Membudayakan Masyarakat dengan Literasi

  • Whatsapp

Oleh: M. Syaiful Anwar, SH., LL.M  Dosen FH UBB/ Anggota PWPM Bangka Belitung

Read More

 

Buku adalah jendela dunia, merupakan sebuah adagium penuh makna mendalam yang secara komprehensif terwujud dalam sebuah pengembangan ilmu pengetahuan yang tercermin pada budaya masyarakatnya, tidak terkecuali di Indonesia. Budaya membaca atau literasi di Indonesia secara umum sangat kurang dalam pelaksanaan dilapangan. Hal tersebut terbukti dengan hasil polling dari Programme International Student Assessment (PISA) yang merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia, pada tahun 2018 Indonesia mendapatkan urutan ke 74 dari 79 negara (www.detik.com/berita.survei-kualitas-pendidikan). Hal ini sangat mengejutkan khalayak ramai bahwa rendahnya tingkat kualitas pendidikan di Indonesia menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah sekarang, salah satunya untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui budaya literasi masyarakat di Indonesia yang harus ditingkatkan. Perlu dilakukan perubahan pada pola atau sistem pendidikan di Indonesia.

Secara mendasar, pendidikan di Indonesia termaktub dalam Tujuan Negara Indonesia yang secara tertulis ada dalam rumusan tujuan negara yaitu “….mencerdaskan kehidupan bangsa…”. Hal ini membuktikan bahwa negara secara mutlak bertanggungjawab atas pendidikan masyarakatnya guna mendapatkan bibit unggul untuk keberlangsungan roda pemerintahan. Pendidikan merupakan salah satu poin besar dalam kemajuan suatu bangsa. Pembangungan sebuah negara berawal dari pembangunan sumber daya manusianya (SDM) dengan mempertimbangkan aspek budaya, teknologi, ekonomi dan aspek lain dari negara tersebut. Negara secara nyata melakukan pembenahan dalam setiap lini pendidikan dari pra sekolah sampai perguruan tinggi guna memenuhi tujuan negara tersebut, dan hal itu harus dimulai dengan budaya literasi dan membudayakan literasi.

Konsep Literasi secara harfiah berhubungan dengan kata berbahasa yang merujuk pada kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tindakan keahlian tertentu yang diperlukan sehari-hari. Oleh beberapa ahli, diksi literasi memiliki beberapa makna. Menurut Merriam Webster, kata Literasi berasal dari istilah latin “literature” dan bahasa inggris “letter”, yang secara nyata bisa ditafsirkan bahwa literasi merupakan kualitas atau kemampuan “melek” huruf atau aksara yang didalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.  Menurut UNESCO, yang diambil dari laman www.dkampus.com, memberikan pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya dan juga pengalaman. Dalam penjelasannya UNESCO memberikan pandangan bahwa kemampuan literasi adalah hak setiap orang dan merupakan hak dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu.

Dalam konteks kekinian, budaya literasi yang secara utuh harus dihadapkan pada pola pikir dan kemampuan masyarakat, khususnya Indonesia agar mau dan mampu untuk bersaing dengan negara lain melalui ilmu pengetahuannya. Literasi sebagai bahan dasar meningkatnya derajat negara beserta masyarakatnya melalui dunia literasi. Kehidupan literasi bermuara pada sebuah lembaga tingkatan pendidikan tinggi yang sering disebut sebagai perguruan tinggi. Dalam perguruan tinggi, para pengajar (Dosen) dan para siswanya (mahasiswa), melakukan sebuah pengembangan dan proses interaksi antara mahasiswa dengan dosen yang berada pada suatu lingkungan belajar yang membangun budaya literasi secara tersistem dalam sebuah kurikulum.

Budaya literasi yang harus dibangun dan dibudayakan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang dalam Pasal 11 ayat ke (10), yang pada intinya bahwa karakteristik proses pembelajaran di pendidikan tinggi berpusat pada mahasiswa dengan capaian pembelajran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kreativitas, kapasitas, kepribadian dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan. Hal ini yang menjadikan literasi menjadi salah satu unsur penting dalam membangun peradaban.

Dalam membangun peradaban melalui budaya literasi yang unggul dan berdaya saing maju, diperlukan sarana dan prasarana yang saling mendukung satu dengan yang lainnya serta memiliki sumber data yang ter-update setiap saat. Menurut hemat penulis, terdapat beberapa langkah atau usaha yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas mahasiswanya dengan mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya yaitu: a) Lingkungan belajar yang representatif dan kondusif; untuk menunjang proses belajar mengajar di lingkungan kampus; b) Melakukan Focus Group Discussion (FGD); hal ini diperlukan dalam mata kuliah tertentu untuk melatih pemahaman materi lebih mendalam dengan mengkombinasi data atau transformasi keilmuan yang terbaru (ter up-date); c) Adanya praktik langsung yang didampingi oleh dosen atau guru sesuai kompetensinya; pendampingan diperlukan agar mahasiswa bisa lebih runut dan runtun dalam mendapatkan informasi terkait data atau informasi tersebut; d) Membangun budaya literasi secara utuh dan sejak awal; budaya pemahaman tentang keilmuan harus saling mendukung dan melengkapi antara teori dan praktik, hal ini juga berpeluang untuk peningkatan mutu sumber daya manusia untuk membangun sebuah peradaban maju; e) Keberlanjutan praktik belajar mahasiswa yang harus dijaga; hal mempertahankan semangat belajar mahasiswa yang harus dijaga agar mendapatkan pengetahuan secara langsung serta pengalaman untuk bekal pasca lulus dari lembaga pendidikan.

Pendidikan, khususnya pendidikan tinggi itu merupakan unsur penting yang harus menjadi perhatian negara secara khusus, karena membangun sebuah peradaban manusia diawali dengan membangun manusianya itu sendiri. Konsep manusia berkemajuan dan unggul merupakan sebuah keniscayaan melalui pembangunan mental dan pengetahuan, sehingga sumber daya manusianya semakin terasah yang menuju pada negara yang manusianya sejahtera melalui ilmu pengetahuan dengan literasi sebagai budaya masyarakat dan membudayakan masyarakat dengan literasi. (*)

Related posts