Memberi Peluang Kaum Penggagas Bersuara

  • Whatsapp
Rusmin
Penulis Buku tinggal di Toboali

Penulis sempat tersentak, bahkan tersentak ketika seorang teman menarasikan frasa ngerucen (Bahasa Toboali : Mengganggu/Membuat ulah/Menyusahkan). Teman tadi menyatakan dirinya enggan untuk menyampaikan gagasan pembangunan jalan penghubung karena dikhawatirkan akan disebut sebagai perucen. Apalagi di instansi tersebut ada keluarganya yang mengabdi disana.

Penulis sangat menyayangkan sikap skeptis dan putus asa dari sahabat tadi yang merupakan pemikir daerah dan berjuang untuk masyarakat. Bagaimana tidak, ide yang dilontarkannya sangat baik bahkan bermanfaat bagi masyarakat ramai. Soal gagasan dan ide itu tak diterima pihak terkait tentunya perlu dialog untuk menemukan titik pandang yang sama. Bukankah sama-sama berjuang untuk kepentingan masyarakat.

Terkadang, banyak pemikir daerah dan penggagas mati suri karena ulah Pemerintah yang terkadang ngotot untuk menggolkan visi misinya tanpa mengedepankan suara-suara yang berkembang di masyarakat. Padahal suara berkembang di masyarakat yang digagas kaum pemikir dan kelompok peduli daerah sangat baik untuk diimplementasikan dalam bentuk kebijakan riil, mengingat tujuannya sama. Yakni untuk kepentingan masyarakat ramai.

Pada sisi lain mempromosikan daerah tidak cukup dengan hanya menulis di kolom Time Line media sosial. Tidak cukup itu. Sangat tidak cukup. Perlu implementasi yang tentunya memakan waktu, menguras tenaga bahkan kantong. Perlu jaringan yang mumpuni di tingkat nasional. Perlu jalinan persahabatan yang kuat dan mengkristal. Dan tidak bisa dengan tiba-tiba daerah tereskalasi ke tingkat nasional bahkan jadi perbincangan di tingkat nasional. Apalagi sampai ke telinga pembuat kebijakan dan pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini. Sangat memakan waktu yang panjang, bahkan teramat panjang, dan melelahkan.

Baca Lainnya

Penulis sangat bangga (walaupun dalam hati sangat malu), ketika seorang sahabat di sebuah daerah dengan bangga memamerkan kedatangan seorang Menteri ke daerah asalnya. Penulis sangat iri bahkan teramat iri dengan sepak terjang sahabat tadi. Apalagi kedatangan Menteri tersebut mampu membantu pembangunan daerah tempatnya bertempat tinggal. Mengucurkan dana besar dari APBN untuk pembangunan daerahnya. Hanya frasa hebat dan luar biasa yang hanya bisa penulis sampaikan buat teman tadi.

Disisi lain, terkadang kurang responnya pemerintah daerah terhadap gagasan dan ide dari kaum penggagas daerah membuat kawan-kawan penggagas gagasan mati suri dan bersikap skeptis. Sebagaimana beberapa tahun lalu, penulis (mohon maaf yang tulus) yang menulis time line di media Twitter milik Wakil Menteri Era Presiden SBY mendapat respon. Ibu Wakil Menteri tersebut langsung menelpon seorang Kepala Dinas di sebuah Dinas di pemda.

Penulis mendengar tak ada tindak lanjut dari pembicaraan telepon itu. Tidak ada. Hanya menjadi sebuah judul berita di koran. Hanya itu. Padahal momentum langka bahkan teramat istimewa itu, kalau ditindaklanjuti tentunya akan bernasib lain. Minimal dana APBN akan mengalir deras untuk pembangunan di dinas itu. Tak perlu menguras dana APBD.

Ke depan, tampaknya pemerintah daerah perlu memberi ruang kepada kaum penggagas gagasan untuk ikut bersuara dan menyampaikan gagasannya dalam menentukan arah pembangunan kebijakan daerah yang bisa terumuskan dalam kebijakan dan implementasi dalam postur APBD. Dukungan dari Pemda tentu amat dibutuhkan para kaum penggagas daerah ini untuk ikut serta membangun daerah demi kepentingan masyarakat.

Penulis sangat percaya dan yakin akan kemampuan para penggagas gagasan daerah ini. Mereka kaum muda yang berpengetahuan dan cerdas. Jaringan mereka bagus, bahkan hingga ke tingkat nasional. Saatnya mereka diberdayakan untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah, mereka bukan ngerucen. Mereka ingin berbakti buat daerahnya sebagai warisan untuk anak-anak mereka kelak, walaupun mereka tidak ada dalam pemerintahan. Saatnya bergagasan untuk daerah dan memberi nilai daya saing yang riil bagi daerah. (***).

Related posts