Menakar Kualitas Pemuda

No comment 241 views

Oleh : Ari Sriyanto, S.Pd.I
Guru PAI & Budi Pekerti SMA Negeri 4 Pangkalpinang

Ari Sriyanto, S.Pd.I

Tergerusnya mental, spiritual dan karakter pemuda pada era digital saat ini, memerlukan sebuah terobosan, asupan rohani dan nutrisi jiwa untuk kembali pada fitrah pemuda yang sesungguhnya yang memiliki sifat-sifat pemberani, pantang mundur, dan memiliki standar moralitas keimanan. Pemuda haruslah berkarakter khas yang berbeda dengan golongan lainnya. Di bawah ini ciri-ciri pemuda seperti tertulis dalam Al Quran.

Pemuda harus berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? sungguh dia termasuk orang yang zalim, Mereka (yang lain) berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) ini , namanya Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya: 59-60).

Pemuda harus memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua). “Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka; dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri, lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru Tuhan selain Dia, sungguh kalau berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran,” (QS. Al-Kahfi: 13-14).

Pemuda adalah seorang yang tidak mudah berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi: 60).
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa termasuk akhlak atau budi pekerti serta tabiat pemuda itu adalah:

Kualitas Diri
Hali ini bisa ditengarai dari: Pertama, quwwatan fii diinin. Yaitu kuat memegang teguh pendirian dan keyakinan, tidak mudah terpengaruh keadaan, dan tidak lemah karena cobaan. Kedua, hazman fii liinin. Tegas dalam mengambil sikap, tetapi tetap berlapang dada dan mudah menerima nasehat atau saran yang konstruktif (membangun). Ketiga, imanan fii yaqiin. Mantap dan yakin terhadap kebenaran yang diperjuangkan dan tidak ragu-ragu dalam menunjukkan kebenaran. Keempat, khirsan fii ilmin. Selalu ingin bertambahnya ilmu sebagai modal pengetahuan dan kebenaran, tidak berhenti mencari ilmu selama hayat masih dikandung badan. Kelim, hilman fii ilmin. Mempunyai sifat tekun, serta tidak mudah putus asa, hatinya sabar dan aris dalam menimba ilmu.

Berpenampilan Menarik
Yang masuk dalam kreteria ini antara lain: Pertama, qasdan fii ghinan. Mempunyai sifat sederhana dalam hidup, walaupun kaya tetapi tetap sederhana. Kedua, tajammulan fii faqatin. Selalu menjaga kebersihan walaupun dalam keadaan miskin namun tetap menjaga harga dirinya dengan merias diri (berpenampilan bersih dan rapi). Ketigat, taharrujan an thamain. Merasa berdosa dari perbuatan tamak, bisa hidup sederhana dan qanaah terhadap pembagian riski dari Allah.

Etos kerja dan Jiwa Sosial
Sebagai aplikasi kompetensi diri ini terlihat dari sifat berikut: Pertama, kasban fii halaalin. Dalam bekerja selalu memilih pekerjaan atau usaha yang halal. Kedua, birran fii istiqamatin. Tetap istiqamah, rutin dan tekun dalam melakukan kebajikan. Ketiga, nasyathan fii hudan. Trampil dan semangat dalam perjuangan, dan tidak malas. Keempat, nahyan an syahwatin. Dapat mengendalikan diri, tidak selalu menuruti kesenangan atau hawa nafsu yang tidak bermanfaat. Kelima, rahmatan lilmajhudi. Selalu memperhatikan dengan penuh kasih sayang terhadap orang yang berat menghadapi kehidupannya saat miskin. Keenam, yuriduhu yukhalithunnasa kaiya’lama wayunathiquhum kaiyaf-hama. Mau bergaul dengan masyarakat umum dengan tidak membedakan suku, ras, agama dan golongan untuk mengerti keadaan dan berdialog pada mereka untuk memahami keadaan mereka.

Taat Aturan
Pemuda sudah semestinya sadar aturan yang berlaku, diantaranya: Pertama, laa yahiifu ‘alaa man yubghidhu. Tidak menyimpang dari garis-garis kebenaran meskipun terhadap orang-orang yang selalu membuat dia marah dan geram. Kedua, laa ya’tsamu fii man yuhibbu. Cintanya kepada seseorang tidak menjadikan dia melanggar larangan agama (berbuat dosa). Ketiga, laa yudhayyi’u mastuudi’a. Tidak menyia-nyiakan titipan atau kepercayaan yang diberikan kepadanya, kalau ada titipan atau amanah akan segera disampaikan kepada yang berhak menerimanya. Keempat, indhulima wabughiya ‘alaihi shabara hatta yakuuna arrahmaanu huwalladzi yantashiru lahu. Jika dianiaya dan dibuat sewenang-wenang atas dirinya tetap sabar sampai Allah Yang Maha Pemurah menolongnya. Kelima, qani’am billadzi lahu laa yudda’i maa laisa lahu. Hanya mau menerima yang menjadi miliknya dan tidak mengakui barang yang bukan miliknya.

Hatinya Bersih
Mampu menghindarkan diri dari pengaruh penyakit hati yaitu: Pertama, laa yahsudu wa laa yath’anu wa laa yal‘anu. Tidak mempunyai sifat dengki, tidak suka menuduh jelek dan melaknat sesama orang iman. Kedua, ya’tarifu bilhaqqi wa illam yasy-had ‘alaihi. Mau mengakui kesalahan yang diperbuat walau tidak ada yang menyaksikan. Ketiga, laa tanabazu bil-alqab. Tidak memanggil saudaranya dengan pangilan yang menyakitkan hati. Keempat, laa yajmi’u filghaidh. Tidak menaruh dendam dan menyimpannya menjadi permusuhan dan kerusakan diantara orang iman. Kelima, laa yaghlibuhu asysyuhu ‘an ma’ruf. Sifat kikir dan bakhilnya tidak mencegah untuk berbuat kebaikan, walau berat adanya.

Taat Beribadah
Yang termasuk dalam sifat ini yaitu: Pertama, fii shalaati mutakhasyi’an ilaa zakati musri’an. Selalu khusyu’ di dalam shalat, dan cepat-cepat memngeluarkan zakat ketika sampai nisobnya. Kedua, filzalaazili waquuran. Tabah, sabar dan tahan uji. Duapuluhtiga, fii rakha-i syakuuran. Banyak bersyukur di waktu luang. Ketiga, syafaqatan fii miqatin. Selalu merasa khawatir dan takut jangan-jangan amal shaleh yang telah dikerjakan belum cukup untuk bekal menghadap kehadirat Allah SWT, sehingga timbul semangat untuk beramal shaleh.(****).

No Response

Leave a reply "Menakar Kualitas Pemuda"