Membentengi Keluarga dari “Predator Anak”

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Pengamat Sosial Politik

Alghi Fari Smith, SST

Pedofilia atau dalam hal ini penulis menyebutnya sebagai “predator anak”, merupakan sejenis penyakit kelainan seksual yang cenderung menyukai usia anak-anak sebagai sasaran pelampiasan seksnya (bentuk aktivitasnya adalah sodomi). Penyakit ini, sudah lama ada dan baru sekarang mulai kembali ramai dibicarakan kembali di media massa baik cetak maupun elektronik. Pembaca yang budiman (berbudi dan beriman), kasus kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa deret panjang kasus sodomi alias predator anak yang pernah terjadi, yaitu terungkapnya kasus sodomi yang terjadi di JIS (Jacarta International School). Selain itu,  terungkap juga kasus sodomi di Sukabumi dengan pelakunya bernama Emon. Jumlah anak yang menjadi korban sodomi dari pelaku Emon ini seiring waktu penyelidikan berlangsung oleh pihak kepolisian diungkap ada kurang lebih sekitar 110-an anak. Bahkan di tahun 2010 lalu, kasus pedofilia yang disertai kasus pembunuhan dan mutilasi menimpa empat belas anak jalanan di Jakarta. Pelakunya adalah Babe Baikuni yang dikenal dengan sebutan ‘Babe’.
Menurut data laporan kepada Komnas Perlindungan Anak, pada tahun 2011 ada 2.509 laporan kekerasan dan 59% nya adalah kekerasan seksual. Sepanjang tahun 2012, Komnas PA telah menerima 2.637 laporan kasus kekerasan terhadap anak. 62 persen di dalamnya atau 1.700 laporan adalah kasus kekerasan seksual berupa sodomi, perkosaan, pencabulan, dan incest. Tahun 2013, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Bareskrim Mabes Polri mencatat sepanjang tahun 2013 sekurangnya terjadi 1600 kasus asusila mulai dari pencabulan hingga kekerasan fisik pada anak-anak.
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, dari data tersebut perhatian lebih serius perlu diberikan kepada masalah kekerasan seksual yang dialami anak-anak. “Kasus kekerasan seksual yang menimpa anak sudah sangat memprihatinkan karena menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Kalau tidak ada tindakan tegas, bukan tidak mungkin kasus serupa akan terus berkembang,”tandas, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (KPA) saat dihubungi Kompas.com, Minggu (24/2/2013). 
Dr. Asrorun Niam Sholeh, Ketua Divisi Sosialisasi KPAI, menyebut beberapa faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual terhadap anak.  Pertama, faktor moralitas dan rendahnya internalisasi ajaran agama serta longgarnya pengawasan di level keluarga dan masyarakat. Kedua, faktor permisifitas dan abainya masyarakat terhadap potensi pelecehan seksual. Ketiga, faktor kegagapan budaya dimana tayangan sadisme, kekerasan, pornografi, dan berbagai jenis tayangan destruktif lainnya ditonton, namun minim proses penyaringan pemahaman. Keempat, faktor perhatian orang tua dan keluarga yang relatif longgar terhadap anaknya dalam memberikan nilai-nilai hidup yang bersifat mencegah kejahatan pelecehan seksual. 
Pembaca yang budiman, pelecehan seksual terhadap anak dapat mengakibatkan dampak negatif jangka pendek dan jangka panjang, termasuk penyakit psikologis di kemudian hari. Dampak psikologis, emosional, fisik dan sosialnya meliputi depresi, gangguan stres pasca trauma, kegelisahan, gangguan makan, rasa rendah diri yang buruk, kekacauan kepribadian.  Juga menyebabkan terjadinya gangguan psikologis, gangguan syaraf, sakit kronis, perubahan perilaku seksual, masalah sekolah/belajar, dan masalah perilaku termasuk penyalahgunaan obat terlarang, perilaku menyakiti diri sendiri, kriminalitas ketika dewasa bahkan bunuh diri.
Selain itu juga ada dampak mengerikan lainnya yaitu siklus pedofilia, abused-abuser cycle. Ihshan Gumilar, peneliti dan dosen Psikologi Pengambilan Keputusan menjelaskan, yaitu berawal dari korban (abused) pelecehan seksual di masa kecil, lalu tumbuh dewasa jadi orang yang memakan korban (abuser). Orang yang jadi korban pelecehan seks saat kecil, saat dewasa berpotensi menjadi pelaku sodomi (predator anak). Itulah yang terjadi pada ZA salah satu tersangka pelaku sodomi di JIS yang pada usia 14 tahun disodomi oleh William James Vahey, seorang pedofil buronan FBI yang pernah mengajar di JIS selama 10 tahun. Itulah siklus pedofil menghasilkan pedofil baru. 
Pahami Akar MasalahPembaca yang budiman, kebanyakan orang yang membahas soal paedofilia, sodomi, hanya fokus di ranah akibat dan sanksi sedangkan yang membahas soal penyebab hanya sedikit. Kalau pun dibahas, itu bukan dari akarnya melainkan dari cabangnya. Pantas saja, kasus serupa terus muncul. Seharusnya, kasus ini diselesaikan dari akarnya, lalu ke sanksinya, kemudian juga pencegahan serta mental recoverinya. 
Fenomena “predator” anak ini tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai hidup yang salah yang telah berkembang di masyarakat.  Selain itu, faktor lainnya yaitu dikarenakan kemiskinan, rendahnya pendidikan, kurangnya perhatian orangtua kepada anak, sanksi hukum yang tidak memberikan efek jera pada pelaku “predator anak”. Semua faktor tersebut tidak berdiri sendiri. 
Sebagian pihak memandang bahwa penyebab utama dari kejahatan anak ini adalah kemiskinan dan kerusakan moral di kalangan anak.  Padahal kemiskinan dan kerusakan moral juga hanya ekses atau masalah cabang.  Jika kita telaah secara seksama, kekerasan seksual pada anak sesungguhnya adalah masalah yang diakibatkan oleh paham sekuler yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. SolusiAda tiga pilar yang dapat dimaksimalkan peranannya dalam menyelesaikan masalah predator anak di atas, yaitu pilar individu dan keluarga, masyarakat dan negara. Setiap individu memiliki kontrol diri bernama iman dan takwa yang akan membimbing individu membedakan mana baik dan buruk serta membedakan mana yang boleh dilakukan dan tidak. 
Selain itu, peran keluarga berperan penting menjadi benteng dari predator anak. Keluarga merupakan madrasah pertama pendidikan anak. Di dalam keluargalah tempat pertama kali anak mengenal dan belajar nilai-nilai. Orangtua yang paham agama bisa mengajarkan sistem pergaulan Islam pada anak sedari kecil, seperti menutup aurat, mengenalkan rasa malu, memisahkan kamar tidur anak, dan sebagainya. Mengingat pentingnya peran keluarga, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan keluarga.
Pembaca yang budiman, seringkali meningkatnya kasus predator anak disebabkan lemahnya kontrol sosial masyarakat. Keadaan ini, bila terus dibiarkan lama akan melahirkan suatu budaya yang disebut dengan budaya permisivisme, yaitu budaya yang serba membolehkan atau memaklumi aktivitas haram dan budaya merusak lainnya.
Peran strategis masyarakat sangat diperlukan dalam upaya menciptakan lingkungan yang ramah anak. Ketahanan sosial masyarakat akan tercipta bila setiap anggota masyarakat memiliki sense of belonging terhadap lingkungan dan masalah yang ada di dalamnya. Masyarakat akan secara otomatis dan kompak mencegah bila mulai terlihat tanda-tanda predator anak mulai mencari”mangsa” di lingkungan tempat tinggalnya. 
Hal sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat, yaitu menegur dan menasihati serta melakukan pembinaan (melalui tokoh masyarakat dan agama) bila ada gelagat aneh dari seseorang atau sekolompok orang yang mendekati anak yang sedang bermain di lingkungannya. Aktivitas aneh tersebut bisa dalam bentuk memegang bagian tubuh anak yang tersembunyi di dalam pakaian dan lain-lain.  Kalau masih tidak direspon dengan baik, maka bisa laporkan ke RT hingga ke aparat yang berwenang.Anak-anak yang menjadi korban sodomi akan direhabilitasi dan ditangani secara khusus untuk menghilangkan trauma dan menjauhkan mereka dari kemungkinan menjadi pelaku pedofilia baru nantinya. Peran pekerja sosial dalam hal ini sangat membantu dalam memberikan edukasi melalui kampanye atau sosialisasi bahaya predator anak dan bagaimana kiat-kiat pencegahan kejahatan para predator anak. 
Salah satu gambaran dari kegiatan ini, yaitu dengan mengenalkan kepada para orang tua dan anak tentang berbagai sentuhan (sentuhan yang dibolehkan dan sentuhan yang tidak boleh pada anak) melalui gerakan dan menyanyi sebagaimana yang dicontohkan oleh Bunda Ely Risman, seorang aktivis peduli keluarga dan anak. Hal ini diharapkan membuat anak nyaman, mudah mengingat dan mengamalkannya. Untuk korban sodomi, pekerja sosial berperan dalam memulihkan kondisi psikososialnya. Berbagai teknik dan metode pertolongan praktik pekerja sosial dapat diterapkan. Mulai dari pendekatan casework, group work hingga community development disesuikan dengan need assesment terhadap korban.
Sebagai pelengkap dan sekaligus penentu efektif dan efisien program/ kegiatan di atas, negara harus meningkatkan perannya memerangi para predator anak. Negara memainkan peran pembinaan terhadap rakyatnya. Setelah melakukan pembinaan dan pencegahan terhadap kasus predator anak dan masih terjadi perbuatan kaum nabi luth tersebut, negara baru menjatuhkan hukuman tegas dan memberikan efek jera terhadap para penganiaya dan pelaku kekerasan seksual terhadap anak. 
Di dalam Islam, rincian hukuman untuk pelaku pedofilia sebagai berikut; (1) jika yang dilakukan adalah perbuatan zina, hukumannya adalah hukuman untuk pezina (had az zina), yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) atau dicambuk seratus kali jika bukan muhshan; (2) jika yang dilakukan adalah liwath (homoseksual), maka hukumannya adalah hukuman mati, bukan yang lain; (3) jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta’zir. (Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul ‘Uqubat, hlm. 93). Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang akan melakukan kekerasan seksual terhadap anak akan berpikir beribu kali sebelum melakukan tindakan.
Negara memaksimalkan perannya dalam mencegah masuknya isme dan budaya yang bertentangan dan membahayakan kehidupan masyarakat seperti liberalisme, sekulerisme, homoseksualisme dan sejenisnya dari saluran mana pun. Media massa, buku, bahkan orang asing yang masuk sebagai turis atau pedagang dilarang membawa atau menyebarkan hal tersebut. Bila mereka melanggar, dikenakan sanksi.
Langkah-langkah ini, akan menyelesaikan masalah kekerasan terhadap anak secara efektif dan efisien. Anak-anak dapat tumbuh dengan aman, menjadi calon-calon pemimpin, calon-calon pejuang dan calon generasi terbaik. Oleh karenanya, kita harus meyakini bahwa Islam memberikan solusi dan sebagai seorang muslim yang ingin mendapatkan ridho Allah SWT sudah selayaknya menjalankan syariah Islam secara kaaffah (keseluruhan) dalam kehidupan sehari-hari sebagai benteng terpenting melindungi anggota keluarga dari predator anak. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam (secara) keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaithon. Sesungguhnya Syaithon itu musuh yang nyata bagimu.” QST. Al Baqoroh: 208. Wallohu’alam [****].

No Response

Leave a reply "Membentengi Keluarga dari “Predator Anak”"