negara dan sesama manusia. Pembentukan sikap seperti ini, karena ia mendasarkan diri pada panggilan jabatan yang pada akhirnya ia juga bertanggungjawab terhadap sang pencipta.
Glickman menggambarkan komitmen guru professional, sebagai berikut: 1) Tingginya perhatian terhadap siswa-siswi, yaitu (a) Memberikan bimbingan; (b) Mengadakan komunikasi yang intensif untuk memperoleh infomasi tentang anak didik. 2) Banyaknya waktu dan tenaga yang dikeluarkan. 3) Bekerja sebanyak-banyaknya untuk orang lain.
Guru adalah pekerjaan dibidang jasa. Terkait dengan tugas para guru dibebankan dengan tugas-tugas sebagai berikut : a) Guru memiliki tugas professional. Guru merupakan profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini, tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang kependidikan meskipun kenyataannya masih banyak dilakukan orang diluar kependidikan; b) Guru memiliki tugas kemanusiaan. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan disekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mapu menarik simpati sehingga ia menjai idola para siswa-siswinya; c) Guru memiliki tugas kemasyarakatan. Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya.

Cara Membentuk Guru Profesional
Sebagaimana Permenpandan RB Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan guru, Pasal 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi peserta didik pada pendidkan anak usia dini jalur pendidikan pormal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam hal ini guru profesional diharapkan mewujudkan cita-cita luhur dan menjalankan tugas dengan penuh kesadaran dan disiplin tinggi tanpa tekanan dari apapun.

Sementara Imam Musbikin (2010: 125) dalam bukunya yang berjudul Guru yang Menakjubkan, ada 4 program yang dapat dikembangkan dalam rangka pembentukan guru profesional itu: (1) pre-service education; (2) in-service education; (3) in-service training; (4) on-service training. Guru profesional melalui program pre-service education dapat dilakukan dengan cara peningkatan kualitas dalam diri calon guru.

Menetapkan batas minimal indeks prestasi pada saat penerimaan calon guru. Selanjutnya, adalah program in-service education adalah dengan cara memotivasi guru-guru yang sudah mengajar untuk dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Program in-service training, berupa pelatihan, penataran dan diskusi/seminar. Cara-cara terbaik dan mudah sudah disajikan untuk mewujudkan guru yang profesional, sekarang waktunya kita untuk membuat pilihan untuk mengikutinya atau tidak.

Peran Pendukung Profesional Guru
Guru merupakan pekerjaan yang penuh resiko, suatu pekerjaan harus didasari pengorbanan yang tinggi, bekerja begitu komplek, dengan seluruh jiwa raganya diabdikan demi mencapai tujuan pendidikan. Pekerjaan guru harus dilakukan dengan ikhlas karena profesi guru tidak hanya meliputi kompetensi pedagogik tetapi juga sosial, kepribadian, bahkan guru mampu menciptakan generasi beriman dan berkarakter, ditanganya tercipta generasi-generasi yang sebagai pengisi peradaban bangsa. Oleh sebabnya dukungan berbagai aspek, terutama pemerintah, baik level daerah maupun pusat, dukungan lingkungan yang kondusif , baik keluarga maupun masyarakat. Dukungan sertifikasi/sarana prasarana memberikan penguatan terbentuknya guru profesional,

Membudayakan Nilai-nilai Komitmen Terhadap Profesi
Nilai-nilai komitmen terhadap pekerjaan menjadi nilai yang vital untuk dibudayakan bagi calon pelaku profesi. Dalam membudayakan nilai-nilai komitmen ini, pendidikan harus dioptimalkan. Lembaga pendidikan memiliki peran sentral dalam upaya menanamkan dan membudayakan nilai-nilai komitmen sebelum calon-calon lulusannya siap menjadi pelaku profesi tertentu.
Sebagai seorang guru merupakan tugas mulia, karena tugas mencerdaskan kehidupan manusia, untuk keselamatan dunia dan akhirat. Menjadikan guru yang profesional tugas yang sangat sulit, karena sebagai guru harus mempunyai kepribadian, Dia harus memiliki kepribadian komplek, sikap, adab dan keteladan harus dijaga. Guru profesional berkesinambungan untuk memikul amanah yang diberikan kepadanya, dipundaknya terdapat tugas-tugas mulia. Keberhasilan guru dapat dilihat bagaimana ia mampu melahirkan generasinya. Seorang guru akan meningkatkan kompetensi diri, serta menjadikan dirinya agar senantiasa dapat diguru dan ditiru.
Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas harus didasari ikhtiar yang kuat dan diniatkan untuk ibadah kepada Tuhan-nya, sehingga melahirkan generasi yang tangguh, kuat, cerdas dan berakhlakul karimah (Budi Pekerti yang baik) dalam mengisi peradaban bangsa(***).

Related posts