Mempersiapkan Gen Z dan Gen A untuk Mampu Bersaing di Era-nya

  • Whatsapp

Oleh : Teguh Pribadi
Kasubbag Penilaian Kinerja, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Kep. Bangka Belitung

Pada era tahun 1980-an, masyarakat yang mampu menikmati pendidikan hingga tingkat S1 (sarjana) masih sangat sedikit, dan mungkin hanya dari kalangan masyarakat tertentu saja yang memiliki kesempatan menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Bahkan para pencari kerja (joob seeker) sudah mampu memperoleh pekerjaan yang bergengsi dengan penghasilan yang sangat lumayan pada masa itu, seperti pegawai negeri sipil, pegawai di perusahaan-perusahaan milik negara, ataupun karyawan perusahaan di sektor swasta, hanya dengan berbekal ijasah SMA atau bahkan ijasah SMP saja. Generasi yang merasakan indahnya masa-masa itu adalah Generasi Baby Boomers yang lahir pada tahun 1946 hingga 1965.
Kemudian beranjak ke masa tahun 1990-an, dimana kegiatan pembangunan hampir di segala bidang yang semakin baik, memunculkan perekonomian yang semakin baik pula. Tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia yang lebih baik ketimbang era 1980-an, sejalan dengan kualitas hidup masyarakatnya yang semakin meningkat. Para orang tua di masa itu mulai memiliki kesadaran bahwa hanya dengan pendidikan mereka mampu keluar dari jerat lingkaran kemiskinan (poverty trap) untuk generasi keturunan keluarga mereka di masa yang akan datang.
Pada tahun 1994, Pemerintah Indonesia mencanangkan Program Wajib Belajar 9 tahun yang disampaikan oleh Presiden Suharto pada momen peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1994, yang bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara melalui pendidikan yang lebih baik. Kualitas pendidikan khususnya tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) memperoleh perhatian yang optimal dari Pemerintah pada masa pertengahan hingga akhir era 1990-an.
Dari sisi angkatan kerja di penghujung era 1990-an, penduduk usia pencari kerja telah banyak yang memiliki ijasah hingga tingkat Sarjana. Kondisi lapangan pekerjaan saat itu, mulai menuntut kompetensi yang lebih tinggi dari hanya sekedar lulusan SMA saja, yaitu dengan rekruitmen yang mempersyaratkan pekerja dengan spesifikasi minimal berijasah sarjana. Pada masa itu, untuk meningkatkan competitiveness, generasi di masa itu, berlomba untuk menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang S1. Para orang tua pun berjuang sekuat tenaga menyekolahkan anaknya hingga selesai jenjang S1. Alhasil, terjadi peningkatan yang sangat signifikan jumlah sarjana dimulai pertengahan era 1990-an, yaitu sekitar tahun 1995 bahkan semakin tahun terus berlipat kenaikan jumlah lulusan S1. Meski demikian, adanya gap antara jumlah angkatan kerja dengan kapasitas lapangan pekerjaan yang tersedia masih selalu menjadi isu yang hampir dialami oleh setiap generasi.
Di akhir era 1990-an tepatnya tahun 1998 terjadi krisis moneter dan krisis ekonomi khususnya di negara Asia begitupun di Indonesia, bahkan masih terasa dampaknya hingga awal era 2000-an. Hal tersebut menyebabkan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dalam jumlah yang sangat besar. Kompetisi di kalangan usia kerja pun semakin sengit, di masa yang sulit itu mereka berlomba-lomba meningkatkan keunggulan kompetitif (competitive advantage) masing-masing, salah satunya melalui peningkatan jenjang pendidikan dari semula hanya lulusan S1 ditingkatkan menjadi lulus S2. Tujuannya adalah agar mereka mampu bersaing dengan para kompetitornya, di tengah daya serap lapangan pekerjaan yang semakin memburuk dikarenakan efek krisis moneter dan krisis ekonomi tahun 1998.
Di mulai dari momen itulah, mulai muncul kesadaran yang lebih dari masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat magister/master. Ketertarikan masyarakat kepada program-program magister dengan berbagai minat dan jurusan pada perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia semakin meningkat. Hal ini pun sekali lagi menjadi pendorong bagi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya yaitu generasi Y (generasi yang lahir antara tahun 1977 – 1995) sampai jenjang S2, tentu dengan segala konsekuensi biaya yang harus dihadapinya. Sejak saat itu, semakin tahun peningkatan jumlah lulusan magister/master terus meningkat jumlahnya secara progresif.
Faktanya, pada kisaran tahun 2009 s.d. 2012, banyak dijumpai lulusan S1 fresh graduate yang mempunyai prioritas bukan untuk langsung bekerja melainkan segera melanjutkan ke jenjang magister dengan alasan untuk meningkatkan standar gaji yang akan diterimanya nanti saat melamar pekerjaan dengan menyandang gelar S2. Begitupun dunia pekerjaan, akan sangat banyak dijumpai kualifikasi pekerjaan dalam proses rekuitmen mempersyaratkan pelamar kerja harus minimal memiliki pendidikan S2.
Siklus ini akan terus berjalan hingga di jenjang doktoral (S3), dimana 10 s.d. 20 tahun kedepan yaitu mulai tahun 2030 jumlah lulusan program doktoral akan “menjamur” meramaikan bursa pencarian lowongan kerja yang akan semakin kompetitif. Lapangan pekerjaan yang bersifat manual (handmade) akan semakin banyak berkurang, yang muncul adalah profesi yang membutuhkan kualifikasi analisis, konsep, kreator, dan konsultan dimana hal tersebut sesuai dengan kompetensi seorang lulusan S3.
Hal ini sangat mungkin terjadi dikarenakan proses perkembangan automasi, robotisasi, digitalisasi serta komputerisasi di seluruh sektor, dimana sebagian besar proses produksi akan dilakukan dengan bantuan teknologi digital, mesin, dan akses internet, sehingga yang dibutuhkan pada masa itu adalah profesi-profesi semacam software programer, konseptor/designer hardware, konsultan robotic, bisnis navigator dan creator/inventor (penemu).
Hingga suatu saat akan ada titik jenuh, yaitu kondisi dimana kemampuan berinteraksi dengan orang lain (interpersonal skill), kecerdasan spiritual (spiritual intelligence), kecerdasan emosi (emotional intelligence), dan kepemimpinan (leadership) akan lebih bernilai ketimbang segala bentuk formal akademis yang dimiliki. Kondisi inilah yang akan dihadapi oleh Gen Z ( generasi yang lahir antara tahun 1996 – 2010) dan Gen A (generasi yang lahir antara tahun 2010- hingga sekarang).
Untuk itu, bagi para orang tua yang saat ini tengah memiliki anak generasi Z atau generasi A, maka mempersiapkan kebutuhan akan pendidikan formal setinggi-tingginya adalah hal yang sangat baik. Namun, jangan lupa untuk membekali anak dengan interpersonal skill, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosi, dan sikap kepemimpinan. Hal itu lebih penting, karena di masa mereka nanti memasuki dunia kerja softcompetency tersebut lah yang paling penting dibandingkan dengan kemampuan formal akademis. Sudahkah kita mempersiapkan mereka (Gen Z dan Gen A) untuk mampu bersaing di era-nya? (***).

Related posts