by

Membentengi Diri dengan Akhlak Mulia

Oleh: Dessy Fitriyani, S.Pd.I
Guru PAI & Budi Pekerti SMPN 2 Pangkalpinang

Dessy Fitriyani, S.Pd.I

Kemajuan peradaban bukan hanya pencapaian teknologi maha canggih, namun juga keteraturan sosial. Bila demikian, masyarakat madani yang diimpikan adalah sebuah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan, menghormati pluralitas, bersikap terbuka dan demokratis, serta bergotong royong menjaga kedaulatan negara.

Sekiranya wajar manusia selalu berharap masa depan sebagai masa yang lebih baik, teknologi yang lebih maju, kehidupan yang lebih nyaman dan lebih memudahkan. Demikianlah yang terjadi hingga saat ini. Tahun demi tahun, manusia mengembangkan teknologi, sehingga hidup manusia lebih nyaman dan mudah. Setelah ribuan tahun menunggang kuda, saat ini manusia mengendarai kendaraan yang lebih cepat. Telepon genggam yang dulu cuma ada di novel atau film fiksi ilmiah, kini sudah mewabah sampai kalangan masyarakat bawah. Informasi yang dulu harus tersimpan dalam tulisan di atas kertas kini mudah tersebar lewat jaringan informasi.

Secara lahiriah, manusia menemukan kenyamanan, kemudahan, dan kebaikan dari zaman yang terus maju. Namun hakikatnya tidak demikian. Satu hari dilalui, satu hari pula jatah kelangsungan dunia ini berkurang. Satu hari dilalui, semakin dekatlah akhir dunia. Satu zaman berlalu, zaman berikutnya adalah lebih buruk dari yang lalu.

Coba perhatikan kondisi akhir-akhir ini, jelas terlihat adanya gejala demoralisasi di masyarakat. Kejahatan dan kekerasan hampir menjadi konsumsi kita setiap hari di surat kabar dan televisi. Perzinahan, aborsi dan kasus kecanduan narkoba menduduki peringkat tertinggi yang terjadi pada generasi muda. Selain itu arus informasi yang masuk hampir tanpa batas, seperti gaya hidup orang barat, telah diadopsi tanpa filter (saringan) dan dijadikan sebagai suatu kebiasaan dan kebanggaan.

Fenomena ini, hendaknya dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita. Apakah selama ini kita menjaga diri, keluarga dan masyarakat di sekitar kita agar tidak terkena dampak demoralisasi. Ataukah selama ini kita lupa dan melalaikannya. Padahal Allah dengan jelas memberikan perintah kepada kita dalam firmanNya, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (At-Tahrim: 6).

Kemajuan kolektif juga tak hanya bersifat fisik dan material, melainkan tumbuh suburnya nilai dan pranata keimanan, serta semakin menipisnya nilai dan pranata keburukan dan kemungkaran. Kemajuan budaya bagi suatu bangsa berarti bangsa ini menyadari kembali jati dirinya yang telah lama tererosi.

Misi utama diutus Rasulullah Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya (Q.S. Ibrahim/14 : 1) “Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan”. Menurut Quraish Shihab, “mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya”, artinya mengeluarkan manusia seluruhnya dari aneka gelap gulita, apapun bentuk dan jenisnya, termasuk akhlak yang tercela manusia.

Seorang dapat dikatakan berakhlak apabila ia mendasarkan perilakunya pada ajaran agama Islam, yang bersumber pada wahyu. Ia menunjukkan kesadaran terhadap keberadaan Tuhan di setiap saat, menyadari bahwa Tuhan mengetahui segala perbuatannya. Sehingga segala aktivitas hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah. Jadi, keimanan dalam Islam pada dasarnya merupakan kesadaran untuk menjadi pribadi yang baik. Maka, di sinilah letak hubungan antara akhlak dan iman.

Hubungan akhlak dengan ibadah dapat dilihat dalam pengajaran prinsip-prinsip Islam beserta pengamalannya. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah rukun Islam yang lima, dengan melaksanakan rukun tersebut, otomatis dapat mengembangkan akhlaknya. Dengan berpegang pada syahadah, seorang Muslim akan komit untuk taat kepada Allah. Implikasinya, ia akan menunjukkan integritas, kejujuran, amanah dan sebagainya. Begitu pula salat, seorang Muslim akan terhindar dari perbuatan keji, sederhana, ramah dan sebagainya. Implikasinya akan terlihat dalam hubungan seseorang dengan kedua orang tua, keluarga, tetangga, semua orang termasuk dengan binatang dan alam. Dengan menjalankan rukun Islam ketiga yaitu zakat, seorang Muslim akan dapat menanamkan benih-benih kebajikan, simpati dan kedermawanan untuk mengokohkan hubungan persahabatan berdasarkan cinta kasih. Selain itu, dalam puasa dan haji, dapat mendidik orang untuk bersabar, menahan diri dan disiplin diri.

Ibadah dalam praktiknya telah memiliki ketentuan yang jelas cara melakukannya, terutama yang berhubungan dengan syarat rukun. Sehingga dapat dijadikan ukuran pada praktik ibadah yang baik dan benar. Namun, tidak demikian pada akhlak. Akhlak yang notabene merupakan sifat dari jiwa yang menimbulkan perbuatan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan, belum dapat diketahui dengan pasti tentang hukum perbuatannya, sebelum diadakan penelitian terhadap suatu perbuatan. Di samping itu, praktik “perbuatan” akhlak, sangat mungkin terjadi perbedaan antara satu orang dengan orang lain. Misalnya, perbedaan dalam mengukur nilai perbuatan yang baik dan buruk, dapat menyebabkan perbedaan dalam merespons keadaan yang dihadapi. Perbedaan dalam mengukur perbuatan akhlak muncul, sebab adanya perbedaan pandangan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga akan terjadi perbedaan antara satu sama lain.

Bahasan tentang akhlak mulia lebih banyak berdasarkan kajian-kajian normatif-deduktif. Menurut para ulama atau pakar, dan masih jarang adanya kajian yang berdasarkan pengalaman empirik dalam masyarakat dengan pendekatan induktif. Kajian berdasarkan pendekatan empirik-induktif tersebut, diharapkan akan dapat memudahkan sosialisasi mengenai akhlak mulia, yang notabene merupakan tujuan utama dari misi diutusnya Nabi Muhammad SAW.(****).

Comment

BERITA TERBARU