Menanamkan Cinta Kebersihan di Hati Masyarakat

No comment 180 views

Oleh: Muhammad Tamimi
Wartawan Rakyat Pos/Ketua Kahmi Bateng

Muhammad Tamimi

Kegembiraan masyarakat Kota Koba sangat luar biasa setelah mengukir prestasi Piala Adipura Kota Koba Kategori Kota Kecil dari Kementerian Lingkungan Hidup RI tempo hari di Jakarta. Sebagai bentuk kebahagiaan dan prestasi, piala tersebut pun diarak keliling Kota Koba tepatnya Selasa (07/08/2017) pekan kemarin, yang dimotori Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh. Selama tujuh tahun tertunda, sudah banyak energi, materi dan keringat yang dikhlaskan sampai akhirnya Koba layak masuk nominasi. Jika diusut ke belakang, ternyata Pemkab Bateng mendaftarkan Kota Koba ikut serta ajang Piala Adipura sejak tahun 2010. Dalam rentang waktu itu, Kota Koba telah melewati banyak tantangan salah satunya faktor alam. Pada tahun 2012, prestasi Kota Koba pun belum tampak.

Baru masuk tahun 2013, usaha Kota Koba meraih Piala Adipura mulai mendapat titik terang walaupun baru sebatas mendapatkan sertifikat Adipura. Hal itu berlanjut ke tahun 2014 yang kembali meraih prestasi yang sama. Pemkab Bateng pun opitimis Piala Adipura direbut pada tahun 2015, ternyata karena faktor bencana kebakaran, akhirnya prestasi itu gagal. Terulang lagi pada tahun 2016, secara nilai Kota Koba lebih unggul meraih 74 point lebih atau diatas standar yang ditentukan penyelenggara Adipura. Lagi-lagi gagal karena bencana alam banjir. Alhamdulillah, tantangan itu pun menyerah, hingga akhirnya Kota Koba berhasil meraih Piala Adipura pada tahun 2017. Bahagianya Bupati Bateng Ibnu Saleh bukan kepalang saat pertama kali menerima piala itu dari Presiden RI Joko Widodo di Jakarta. Maklum, Piala Adipura perdana yang diraih Kota Koba dan kebetulan rezim kepemimpinan Ibnu Saleh yang belum lama dilantik sebagai Bupati.

Dalam paparannya usai kegiatan arak-akan Piala Adipura, Ibnu Saleh pun mengatakan agar masyarakat tidak terlena dengan Piala Adipura dan ia malah bergegas mencari strategi bagaimana mempertahankan piala tersebut agar bisa diraih pada tahun 2018. Menurut penulis, justeru mempertahankan lebih berat tantangannya ketimbang meraih. Ibnu juga menekankan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemkab Bateng supaya menganggarkan sebesar Rp10 juta per OPD untuk biaya pembenahan Kota Koba sekaligus Bangka Tengah secara keseluruhan. Bahkan mantan Sekda Bateng itu juga meminta dukungan dari seluruh elemen masyarakat termasuk DPRD, kepolisian, kejaksaan, Organisasi Masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, terlebih lagi pasukan kuning yang menjadi garda terdepan kebersihan agar gotong-royong mendukung mempertahankan Adipura.

Penulis menilai, Piala Adipura boleh saja dibangga-banggakan sampai di arak keliling laksamana sang raja, namun bukan untuk disombongkan, tetapi sebagai pelecut semangat bagi masyarakat Kota Koba dan Bateng umumnya, untuk lebih menciptakan lingkungan yang bersih, alami dan indah. Jangan sampai, Piala Adipura jadi “adi pura-pura” kedepan. Bahkan tanpa ada iming-iming Piala Adipura pun, kebersihan menjadi prioritas utama dan kewajiban bagi setiap kepala keluarga. Bukankah dalam Alqur’an sudah disebutkan kebersihan itu merupakan bagian dari iman. Tugas Ibnu Saleh selaku Bupati Bateng bukan saja mengajak seluruh masyarakat cinta kebersihan, namun yang lebih penting bagaimana menanamkan jiwa cinta kebersihan itu dihati masyarakat. Puncaknya, dengan sendirinya muncul kesadaran tidak buang sampah sembarangan dan menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Sosialisasi pun bukan saja mengelu-elukan masyarakat harus meraih Piala Adipura saja, tetapi sosialisasi tentang bagaimana hidup bersih dan sehat sangat perlu bagi masyarakat kendati tidak ada Piala Adipura. Jika karakter masyarakat Bateng khususnya Kota Koba sudah tumbuh menjadi pribadi cinta hidup bersih dan sehat, penulis yakin dan percaya impian meraih Piala Adipura sudah berada didepan mata sepanjang masa, tinggal waktu yang menjawabnya.(****).

 

No Response

Leave a reply "Menanamkan Cinta Kebersihan di Hati Masyarakat"