Mempersiapkan Generasi Muda Milenial Melalui Revitalisasi Pendidikan Vokasi

  • Whatsapp

Oleh : ROSMEDI DAME MANIK, S. Th
Guru SMA Negeri 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka

Tantangan zaman yang semakin besar dan persaingan semakin ketat sudah semestinya disadari oleh generasi muda. Dalam menghadapi tantangan zaman demikian itu, maka perlu adanya perbaikan dan peningkatan mutu pendikan. Untuk mendukung kemajuan pendidikan pemerintah perlu semakin meningkatkan pendidikan dan pelatihan guna mendukung permintaan pasar kerja hingga mobilitas pekerja professional yang semakin dibutuhkan dengan untuk menghadapi zaman milenial yang mana persaingan untuk mendapatkan peluang kerja semakin sulit. Pengembangan pendidikan dan pelatihan bertujuan mendukung peningkatan harmonisasi dan kualitas pendidikan vokasi. Demikian pesan yang disampaikan dalam Dialog Kebijakan Regional ke-5 tentang pendidikan dan pelatihan teknik dan kejuruan (technical and vocational education and training/TVET) bertajuk “Tren and Inisiatif terbaru untuk meningkatkan TVET di Asean”. Acara yang digelar Sekretariat ASEAN dan Deuche Gesellchaft fur Internationale Zusammenarbeit/DGIZ, dihadiri sekitar 50 perwakilan Kementerian Pendidikan dan Tenaga Kerja, pembuat kebijakan, praktisi TVET dari Negara-negara ASEAN dan ahli dari Jerman. (Kompas, 30 Maret 2017).

Sebelumnya, pertemuan tersebut, Presiden Joko Widodo memberikan amanat kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy (Menteri Kabinet Kerja Jilid I) untuk meningkatkan kualitas pendidikan di bidang vokasi. Ada tiga isu penting yang menjadi pembahasan berkaitan dengan pendidikan vokasi, yaitu: Pertama, rencana pemberian sertifikasi bagi sekolah menengah kejuruan (SMK) dan siswanya; Kedua, peluang kerja sama magang di perusahaan internasional; dan Ketiga, rencana pelatihan bertaraf internasional bagi siswa pendidikan vokasi. “Pendidikan vokasi sudah jadi bagian fokus arah kebijakan pendidikan kita dengan menekankan pada penyiapan lulusan vokasi sesuai dengan kebutuhan ketenagakerjaan,” kata Muhadjir pada penutupan World Culture Forum 2016 di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/10/2016).

Revitalitasi Pendidikan Vokasi
Gagasan pendidikan vokasi sudah lama menjadi wacana pemerintah. Menteri Pendidikan era Wardiman menggalakkan konsep pendidikan link and match (keterkaitan dan kesepadanan) dengan dunia kerja (industry), dan dilaksanakan dengan tepat oleh institusi pendidikan tinggi dan dunia usaha/industri. Konsep link and match dalam praksis pendidikan tidak berjalan dengan baik, sehingga lulusan lembaga pendidikan kita, baik menengah dan pendidikan tinggi banyak yang menganggur, belum terserap dalam pasar kerja karena kurangnya keahlian dan keterampilan untuk bekerja.

Dengan revitalisasi, pendidikan vokasi menjadi urgen, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menggali potensi daerah dan memperkuat daya saing bangsa pada pasar global. Berdasarkan Statistic Biro Tenaga Kerja Amerika Serikat 2013, tujuh tahun mendatang di seluruh dunia akan terbuka 6,2 juta lowongan kerja di bidang komputasi awan berbasis teknologi. Dari 6,2 juta lowongan pekerjaan tersebut, sekitar 51 persen di antaranya pekerjaan di bidang komputer, 27 persen di bidang teknik, dan 18 persen di bidang lain yang terkait komputasi awan berbasis teknologi, (Kompas, 18 November 2015). Revitalisasi pendidikan vokasi berbasis teknologi seperti penguasaan Information Technology (IT), sebagaimana Pendidikan dan pelatihan teknik dan kejuruan perlu diperkuat di Indonesia.

Dengan digulirkannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2016, persaingan usaha dan tenaga kerja akan semakin sengit. Beberapa persyaratan umum harus dimiliki sebuah negara supaya produk barang dan jasa bisa bersaing antar negara. Negara Indonesia haruslah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan kompetitif. Para pekerja profesional harus menyiapkan diri dengan baik, jika tidak, mereka akan kalah bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain. Revitalisasi pendidikan vokasi menjadi sangat strategis dilakukan agar mampu menghasilkan SDM yang siap menghadapi persaingan merebut peluang kerja pasar global yang semakin ketat.

Revitalisasi pendidikn vokasi diharapkan dapat mendorong dunia usaha dan industri mampu bersaing di pasar global. Revitalisasi harus dilakukan dengan mengedepankan kualitas, dan harus berangkat dari apa yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri. Untuk itu, koordinasi dari berbagai kementerian dan lembaga hingga pemerintah daerah pun harus sinergis agar pendidikan vokasi dapat menjadi andalan menopang pertumbuhan ekonomi dan memperkuat daya saing bangsa. Diantaranya yang kini sedang dijajaki ialah mengirim praktisi dari India untuk mengajari para siswa Indonesia mengenai kompetensi pendidikan vokasi.

Memperkuat Basis Keungulan Daerah
Program revitalisasi pendidikan vokasi semakin dibutuhkan untuk mempersiapkan SDM sesuai dengan kebutuhan dunia usaha, industri di berbagai daerah, dan sesuai dengan potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia. Negara kita memiliki potensi SDA yang berbeda – beda, maka penyiapan SDM juga bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Link and match tidak hanya menyangkut lembaga pendidikan dengan dunia industri dan usaha, tetapi juga dengan potensi sumber daya alam agar dapat dikelola agar memiliki nilai tambah secara ekonomi. Sumber daya alam kita cukup melimpah; baik pertanian, mineral, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Industri di bidang tersebut sangat berpeluang untuk dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mengacu pada potensi ekonomi Indonesia, seperti bidang pertanian, gas bumi, pariwisata, maritim atau perikanan dan kelautan, maka pendidikan vokasi dapat menjadi andalan untuk peningkatan ekonomi bangsa Indonesia. Sekolah harus memiliki program studi terarah dan spesifik sesuai dengan pontensi daerah di tanah air. Perlu dilakukan revitalisasi politeknik untuk menjamin tersedianya tenaga kerja berkualitas secara merata di tanah air sesuai dengan keunggulan potensi daerah masing-masing.

Dalam era otonomi daerah, pemerintah daerah sangat diharapkan keterlibatannya dalam penyelenggaraan pendidikan, program pendidikan beroreintasi ke dunia kerja (professional). Harus disadari bahwa SDM yang berkualitas adalah aset terbesar dari setiap daerah. Institusi pendidikan adalah wadah untuk mencetak SDM yang berkualitas dimasa yang akan datang. Jadi, investasi di bidang pendidikan khususnya profesional harus menjadi perhatian dari pemerintah daerah agar dikemudian hari dapat menghasilkan SDM yang berkualitas tinggi. Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah memberikan seluas-luasnya wewenang pengelolaan pendidikan kepada pemerintah daerah untuk memajukan daerahnya. Pemerintah daerah dengan kekuasaan otonominya seharusnya mengetahui dengan pasti apa keunggulan daerahnya. Berdasarkan produk keunggulan daerahnya, maka dibangun kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Misalnya Provinsi Bangka Belitung memiliki aset wisata yang bagus yaitu Pantai, maka pemerintah daerah fokus pada pembangunan kompetensi keahlian yang berbasis pariwisata. Di bidang perikanan wilayah perairan laut Bangka juga termasuk penghasil ikan yang banyak, maka dalam hal ini pemerintah daerah harus membangun kompetansi keahlian dalam pengolahan ikan maupun hasil laut yang lainnya. Di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusat budaya dan juga kerajinan furniture, dibangun kompetensi yang berbasis kerajinan furniture agar menghasilkan produk yang lebih baik sehingga memiliki nilai juag yang tinggi.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya hampir setiap wilayah yang ada di Indonesia sesungguhnya memiliki berbagai karakteristik potensi, misalnya: kelautan, perikanan, pertanian, kehutanan, perdagangan, dan lain sebagainya. Sudah saatnya revitalisasi pendidikan vokasi dilaksanakan berbasis keunggulan daerah. Sebab tujuan pendidikan nasional tidak hanya mengacu kepada kepentingan nasional, tetapi juga harus memperhatikan kearifan lokal yang dimiliki setiap daerah. (***).

Related posts