Membentengi Anak dari Tayangan tak Mendidik

No comment 119 views

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Pekerja Sosial Pertama Kabupaten Bangka Selatan

Sinetron anak dan remaja di TV banyak beradegan ciuman antar lawan jenis yang belum menjadi pasangan sah suami-istri. Begitu juga film kartun, banyak mengekspos pornografi dan pornoaksi. Contoh saja, kartun Popeye, Shincan dan belum lagi lainnya yang lebih parah. Hal ini, sangat mengkhawatirkan bagi para remaja, karena usia anak adalah usia yang rentan. Pada usia tersebut, para remaja sedang mencari jati diri, kebanyakan di antara mereka yang menajadi galau. Hal tersebut, disebabkan mereka belum begitu bisa membedakan mana yang baik dan buruk mana yang membayakan dan mana yang tidak bagi dirinya.

Peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam membentuk kepribadian anak. Pembaca yang budiman, peningkatan ketahanan sosial dan keluarga sangat penting dilakukan dan harus terintegrasi satu sama lainnya.

Di keluarga, para orang tua harus mendampingi anak dan mengedukasi anak saat sedang menonton televisi. Oleh karena itu, sangat dianjurkan tata letak televisi berada di dalam ruangan keluarga dan tidak diberikan satu televisi untuk satu anak dan disimpan di kamar anak. Hal ini membuat mereka (anak) sulit dipantau.

Masyarakat dalam hal ini, harus memperketat kontrol sosialnya kepada lingkungan sekitar. Kalau terindikasi ada anak atau usia sekolah yang menontoton atau melakukan tindakan asusila, segera dicegah dan dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Di antara peran keluarga dan masyarakat, peran negara jauh sangat besar dalam hal ini. Menurut penulis, yang bisa dan efektif menghentikan tayangan yang tidak bermutu, tidak mendidik, merusak akidah dan berbau porno ini, hanyalah negara melaui lembaga pengawas yang selalu memantau semua produk pemikiran dan tayangan di tengah masyarakat.

Negara seharusnya memiliki otoritas untuk mengajukan ke pengadilan, pembinaan, pengarahan, penyetopan hingga pelarangan media atau stasiun televisi untuk berdiri bila pihak pemilik media masih menayangkan tayangan yang merusak anak. Selain itu juga, di negara yang mayoritas muslim ini, negara harus merancang kebijakan untuk mewujudkan tiga hal, yaitu pertama, membangun masyarakat Islam yang kuat dan kokoh, kedua melenyapkan unsur-unsur yang bisa menghancurkan sendi-sendi masyarakat Islam serta ketiga, menonjolkan kebaikan dan keluhuran Islam.

Dengan demikian, diharapkan program tayangan televisi yang dapat merusak akhlak dan kepribadian anak harus dilarang seperti infotainmen ghibah, pemujaan terhadap materi, kehidupan seks dan hedonis, serta tayangan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Bagi yang masih melanggar, negara memberikan sanksi yang tegas dan berefek jera kepada pihak penayang tayangan tersebut, dan yang paling penting negara tidak menunggu adanya protes dari masyarakat lagi. Dengan kebijakan seperti di atas, siaran televisi akan menjadi modal sosial dan kekuatan yang luar biasa untuk mendidik masyarakat khususnya anak. Wallohu’alam.

 

 

 

 

 

No Response

Leave a reply "Membentengi Anak dari Tayangan tak Mendidik"