Memperkuat Iman di Bulan Ramadhan

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi

Mahbub Zarkasyi

Alhamdulillah, hari ini kita telah memasuki bulan suci Ramadhan 1438 Hijriyah. Hari ini kita sudah mulai menunaikan kewajiban Shaum Ramadhan. Semoga seluruh kaum muslim bersungguh-sungguh dalam menunaikannya.
Banyak kaum muslim memanfaatkan momentum Ramadhan dalam meningkatkan amal ibadahnya. Setiap akhir bulan Sya’ban, kaum muslim sibuk mengejar hilal awal Ramadhan hingga mencari tempat-tempat strategis untuk melihat secara langsung bulan baru tersebut atau menunggu pengumuman resmi awal Ramadhan dengan siaga satu untuk melaksanakan Shalat Sunnah Tarawih perdana.
Ada juga yang menanfaatkan sahur dan ifthar (buka puasa) perdana bersama keluarga. Suka-citanya kaum muslim dalam menyambut bulan Ramadhan perlu kita apresiasi. Bulan awal turunnya Al-Qur’an, bulan yang ibadah dilipat-gandakan pahalanya dan bulan yang di dalamnya terdapat malam Laila al-Qadar (malam yang lebih baik dari 1000 bulan). Ramadhan menjadi bulan ibadah bagi setiap muslim.
Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang terdapat di bulan Ramadhan, tentulah mereka mengharapkan agar seluruh bulan adalah bulan Ramadhan,” [HR. Ibnu Huzaimah].
Suasana yang berbeda dari bulan-bulan biasanya, ketika di bulan Ramadhan kaum muslimin mampu menahan lapar dan haus dari sebelum Shubuh hingga masuk waktu Maghrib. Lihatlah bagaimana kita biasanya yang sarapan pagi hari, siang harinya sudah terasa lapar dan kita bersegera makan siang. Kaum muslim pun harus ekstra menahan syahwat termasuk kepada istrinya pada siang hari. Dan ketika perintah berperang (jihad) di jalan Allah datang pada bulan suci Ramadhan pun, kaum muslim tetap menunaikannya.
Pemain sepak bola muslim di Eropa, mereka harus tetap bermain bola pada siang harinya, namun tetap bisa bermain bola selama 90 menit walau harus tanpa makan dan minum karena dalam keadaan berpuasa.
Sungguh, Allah lah yang memberikan rasa lapar dan haus, dan Allah pula lah yang memberikan kekuatan dan energi yang kadang diluar kebiasaan kita. Mereka yang bersunguh-sungguh menunaikan kewajibannya, tentu karena tuntutan Aqidahnya. Tuntutan Aqidah ini tentu membuat banyak orang melakukan penelitian betapa keberkahan Ramadhan menaungi orang-orang yang menjalankannya, walaupun dengan bersusah payah.
Benarlah firman Allah SWT berikut ini, “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” [TQS. Al-Baqarah: 286].
Dan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku…” [HR. Turmudzi].
Kaum muslim yang menunaikan apa-apa yang Allah wajibkan atas mereka, hingga mereka pun sanggup untuk melakukannya. Tentu mereka menunaikannya karena diluar kebiasaan manusia, dimana di bulan Ramadhan kaum muslim harus menahan lapar dan haus pada siang harinya dalam kurun waktu satu bulan penuh. Walaupun mereka tetap melakukan kewajiban yang lain, seperti shalat, puasa, bayar zakat, atau umrah di bulan Ramadhan hingga berjihad (berperang) melawan musuh-musuh Allah di bulan suci ini. Kaum muslim sanggup tentu karena mereka selalu berprasangka baik kepada Allah yang membuatnya sanggup pula menahan lapar dan haus selama satu bulan penuh.
Namun lihat orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah. Mereka berfikir tidak sanggup menahan lapar dan haus selain menunaikan aktivitas yang lainnya, hingga tak berpuasa di bulan Ramadhan, tidak pula menggantinya di bulan-bulan lainnya. Atau mereka yang berhijab di bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan membuka hijabnya lagi. Mereka berhijab di bulan Ramadhan, karena tuntutan peran pada suasana Ramadhan sebagaimana publik figur, sehingga mereka tak bisa melanjutkan berhijab di bulan-bulan lain setelah Ramadhan. Tuntutan berhijab di bulan Ramadhan karena tuntutan peran, maka mereka pun membuka hijabnya diluar Ramadhan karena harus berperan tanpa hijab bukan tuntutan Aqidah mereka.
Sungguh manusia bergantung pada pemikirannya tentang sesuatu. Maka mari luruskan persepsi kita tentang kewajiban kepada Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Kita yang mencintai sesuatu, tentu berbeda sikap dengan sesuatu yang kita membencinya. Atau sebaliknya kita pun respon, akan berbeda dengan sesuatu yang kita tidak memiliki perasaan apapun tentang sesuatu. Kita yang bertemu dengan orang tua yang kita cintai, tentu berbeda sikap ketika kita bertemu dengan orang yang kita benci. Oleh karenanya, luruskan persepsi kita, tentang kewajiban menunaikan perintah Allah, karena kebutuhan kita akan Ridha dan Syurga-Nya sebagai hamba-Nya.
Begitu juga kita meninggalkan apa-apa yang Allah larang, karena kita takut akan azab neraka-Nya di akhirat nanti. Persepsi ini akan mengantarkan kita akan selalu taat terhadap setiap perintah hingga bersegera melaksanakannya dan bersungguh-sungguh meninggalkan larangan-Nya.
Dalam hal ini, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka,” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Khatimah
Bulan Ramadhan dimana kita bersungguh-sungguh melaksanakan perintah, baik ibadah sunnah ataupun yang difardlukan kepada kita dengan kuantitas lebih banyak, tentu harusnya bisa mempengaruhi ibadah kita di bulan lainnya. Khatam baca al-Qur’an hingga 2 kali atau lebih, shalat sunnah Tarawih yang sangat banyak rakaatnya, harusnya mampu kita lakukan di bulan lainnya karena kita tidak sedang berpuasa siang harinya. Bulan Ramadhan dimana kita bisa menjauhi maksiat, harusnya bisa kita lanjutkan berhenti dari maksiat di bulan-bulan setelahnya.
Semoga Ramadhan kali ini bisa menjadikan kita lebih baik dari bulan-bulan lainnya. Mari kita memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa-dosa kita, hingga kita meninggalkan Ramadhan dalam keadaan tidak berdosa lagi dan penuh dengan amal shalih.
Mulai sekarang luruskan persepsi kita kepada Allah dan kita yakin bisa melakanakan perintah Allah setelah Ramadhan nanti, baik ibadah sunnah maupun yang wajib sebagaimana di bulan Ramadhan. Allahu’alam bishawab. [MZiS]

Baca Lainnya

Related posts