Memimpikan Demokrasi Pancasila yang Madani

  • Whatsapp

Oleh: Ahmad Yusuf
Alumni Sosiologi UBB / Awardee Beasiswa LPDP RI 2016

Ahmad Yusuf

Dewasa ini, hampir seluruh Negara di dunia menerapkan sistem demokrasi. Sistem pemerintahan ini, dipercaya sebagai suatu basis bagi Negara untuk menciptakan kondisi bangsa yang adil dan beradab. Demokrasi umumnya memiliki dua bentuk dasar. Keduanya menjelaskan cara rakyat menjalankan keinginannya. Bentuk demokrasi yang pertama adalah demokrasi langsung, yaitu semua warga negara berpartisipasi langsung dan aktif dalam pengambilan keputusan pemerintahan. Yang kedua, demokrasi perwakilan, mayoritas Negara demokrasi modern, memposisikan rakyat sebagai satu kekuasaan berdaulat namun kekuasaan politiknya dijalankan secara tidak langsung melalui perwakilan. Konsep demokrasi perwakilan muncul dari ide-ide dan institusi yang berkembang pada Abad Pertengahan Eropa, Era Pencerahan, dan Revolusi Amerika Serikat dan Perancis.
Demokrasi itu sendiri, secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu (demos) yang bermakna rakyat dan (kratos) yang bermakna kekuasaan. Secara garis besar demokrasi dapat disimpulkan sebagai sistem pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Oleh sebab itu, sistem kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Jika menilik sistem demokrasi Indonesia era ini, Indonesia menerapkan sistem demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Saat ini, demokrasi di Negara Garuda ini sedang diuji, banyak problematika sosial terjadi disebabkan sikap keakuan atau primordialisme berlebihan yang dapat memecahkan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan beragamnya kebutuhan dan kepentingan manusia yang semakin kompleks, sehingga memunculkan konflik sosial tiada berujung. Untuk itu hendaknya, kondisi demokrasi ini harus diimbangi pula dengan nilai masyarakat yang “ madani “. Lalu, apa pula masyarakat madani itu ?
Masyarakat madani, merupakan suatu kondisi masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya. Dawam Rahardjo mendefinisikan masyarakat madani sebagai proses penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai-nilai kebijakan bersama. Masyarakat madani sejatinya tercipta dan terbentuk melalui totalitas kesadaran masyarakat untuk membangun masyarakat yang beradab. Pada hakikatnya, masyarakat madani menjadi sebuah parameter peradaban dari suatu bangsa. Setidaknya, ada beberapa ciri atau karakteristik dari masyarakat madani menurut Bahmuller (1997), yaitu: Pertama, terintegrasinya individu dan kelompok eksklusif ke dalam masyarakat dengan kontak sosial dan aliansi sosial. Kedua, menyebarkan kekuasaan sehingga kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif. Ketiga, terjembataninya kepentingan individu dan Negara karena keberdaan organisasi-organisasi voluntir mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. Keempat, meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri. Keenam, adanya kebebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai perspektif.
Selain beberapa ciri di atas, salah satu cara untuk menciptakan masyakat madani yaitu dengan kembali berpedoman pada Pancasila sebagai cara pandang ( Way of Life ) dalam hidup bermasyarakat di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Bagaimanapun juga, perlu diingat kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, merupakan hasil perjuangan dan tetesan keringat darah para pahlawan kala itu. Saat itu, Negara ini menjadi Negara terjajah di Era kolonialisme, banyak rakyat menderita, susah mendapatkan pendidikan, sumber daya alam terus dikeruk oleh penjajah bahkan susah untuk mengeluarkan aspirasi. Namun, semua itu akhirnya berhasil ditebus oleh para pahlawan Garuda yang tersebar dari Sabang sampai Marauke tanpa pandang agama, ras, suku dan etnis bersatu untuk memperjuangkan satu kata “ Merdeka “ hingga akhirnya kita bisa merasakannya sampai saat ini.
Tidak hanya itu, para pendiri Negara ini ( Founding Father ) pun telah memikirkan bagaimana cara untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang multikultural ini. Kemudian, atas kesepakatan bersama ( Modus Vivendi ), lahirlah “ Pancasila “ sebagai simbol pemersatu bangsa yang plural ini. Isi dari Pancasila pun telah dipertimbangkan secara matang sebelum mereka mencetuskannya yang beberapa kali mengalami amandemen atau perubahan guna menciptakan persatuan di Negara Indonesia tercinta.
Sila Kesatu isinya Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajak kita untuk memilih keyakinan sesuai dengan pilihan masing-masing. Sila Kedua berisi Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, menghimbau kita agar saling menghormati satu sama lainnya tanpa pandang bulu, baik tua maupun muda, Islam, Kristen, Hindu ataupun Budha, Jawa ataupun Sumatera. Sila Ketiga berbunyi Persatuan Indonesia, memiliki arti kita harus bersatu dalam kondisi apapun, sebab kita satu terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika. Sila Keempat dituliskan dengan Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, yang mana menuntun kita untuk mengutamakan mufakat dalam pengambilan keputusan. Sila Kelima yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang mengajak bangsa ini untuk berlaku adil terhadap sesama.
Untuk itu hendaknya, saat terjadi konflik sosial seperti konflik antar agama maupun antar kelompok, terlebih dahulu kita sorot kembali bagaimana perjuangan para pahlawan dari seluruh nusantara membela dan membawa Negeri ini hingga merdeka. Sudah saatnya kita bernaung di bawah kepakan sayap Sang Garuda yang berlandaskan Pancasila. Dengan demikian impian Negara Indonesia menjadi Negara yang berdemokrasi Pancasila yang Madani seharusnya bukan hanya melalui pelafalan yang tersurat dalam teks-teks tertulis, melainkan Pancasila juga harus tersirat melalui pengamalan dari nilai-nilai Pancasila dan mengakar dalam sanubari para perindu Negeri yang madani dan beradab. (****)

Related posts