Membenahi Perhotelan Meningkatkan Pariwisata

  • Whatsapp

Oleh: Berlian Sitorus
Statistisi Madya BPS Babel

Berlian Sitorus

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis perkembangan pariwisata Desember 2016. Tercatat 30.083 tamu hotel bintang di Bangka Belitung yang menginap pada penghujung tahun 2016. Namun, hanya 3.383 tamu yang menginap di Bangka. Masih minimkah pembangunan pariwisata Bangka sehingga tertinggal jauh dibanding daerah lain?
Pembangunan pariwisata tentu terkait erat dengan bisnis perhotelan. Orang-orang luar yang tertarik dengan objek-objek wisata yang ada tentu akan mempertimbangkan tempat menginap sebelum memutuskan kunjungannya ke suatu tempat. Secara psikologis orang menginginkan tempat yang paling nyaman dan memuaskan. Maka, mereka akan menggali informasi kepada orang-orang yang pernah menginap di hotel yang akan dipilih.
Sayangnya, penulis mendapatkan informasi yang kurang baik tentang perhotelan di Bangka. Seorang sahabat Penulis pernah menyampaikan pengalaman buruknya saat menginap di salah satu hotel bintang di Sungailiat pada awal tahun ini. Dia kesal dengan kondisi kamar dan juga tidak nyaman dengan pelayanan karyawan hotel. Kemudian dia mengeluarkan pernyataan “tak akan ada orang menginap di hotel itu kalau menggunakan uang pribadi”. Artinya, hotel itu hanya mengandalkan tamu korporasi.
Pengalaman-pengalaman buruk seperti ini, tentu akan tersiar dengan cepat. Apalagi kemajuan teknologi informasi memungkinkan orang terhubung “kapan saja, di mana saja”. Lihatlah catatan tingkat penghunian kamar hotel di Bangka yang terpuruk cukup dalam. Pada Desember 2016, tingkat penghunian kamar hotel bintang di Bangka turun 12,15 poin menjadi 22,53 persen. Artinya, dari empat kamar tersedia hanya satu yang dihuni. (Kabarnya, lebih dari empat ratus kamar tersedia).
Sebenarnya, nyaris semua tamu yang pernah berkunjung ke Bangka (Parai atau Tanjung Pesona) terpesona dengan keasrian pantai berbatu. Mereka memuji keindahannya melebihi pantai di Bali. Sayang, ongkos yang harus dikeluarkan untuk mencapai tempat wisata di sini “lumayan besar”. Sampai sekarang belum ada transportasi umum dari Bandara atau dari Pusat kota menuju hotel Parai atau Tanjung Pesona.
Masalah transportasi itu mungkin masih tertutupi seandainya pelayanan dan kenyamanan di hotel bisa memuaskan mereka. Sayangnya, hal itu tak mereka dapatkan sehingga rasa kecewa muncul. Kemudian, opini-opini terbentuk “penginapan di Bangka tak nyaman”. Sebagian memilih berkunjung saja ke pantainya, namun menginap di Pangkalpinang atau di Bangka Tengah. Berdasarkan rilis BPS, jumlah tamu yang menginap di Pangkalpinang 5.907 orang dan di Bangka Tengah 8.803 orang.
Kita harus mengakui bahwa banyak wisatawan lebih memilih berkunjung ke Belitung. Tercatat 11.990 tamu hotel bintang menginap selama Desember 2016. Banyaknya tamu ini menggerek tingkat penghunian kamar di Belitung hingga 63,36 persen. Nah, kondisi yang kontras ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang dalam membangun pariwisata di Bangka.
Namun tantangannya adalah ketika opini publik sudah terbentuk bahwa Belitung lebih nyaman. Maka, perlu daya dan upaya yang lebih besar untuk mengangkat pariwisata Bangka. Infrastruktur hotel, jalan, dan alat transportasi wajib dibenahi, setidaknya disetarakan dengan Belitung. Suprastruktur, cara masyarakat menerima kehadiran turis, pun tak boleh dilupakan.
Peluangnya adalah bagaimana menarik wisatawan yang sudah terlanjur berkunjung ke Belitung mau singgah ke Bangka. Dari sisi transportasi, Tanjungpandan-Pangkalpinang sudah terhubung lewat angkutan laut maupun udara. Paket wisata Belitung-Bangka berpeluang untuk ditingkatkan. Namun sekali lagi, bisnis perhotelan di Bangka perlu dibenahi. (****).

Related posts