Memberikan Pendidikan Politik Praktis bagi Pemilih Pemula

  • Whatsapp

Oleh: Risky Ramanda
Staf Dewan Pendidikan Prov. Kep. Bangka Belitung

Pendidikan politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika dikaitkan dengan partai politik, pendidikan politik bisa diartikan sebagai usaha sadar dan tersistematis dalam mentransformasikan segala sesuatu yang berkenaan dengan perjuangan partai politik tersebut kepada massanya agar mereka sadar akan peran dan fungsi, serta hak dan kewajibannya sebagai manusia atau warga negara.
Pemahaman masyarakat hingga saat ini, masih banyak yang beranggapan bahwa sistem politik itu bukan urusan mereka melainkan urusan pemerintah, sehingga masyarakat masih ada yang dibodoh-bodohi atau diberikan janji – janji manis. Dalam realitanya atau penerapannya tidak sesuai dengan yang telah dijanjikan ketika sudah berhasil terpilih (duduk).
Pengembangan pendidikan politik masyarakat sebagai bagian pendidikan politik yang merupakan rangkaian usaha untuk meningkatkan dan memantapkan kesadaran politik dan kenegaraan, guna menunjang kelestarian Pancasila dan UUD 1945 sebagai budaya politik bangsa. Pendidikan politik juga merupakan konsep bagian dari proses perubahan kehidupan politik yang sedang dilakukan dewasa ini, dalam rangka usaha menciptakan suatu sistem politik yang benar-benar demokratis, stabil, efektif dan efisien.
Oleh karena itu, memilih bukan kesadaran sendiri, tetapi mengikuti pilihan tokohnya. Pendidikan politik ini, berfungsi untuk memberikan isi dan arah serta pengertian kepada proses penghayatan nilai-nilai yang sedang berlangsung. Dalam filosofi pendidikan, belajar merupakan sebuah proses panjang seumur hidup. Artinya, pendidikan politik perlu dilaksanakan secara berkesinambungan agar masyarakat dapat terus meningkatkan pemahamannya terhadap dunia politik yang selalu mengalami perkembangan.
Menurut pandangan Penulis, pembelajaran pendidikan politik yang berkesinambungan diperlukan, mengingat masalah-masalah di bidang politik sangat kompleks dan dinamis. Pendidikan politik bagi generasi muda sejak dini amatlah vital dalam mendukung perbaikan sistem politik di Indonesia. Dan juga para remaja yang masih duduk di bangku sekolah harus diberikan pemahaman tentang fungsi dan tugas Parpol, Presiden dan Anggota Legislatif DPR dan DPD.
Di era milenial saat ini, masih banyak masyarakat khususnya para pemilih pemula yang tidak tahu tentang peran dan tugas para legislatif baik DPR dan DPD. Hal ini sangat disayangkan, karena tahun ini, tepatnya pada 17 April 2019, kita akan menjalankan pesta demokrasi di Indonesia, khususnya di Bangka Belitung, mulai dari pemilihan Presiden, DPR, dan DPD. Jika banyak dari masyarakat yang tidak memahami fungsi dan tugas para aktor politik tersebut, bagaimana Indonesia dan Bangka Belitung bisa mendapatkan pemimpin yang bisa memimpin masyarakat dan mewakili rakyat dengan benar.
Atas hal di atas, Penulis juga beranggapan bahwa money politik akan terus meningkat dan membabi buta. Karena masyarakat, khususnya para pemilih pemula di era milenial tidak memiliki pendidikan politik yang sangat baik. Seharusnya, pendidikan politik bisa didapatkan oleh para pemilih pemula atau pelajar di mata pelajaran IPS atau Kewarganegaraan (PPKN).
Jika para pemilih pemula atau pelajar tidak lagi mendapatkan pendidikan politik melalui mata pelajaran, maka ada yang harus dibenahi dalam dunia pendidikan kita saat ini. Mengingat para pemuda saat ini, mereka selalu dipadatkan dengan aktivitas sekolah mulai dari pagi hingga sore (Full Day School). Maka, mereka akan sedikit mendapatkan pengetahuan melalui orang tuanya tentang pendidikan politik. Dan dengan adanya pendidikan yang layak, maka pelajar atau pemilih pemula setidaknya bisa memahami sedikit tentang politik praktis dan juga mengetahui peran dan fungsi dari pada aktor politik tersebut.
Tapi nyatanya, semakin berada pada era milenial para pelajar atau pemilih pemula semakin apatis dengan keadaan politik di Indonesia. Di Bangka Belitung misalnya, sikap apatis yang dimiliki para pelajar saat ini sangat tinggi. Di sekitar Penulis sendiri, banyak para pemilih pemula yang tidak memahami sistem politik dan sedikit pula dari mereka yang mendapatkan pendidikan politik baik di sekolah maupun di rumah. Hal ini juga bisa dipacu oleh kemajuan teknologi yang disalah gunakan. Para pemilih pemula selalu menggunakan teknologi untuk bermain game dan aktivitas yang tidak bermanfaat lainnya. Seharusnya, mereka bisa mendapatkan pemahaman tentang pendidikan politik melalui internet. Namun, orang tua juga harus selalu memberikan pengawasan, arahan dan pemahaman kepada anak-anaknya terhadap pendidikan politik praktis ketika berada di rumah.
Selain orang tua, pihak sekolah dan Stakeholder lainnya pun harus selalu bekerjasama dalam memberikan pemahaman atau pendidikan politik kepada para pemilih pemula, misalnya diluar mata pelajaran harus adanya sosialisasi atau seminar yang dilaksanakan dalam memberikan pemahaman tentang politik praktis. Kemudian, dengan banyaknya ilmu yang diserap oleh pemilih pemula tentang pendidikan politik, maka mereka bisa berpartisipasi dengan sangat baik. Sehingga pada pesta demokrasi di tanggal 17 April 2019 nanti, para pemilih pemula bisa memilih tanpa bingung dengan tugas dan fungsi dari pada aktor-aktor politik yang berlaga.(***).

Related posts