Memupuk Jiwa Nasionalisme

  • Whatsapp

Oleh: Lina Wati
Pendidikan Agama Islam IAIN SAS Bangka Belitung

Nasonalisme merupakan suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi harus diserahkan kepada negara. Nasionalisme menjadi syarat mutlak bagi kehidupan suatu negara karena nasionalisme membentuk kesadaran rakyat bahwa loyalitas ditujukan kepada bangsa. Nasionalisme adalah konsep modern yang muncul pada abad ke-17, bersamaan dengan lahirnya konsep negara-bangsa. Di Barat (Eropa), nasionalisme muncul sebagai wujud perlawanan terhadap foedalisme (kekuasaan absolut yang dimiliki pemuka agama dan bangsawan). Menurut Ben Anderson nasionalisme adalah imajinasi sebuah kelompok yang mengandalkan suatu bangsa yang mandiri dan bebas dari kekuasaan kolonial. Definisi tersebut mewakili pengalaman negara-negara jajahan, termasuk Indonesia dan negara lainnya.

Nasionalisme berasal dari kata nation (bangsa). Bangsa adalah sekelompok manusia yang hidup dalam suatau wilayah tertentu dan memiliki rasa persatuan yang timbul karena kesamaan pengalaman sejarah, serta memiliki cita-cita bersama yang ingin dilaksanakan di dalam negara yang berbentukn negara nasional. Secara etimologis, nasionalisme berasal dari kata “natie” yang berarti dilahirkan atau keturunan, “nation” yang berarti bangsa, “national” yang berarti ciri khas yang membedakan dengan bangsa lain, dan “nasionalisme” yang berarti kebangsaan, atau “nationalist” yang berarti orang yang cinta persatuan atau bangsa. Dengan demikian, nasionalisme dapat didefinisikan menjadi dua pengertian. Pertama, nasianalisme (lama) adalah paham kebangsaan yang berdasarkan kepada kejayaaan masa lampau. Kedua, nasionalisme (modren) adalah paham kebangsaan yang menolak penjajahan untuk membentuk negara yang bersatu, berdaulat, dan demokrasi.

Pengertian pertama berlaku bagi negara-negara Eropa dan negara merdeka. Mereka merasa sebagai yang superior yang melahirkan kesombongan dan pada gilirannya menimbulkan imperialisme atau penjajahan. Sedangkan pengertian kedua berlaku bagi negara-negara yang pernah mengalami masa penjajahan. Dengan perkataan lain, nasionalisme dalam pengertian yang kedua ini lahir atau merupakan reaksi terhadap imperialisme. Pengertian nasionalisme yang kedua ini merupakan paham modern sebagai hasil dari Revolusi Perancis.

Nasionalisme dapat diartikan menjadi suatu gejala psikologis berupa rasa persamaan dari sekelompok manusia yang menimbulkan kesadaran sebagai suatu bangsa. Nasionalisme merupahan hasil dari pengaruh faktor politik, ekonomi, sosial dan intelektual yang terjadi dalam lingkungan kebudayaan melalui proses sejarah. Nasionalisme adalah perasaan satu sebagai suatu bangsa, dengan seluruh warga yang ada dalam masyarakat. Oleh karena rasa satu yang demikian kuatnya, maka dari padanaya timbul rasa cinta bangsa dan tanah air. Akan tetapi perlu diketahui bahwa rasa cinta bangsa dan tanah air yang kita miliki di Indonesia bukan yang menjurus kepada chauvinisme, yaitu rasa yang mengagungkan bangsa sendiri, dengan merendahkan bangsa lain. Jika hal ini terjadi, maka bertentangan dengan sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.Walaupu di tulis cinta bangsa dan tanah air, tidak dimaksudkan untuk chauvinisme. Dengan demikian jelaslah bahwa konsekuensi lebih lanjut dari sila kedua tadi adalah menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, yang pada akhir-akhir ini justru menunjukan segala disintegrasi bangsa. Hal ini sejalan dengan pengertian kesatuan dan persatuan bangsa.

Perlu diketahui bahwa ikatan kekeluargaan, kebersamaan di Indonesia sejak dulu sampai sekarang lebih dihormati dari pada kepentingan pribadi. Namun tentunya semangat ini bagi bangsa Indonesia mengalami dinamikanya sendiri. Kadang menjadi kuat tetapi pada suatu saat akan melemah. Pada saat ini justru nasioanalisme bangsa Indonesia, ditantang dan dalam kondisi yang agak rapuh, karena banyak dari elemen bangsa yang lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan bangsa dan negara. Misalnya, pasca kemerdekaan 1945, Soekarno membangun pendidikan yang berjiwa patriotisme. Pendidikan diarahkan untuk lepas dari penjajahan bsngsa asing dan ketergantungan dengan investasi asing. Terkenal ucapan Soekarno pada waktu itu “Go to Hell Amerika with Your Aid”, yang menegaskan bahwa bangsa kita memiliki semangat nasionalisme yang tinggi dan anti imperialisme. Namun ironis sekali pada saat ini semangat nasionalisme pemimpin negara ini sudah rontok. Lihat saja yang menjadi dasar UU Sisdiknas ini adalah untuk “Menjawab Tantangan Global.” Otonomi kampus mengakibatkan kampus-kampus negeri secara bertahap di privatisasi, dan tentu saja berdampak besar dalam segala aspeknya.

Semangat nasionalisme yang ada pada diri seseorang tidak datang dengan sendirinya, tetapi dipengaruhi oleh beberapa unsur yaitu, perasaan nasional, watak nasional, batas nasional, bahasa nasional, agama dan peralatan nasional. Nasionalisme muncul di belahan negara dunia, baik di kawasan Asia, Eropa, maupun Amerika. Akan tetapi, faktor penyebab timbulnya nasionalisme di Asia dan di Amerika berbeda. Munculnya nasionalisme di Eropa disebabkan beberapa faktor, antara lain adanya paham rasionalisme dan romantisme, terjadinya Revolisi Perancis, dan reaksi atas agresi yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte. Sedangkan munculnya nasionalosme di negara-negara Asia disebabkan adanya kenangan akan kejayaan masa lampau, imperalisme, pengaruh paham Revolusi Perancis, adanya kemenangan Jepang atas Rusia, piagam Atlantic Charter, dan timbulnya golongan terpelajar.

Pada dasarnya nasionalisme yang muncul di banyak negara memiliki tujuan, dan tujuan itu antara lain karena adanya kemauan dan kekuatan untuk mempertahankan masyarakat nasional melawan musuh dari luar negera sehingga melahirkan semangat rela berkorban, menghilangkan ekstremisme (tuntutan yang berlebihan) dari warga negara (individu dan kelompok), menumbangkan dominasi politik bangsa penjajah dan membangun negara merdeka, menghapuskan penghisapan dari praktik imperialisme atas bangsanaya dan membangun suatu sistem perekonomian nasional menuju terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial dan menghapus pengaruh kebudayaan asing yang merusak, kemudian membina kebudayaan nasional berdasar pada sintesis budaya asli dengan budaya asing yang konstruktif dan tidak bertentangan dengan budaya nasional.

Nasionalisme yang muncul di beberapa negara membawa akibat yang beraneka ragam, bahkan terkadang sangat bertentangan dengan tujuan nasionalisme itu sendiri. Nasionalisme yang ada di beberapa negara dapat menimbulkan negara nasional, peperangan, imperialisme, proteksionisme dan akibat sosial.(***).

Related posts