by

Memfungsikan Kembali Badan Sensor Film

-Opini-228 views

Oleh: Heni Agus Fitriani, S.Pd.
Guru SMP N 2 Pangkalpinang

Heni Agus Fitriani, S.Pd.

Apa yang dilihat di televisi apa yang didiskusikan di meja makan saat keluarga makan malam, ternyata sangat menentukan karakter generasi yang akan datang. Dulu, ketika awal mula televisi ditemukan di 1927, televisi hanya untuk menerima pesan bergambar. Di abad sinetron ketika orang yang dianiaya adalah pahlawan, televisi menjadi semacam kotak Pandora – kotak yang berisi wabah penyakit dalam mitologi Yunani.

Infotaiment yang menggarap ruang privat (pribadi) untuk dibuka di ruang publik (masyarakat luas), memiliki andil dalam pembentukan dan penghilangan karakter bangsa, Kalau setiap hari masyarakat hanya melihat perselingkuhan, kemewahan, mudahnya nikah dan cerai, pengaruhnya sangat besar terhadap kehidupan sehari-hari.

Ironinya, sebagian besar waktu anak-anak banyak habis di depan televisi ketimbang berdiskusi bersama orang tua mereka. Televisi sudah menjadi semacam guru bahkan ulama bagi anak-anak. Ideologi yang dibawa televisi masuk dengan bebas, ke kamar tidur dan ruang keluarga. Yang lebih dari separuh adegan televisi tak mendidik, isinya hanya seputar kekerasan, seks, dan kriminal. Justru yang tak mendidik itulah yang laku di masyarakat. Lantas bagaimana berharap televisi memberi pendidikan yang baik untuk membentuk karakter bangsa?

Para produser mestinya berani berlawanan dengan tren, yang dikendalikan oleh telivisi yang mengejar rating, seperti memberi syarat tertentu seperti ada unsur mistik, seks, dan lainnya. Terkadang sebuah film yang mutunya bagus dengan misi membangun karakter bangsa, tapi kalau film tersebut tidak menarik iklan, maka pihak televisi serta-merta menghentikan penayangannya tanpa memperdulikan kerugian produser.

Produser biasanya tidak berkutik jika pihak televisi secara sepihak menghentikan penayangan sebuah serial sinetron akibat tidak menarik iklan setelah dua-tiga episode. Dan jika pihak produser protes atau mempersoalkan, maka produser bersangkutan dicampakkan begitu saja oleh pihak TV.

Meski begitu, para produser memiliki peluang luas untuk berkreasi dengan munculnya banyak televisi swasta, kendati di sisi lain tantangannya luar biasa berat, terutama dalam misi membangun karakter bangsa. Untuk menampilkan karakter bangsa sebaiknya menampilkan wajah-wajah lokal di pentas film internasional, dengan demikian film mampu membawa misi budaya. Agar pembentukan karakter bangsa bisa berhasil melalui layar kaca, Badan Sensor Film harus difungsikan kembali.

Pendidikan Formal Untuk Membangun Karakter Bangsa berupa nilai kebangsaan, kejuangan, nasionalisme telah ada dan sudah dipelopori oleh para pendiri bangsa, yang diwujudkan Indonesia dapat memimpin Konferensi Asia Afrika pada 1955, bahkan Indonesia turut mendirikan dan memimpin Gerakan Non Blok, serta peran bangsa Indonesia dalam PBB khususnya perdamaian dunia.

Namun, karaker bangsa akhir-akhir ini nampak seperti “benang mengendor”, untuk mengencangkannya kembali butuh pendidikan formal yang berorientasi terhadap pembentukan karakter bangsa. “Semisal mata pelajaran pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), praktik perilaku yang memberikan keteladanan sesuai karakter bangsa Indonesia baik oleh pejabat, tokoh masyarakat dan tokoh agama, serta melalui seni lagu-lagu perjuangan.

Penguatan karakter bangsa juga telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, ketika membangun masyarakat madani di Madinah pada abad 7 Masehi. Di mana saling bantu, peduli sesama, saling menghormati, kerukunan, dan toleransi ditumbuhkan terus di tengah masyarakat Madinah yang tercerai-berai lantaran peperangan antar suku.

Dia menambahkan, pendidikan sebagai sebuah proses sepanjang hayat memiliki empat kaitan yang terpadu, yakni pertumbuhan, perubahan, pembaruan dan kesibambungan. Namun ke-4 kaitan tersebut saat ini nampak ada kesenjangan, sehingga menjadi tugas seluruh komponen bangsa Indonesia untuk menguatkan empat kaitan tersebut agar Indonesia menjadi maju, mandiri dan sejahtera.

Pendidikan karakter amat penting, semua komponen bangsa menginginkan lahirnya manusia Indonesia yang berakhlak mulia, berbudi pekerti, dan berperilaku baik, serta memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad, dan energi yang kuat, dengan pikiran positif dan sikap yang optimis, serta dipenuhi rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.

Bangunlah pendidikan yang berdasarkan atas kondisi sosial budaya, adat istiadat, agama, dan tradisi. Jadikanlah pendidikan sebagai sumber kekuatan pembangunan masa depan. Tanpa iu pendidikan tidak akan bisa memenuhi harapan bagi peserta didik, masyarakat, dan negara.

Pendidikan harus menggunakan pendekatan lebih humanis. Yaitu pendekatan yang mengatur keseimbangan antara head (rasio), heart (perasaan) dan hard (keterampilan). Untuk membangun pendidikan yang paling penting bukanlah mendirikan gedung megah, tetapi proses pendidikan yang berlangsung secara menyenangkan, mengasikkan, sekaligus mencerdaskan.

Pendidikan seperti ini, hanya bisa dilakukan jika lembaga pendidkan itu tumbuh dan berkembang di atas basis masyarakat, agama, tradisi, dan akar sosial budaya. Pendidikan juga harus bisa membekali peserta didik dengan ilmu yang sesuai dengan zamannya. Peserta didik tidak akan hidup di masa sekarang, tetapi akan menjadi generasi masa depan.(****).

Comment

BERITA TERBARU