Membudayakan 4R dalam Usaha Pelestarian Lingkungan Hidup

  • Whatsapp

Oleh: Yulietta Kristina
Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UBB

Jargon “Buanglah Sampah pada Tempatnya” tentu sudah merupakan rahasia bagi kita semua. Jargon ini berisi ajakan untuk tidak membuang sampah disembarangan tempat dan membuangnya di tempat yang telah disediakan, yaitu tempat sampah. Sampah adalah benda yang tak asing lagi dalam kehidupan kita. Di jalan raya, di trotoar, dan ditempat-tempat umum kadang kita bisa menjumpainya. Selain itu sampah juga merupakan salah satu masalah lingkungan hidup.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, setiap 1 orang menghasilkan 2,5 liter sampah per hari. Bayangkan betapa banyaknya sampah yang dihasilkan jutaan orang Indonesia perharinya. Apalagi di daerah perkotaan yang mempunyai kepadatan penduduk dan tingkat konsumsi yang tinggi. Sampah yang menumpuk tentu tak sedap dipandang. Belum lagi masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat tumpukan sampah yang dibiarkan begitu saja tanpa diolah. Hal ini patut menjadi perhatian pemerintah serta masyarakat untuk mengolah sampah yang kian hari kian menumpuk. Volume sampah yang semakin tinggi tentu membutuhkan lahan untuk tempat pembuangan sampah serta biaya-biaya pengelolaan sampah yang tentu saja membutuhkan biaya tidak sedikit.
Jika hal di atas tidak dapat tertangani, tentu berdampak pada penurunan kualitas lingkungan hidup. Selain itu, gas metana yang berasal dari tumpukan sampah turut andil dalam peningkatan angka pemanasan global atau biasa kita kenal sebagai efek rumah kaca (Global Warming). Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan hidup harus kita tanamkan sejak dini, dimulai dari diri sendiri. Kita dapat memulainya dari hal sederhana yang dapat kita lakukan sendiri di rumah seperti memilah sampah sesuai dengan jenisnya.
Sampah dibedakan kedalam lima jenis, dengan warna tempat sampah yang berbeda untuk mempermudah dalam pemilahan dan pengolahannya. Tempat sampah berwarna kuning untuk sampah anorganik yang diperuntukkan bagi sampah yang tidak mudah terurai seperti gelas-gelas plastik, kantong plastik, dan lain-lain. Tempat sampah berwarna hijau diperuntukkan bagi sampah dari makhluk hidup seperti dedaunan, ranting, sayur-sayuran, dan lain-lain. Tempat sampah berwarna merah untuk sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti obat nyamuk, baterai, wadah tinta printer, dan bola lampu. Tempat sampah berwarna biru diperuntukkan untuk sampah-sampah kertas, dan terakhir tempat sampah berwarna abu-abu untuk jenis sampah residu seperti rokok dan pembalut.
Pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya tentu mempermudah dalam pengolahan dan penanganan sampah serta mempermudah proses daur ulang sampah. Setelah di pilah dan dibuang pada tempat sampah sesuai dengan jenisnya, sampah dapat diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). TPA dibuat sebagai tempat memproses sampah, sehingga aman jika dikembalikan ke media lingkungan. Selain memilih dan memilah sampah sesuai dengan jenisnya, langkah lain yang dapat kita lakukan adalah menerapkan budaya (Reuse, Reduce, Recycle and Replace (4R) untuk membantu pengurangan dan pengolahan sampah.
Reuse artinya, menggunakan kembali barang-barang yang tidak terpakai untuk mengurangi sampah. Contohnya, menggunakan ember bekas sebagai pot untuk menanam bunga dan menggunakan kembali kaleng-kaleng bekas sebagai tempat menaruh alat-alat tulis seperti pensil, penghapus, spidol, dan pulpen. Reduce artinya, usaha meminialisir sampah dengan mengurangi penggunaan benda-benda sekali pakai. Contohnya membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi penggunaan sampah plastik serta membawa botol air minum sendiri sehingga mengurangi sampah botol air mineral.
Recycle artinya, mendaur ulang. Kita dapat mendaur ulang kembali jenis sampah organik seperti dedaunan kering, ranting-ranting kayu kecil, serta sisa-sisa sayur dan buah untuk diolah menjadi pupuk kompos. Dan terakhir adalah Replace yang artinya, mengganti barang-barang yang digunakan dengan barang yang lebih ramah terhadap lingkungan. Contohnya menganti botol air mineral sekali pakai dengan menggunakan botol air minum yang dapat digunakan berulang-ulang. Tentu semua hal ini sangat mudah kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin kita sering mempraktikkannya, kegiatan memilah dan mengolah sampah tentu akan mejadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan kebiasaan baik yang berdampak baik juga terhadap lingkungan. Dengan membudayakan 4R, berarti kita turut berpartisipasi aktif dalam usaha pelestarian lingkungan hidup. Lingkungan hidup yang sehat dan terjaga tentu membuat hidup menjadi sehat. (***).

Related posts