Meminimalisir Risiko Penularan Covid-19 saat Pelaksanaan Kurban

  • Whatsapp
Agus Purnama
Pelaksana Pada Disbudpar Prov. Kep. Babel.

Umat muslim di seluruh penjuru dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah pada akhir Juli nanti. Seperti biasanya setiap perayaan Idul Adha selalu identik dan ditandai dengan pelaksanaan ibadah kurban. Namun ibadah kurban bagi umat muslim di 2020 Masehi, sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dikarenakan saat ini, masih terjadi penularan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di tengah masyarakat Indonesia. Bahkan hingga tanggal 23 Juni 2020, dilansir dari covid19.go.id, jumlah orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di wilayah NKRI telah menembus di angka 47.896 yang merupakan data akumulatif dari 34 provinsi dan 442 kabupaten/kota di bumi pertiwi.

Untuk mengantisipasi terjadinya penularan Covid-19 di momen perayaan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah di akhir Juli nanti, Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 0008/SE/PK.320/F/06/2020 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban Dalam Situasi Wabah Bencana Non Alam COVID-19 yang ditandatangani Direktur Jenderal (Dirjen), I Ketut Diarmita, tertanggal 8 Juni 2020.

“Harapannya, lewat Surat Edaran ini, pelaksanaan kegiatan kurban di tengah situasi pandemi tetap berjalan optimal dengan mempertimbangkan aspek pencegahan dari persebaran Covid-19,” ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI. (Nugroho Meidinata : 13 Juni 2020).

Fokus utama dari Surat Edaran ini, Kementan RI menekankan tentang pentingnya pelaksanaan kurban dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan sebagai pedoman atau acuan guna pelaksanaan kurban dengan penyesuaian pada tatanan baru ditengah wabah pandemi Covid-19, agar proses pelaksanaan kurban dalam situasi wabah infeksi Coronavirus bisa berjalan secara optimal dan tentunya tetap memprioritaskan pencegahan dan penyebaran Covid-19.

Baca Lainnya

Pemerintah RI melalui Kementerian Pertanian, menekankan agar masyarakat mengurangi risiko penyebaran virus corona terhadap kegiatan kurban, seperti pada saat penjualan hewan kurban hewan kurban Idul Adha. Aspek mitigasi ini menitikberatkan pada saat proses penjualan hewan kurban dan pemotongan hewan kurban Idul Adha. Aktivitas yang dilakukan pada tahapan mitigasi penjualan hewan kurban Idul Adha tersebut yaitu harus menjaga jarak, penerapan hygiene personal, pemeriksaan kesehatan awal dan pelaksanaan kebersihan dan sanitasi. Sementara itu, kegiatan pemotongan hewan kurban Idul Adha membutuhkan pembinaan dan pengawasan dari pemerintah, dinas pertanian di tingkat kabupaten dan kota serta instansi terkait lain. Selain itu, Kementan mengimbau masyarakat atau organisasi keagamaan dalam pelaksanaan pembinaan dan pengawasan hewan kurban Idul Adha tersebut berkoordinasi dengan instansi yang membidangi fungsi kesehatan dan instansi yang membidangi fungsi keagamaan. (Syamsul Azhar : 24 Juni 2020).

Berikut ini, aturan yang harus diterapkan dalam berkurban saat Idul Adha 1441 Hijriyah/2020 masehi di tengah pandemi Covid-19, yakni : Pertama, Menjaga jarak saat berinteraksi saat kegiatan kurban; Kedua, Menghindari perpindahan orang antar wilayah saat kegiatan kurban; Ketiga, Kebersihan setiap orang dan tempat kurban harus diperhatikan; Keempat, Penjualan hewan kurban harus dilakukan ditempat yang telah mendapat izin dari pimpinan daerah setempat; Kelima, Penjualan hewan kurban harus melibatkan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), BAZNAS atau organisasi dan lembaga amil zakat lainnya; Keenam, Penjualan hewan kurban harus memakai Alat Pelindung Diri (APD) minimal masker, baju lengan panjang, dan sarung tangan selama berjualan; Ketujuh, Setiap orang yang masuk ke lokasi penjualan hewan kurban harus mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer terlebih dahulu; Kedelapan, Penjual dan pembeli harus dalam kondisi sehat dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari Puskesmas atau rumah sakit; Kesembilan, Menghindari bersalaman atau bersentuhan langsung; Kesepuluh, Setelah pulang dari lokasi kurban, masyarakat wajib mandi dan membersihkan diri; Kesebelas, Saat pemotongan hewan kurban harus jaga jarak, kebersihan, dan mengenakan masker atau face shield; dan yang Kedua belas, Petugas pemotongan hewan kurban diimbau untuk tidak merokok, meludah, dan memperhatikan etika bersin serta batuk selama pemotongan hewan.(Nugroho Meidinata : 13 Juni 2020).

Semoga dengan diterbitkannya Surat Edaran di tengah situasi pandemi Covid-19 yang masih melanda wilayah NKRI, akan memudahkan semua lapisan masyarakat, khususnya umat Islam di Tanah Air terkait pelaksanaan ibadah kurban tahun ini. Sehingga dari perkotaan hingga pelosok desa, dari Aceh hingga Papua dapat menunaikan ibadah kurban dan tentunya tetap harus mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah RI, guna meminimalisir potensi atau risiko terjadinya penularan infeksi Covid-19 dikarenakan aktivitas dan interaksi sosial masyarakat pada saat pelaksanaan kurban tersebut.(***).

Related posts