Memulihkan Psikologis Guru dan Siswa Pasca Bencana

  • Whatsapp

Oleh: Deddy Kurniawan, S.Kom
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat

Indonesia adalah salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang relatif sering terkena bencana alam terutama gempa bumi. Jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences yang menerbitkan penelitian Kato H dkk tentang Natural Disaster and Mental Health in Asia tahun 2004 mengemukakan bahwa letak geografis negara kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara berada di Jalur Sabuk Gempa Pasifik (Circum-Pasific Seismic Belt) dimana sekitar 81% dari gempa bumi terbesar berada di Jalur Sabuk Gempa Pasifik.

Di Indonesia tercatat sekurang-kurangnya terjadi 9 kali gempa bumi sampai dengan bulan Oktober 2018. Pada Januari 2018 terjadi gempa berkekuatan 6,1 SR dengan pusat gempa berada di Samudera Hindia pada kedalaman 64 km dan berjarak 43 km barat daya Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Setelah kejadian gempa awal tahun ini, gempa berturut -turut terjadi di Bulan April, Mei, Juni, dan Juli. Bulan April 2018 terjadi gempa berkekuatan 4,4 SR dengan pusat gempa berada di daratan pada kedalaman 4 km dan berjarak 52 km utara Kebumen. Kemudian Bulan Mei 2018, gempa bumi kembali mengguncang wilayah Kuta Badung dan Gianyar, Provinsi Bali dengan kekuatan 5 SR pada kedalaman 10 km dan berjarak 112 km barat daya Denpasar, Bali.

Bulan Juni 2018 gempa mengguncang wilayah Sumenep, Madura pada kedalaman 12 km dan berjarak 6 km Timur Laut Sumenep. Bulan Juli 2018, Wilayah Malang Raya, Jawa Timur pun tak luput dari guncangan gempa berkekuatan 5,8 SR pada kedalaman 10 km dan berjarak 161 km Tenggara Kabupaten Malang. Pada bulan yang sama, Sumbawa diguncang gempa berkekuatan 6,4 SR dengan kedalaman 10 km dan berjarak 28 km Barat Laut Lombok Timur. Beberapa minggu kemudian, Lombok diguncang gempa dengan kekuatan 7 SR dengan kedalaman 15 km dan berjarak 18 km Barat Laut Lombok Timur. Semua gempa yang terjadi di atas tidak menimbulkan tsunami namun bukan berarti tidak meninggalkan trauma psikologis bagi para korban bencana.

Bencana yang lebih dahsyat lagi terjadi baru-baru ini di kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Selain gempa berkekuatan 7,4 SR berpusat di daratan yaitu wilayah Palu Koro, Kota Palu dan Donggala juga dihantam Tsunami yang tidak hanya menewaskan ribuan korban jiwa dan kerugian materil saja, korban luka yang mengungsi pun pastinya akan mengalami syok, ketakutan, bahkan trauma psikologis akibat kehilangan keluarga, tempat tinggal, dan harta bendanya. Trauma ini, jika tidak segera dipulihkan dikhawatirkan pasca bencana para korban tidak pernah benar-benar dapat pulih secara psikologis atau mental, sehingga akan menurunkan kualitas hidup mereka dikemudian hari.

Mengambil sampel korban bencana gempa bumi di Hansin – Awaji Jepang tahun 1995 yang menewaskan 140.000 orang, Kato H dan rekan-rekannya mengemukakan fakta bahwa para korban bencana gempa bumi yang selamat menderita gangguan kecemasan, kelelahan fisik, gangguan tidur, depresi, gampang marah, kesulitan beradaptasi ditempat pengungsian, dan hipersensitif.

Para korban bencana alam tidak hanya memerlukan bantuan fisik seperti makanan, pakaian, tempat pengungsian, bantuan medis, dan bantuan-bantuan fisik yang penting lainnya. tetapi jauh dari itu semua, para korban bencana alam ini sesungguhnya sangatlah membutuhkan bantuan pemulihan kesehatan mental dari trauma global yang ditimbulkan akibat bencana. Pemulihan kondisi psikologis para korban bencana sangatlah urgen terlebih untuk guru dan siswa korban bencana sebelum mereka memulai kembali aktivitas pendidikan. Kondisi psikologis guru dan siswa yang labil dan traumatis akan mengakibatkan kegiatan pembelajaran tidak mungkin dapat berjalan dengan lancar. Secara bertahap, kondisi guru pasca bencana alam harus dipulihkan terlebih dahulu agar dapat memberikan materi pelajaran yang berkualitas kepada siswanya dan kondisi siswa pasca bencana alam pun harus dipulihkan terlebih dahulu agar dapat menerima materi pelajaran dengan baik.

Trauma Healing sebagai Terapi Pemulihan Pasca Bencana
Trauma Healing atau pemulihan trauma adalah langkah nyata untuk membantu para korban bencana untuk pulih dari kejadian yang mereka alami. Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, MHPEd, seorang psikolog klinis dari RS Pluit Jakarta mengatakan, terapi trauma healing sebetulnya diberikan dalam bentuk pendampingan konseling. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan cara mendengarkan tanpa banyak bertanya, memberikan ruang untuk menyampaikan rasa takut, memberikan ruang untuk bercerita dan meluapkan emosi setelah itu diberikan edukasi perihal informasi seputar bencana dan bantuan lain yang mereka butuhkan.

Trauma Healing sebagai suatu bentuk terapi dapat membantu para korban bencana yang mengalami trauma dan ketakutan yang tidak wajar ketika mendengar suara-suara yang menyerupai getaran, dengungan, gaung, atau suara semacamnya dengan memberikan pendampingan secara teratur agar mental korban bencana dapat pulih dengan relatif sempurna. Terhadap guru misalnya, Country Representative UNICEF Indonesia, Debora Comini mengatakan, trauma healing dapat diberikan berupa konseling dan bimbingan untuk memulai kehidupan baru, bimbingan beradaptasi dengan tempat mengajar yang baru, dan bimbingan membentuk konsep pikir guru bahwa pendidikan adalah alat utama untuk pemulihan dengan membangun kembali rutinitas harian dan membantu mengembalikan rasa normal, guru dapat menjadikan suasana bersekolah menjadi suatu bentuk ruang terapi di tengah-tengah kehancuran pasca bencana.

Proses pemulihan siswa dimulai dengan melakukan kegiatan belajar di sekolah yang berfokus pada kegiatan edukatif bersifat menghibur dan memotivasi siswa seperti membentuk kelompok bermain yang diikutkan ke dalam tenda kelas pengungsian, atau kegiatan-kegiatan kesenian menarik lainnya. Terapi psikis untuk siswa dapat dilakukan dengan metode dance therapy dan play therapy. Metode dance therapy bertujuan untuk mengekspresikan emosi anak dan metode play therapy memanfaatkan medium permainan yang bertujuan agar mereka mampu melupakan kejadian-kejadian ketika bencana dan secara perlahan dapat menumbuhkan harapan kehidupan masa depan yang lebih baik. (***).

Related posts