Membangun Semangat Literasi Siswa Melalui Pembiasaan Menulis Cerita

  • Whatsapp
Suryan
Guru SDN 14 Parittiga & Ketua Kahmi Bangka Barat, Babel

Pemaknaan literasi masih dipahami oleh banyak kalangan hanya tertuju pada kegiatan membaca dan menulis saja. Padahal, jika merujuk kepada pengertian umum, literasi dapat diartikan seperangkat kemampuan dan keterampilan dalam membaca, menulis, berbiacara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.

Di sekolah sendiri, khususnya di daerah yang masuk kategori pelosok, menjadi sesuatu yang kurang dipahami secara keseluruhan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahun dan pemahaman yang dimiliki oleh sumber daya manusia (SDM) yang ada. SDM yang dimiliki oleh wilayah perkotaan dengan pedesaan tentu ada perbedaan, meskipun ada juga di beberapa tempat yang tidak demikian adanya.

Bangka Belitung, gencarnya semangat berliterasi baru dimulai kurang lebih empat tahun yang lalu, meskipun sebelumnya juga telah ada. Ini juga mulai terlihat geliatnya sejak hadirnya Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung. Untuk Bangka Barat sendiri, geliat semangat ini baru dimulai pada tahun 2017, tepatnya pada bulan September, yang bertepatan dengan kedatangan duta baca Indonesia, Najwa Sihab. Hal ini ditandai dengan launcing ‘gerakan literasi 15 menit sebelum jam 7’ (lihat Suryan, 2017). Yakni sebuah gerakan literasi yang disemarakan untuk di lingkungan Bangka Barat, khususnya di sekolah-sekolah.

Gerakan ini, berfokus pada aktivitas membaca buku selama 15 menit sebelum pukul 7.00 Wib. Artinya, sebelum jam pelajaran di kelas dimulai. Kegiatan ini hingga saat ini belum berjalan secara menyeluruh, hanya dilakukan oleh sekolah-sekolah di wilayah perkotaan dan beberapa sekolah lainnya yang peduli dengan kegiatan litersi tersebut.

Baca Lainnya

Berangkat dari hal di atas, penulis tertarik dan telah mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung ke arah kegiatan untuk membangun budaya literasi siswa. Kegiatan tersebut adalah melakukan pembiasaan kepada siswa untuk menulis cerita. Menulis cerita berarti sebuah kegiatan menulis tentang sesuatu atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh penulis sendiri atau orang lain, baik berupa nyata atau semi nyata. Menulis cerita yang dimaksud di sini adalah menulis cerita siswa masing-masing tentang aktivitas sehari-sehari di lingkungan tempat tinggal. Dengan dilakukan pembiasaan menulis cerita ini, setidaknya secara tidak lansung siswa diarahkan untuk berfikir lebih luas.

Selain itu, penulis juga memberikan semangat literasi siswa dengan memperkenalkan karya sastra. Sejatinya, setiap manusia itu telah ada jiwa sastranya. Hanya saja, jiwa sastranya bukan sebagai sastrawan. Contoh kecil, ketika orang membuat sebuat bait-bait ‘kata’, baik tentang cinta, hidup, ataupun lainnya, itu juga sudah menjadi sebuah karya sastra. Lihat saja karya sastrawan angkatan 1970-an, Sutardji Cazoum Bachri yang berjudul “pot”. Karya ini hanya terdiri dari beberapa baris saja, yang terdiri dari 24 pengulangan kata “pot” dari 40 bait kata (lihat Pratiwi, 2014: 26). Sungguh sesuatu yang luar biasa bagi mereka yang mengerti sastra.

  

Pembiasaan Menulis Cerita Bagi Siswa

Pembiasaan menulis cerita yang ditawarkan oleh penulis dalam hal ini adalah sebuah kegiatan menulis yang berisi tentang cerita yang dilakukan oleh siswa atau sesuatu yang terjadi (kejadian sehari-hari) di lingkungan tempat tinggal siswa tersebut. Kemudian sebuah kejadian atau aktivitas yang dilakukan oleh siswa tersebut dituangkan dalam sebuah tulisan dengan gaya bahasa menurut yang mereka pahami.

Tulisan yang mereka buat, tentu memiliki perbedaan masing-masing. Ada yang gaya dan karakter tulisan lebih terarah dan ber alur. Ada juga yang memiliki pengulangan kata hampir disetiap awal paragraf, dan lain sebagainya. Sesuatu yang menarik, setidaknya dengan dilakukan pembiasaan ini mereka mampu menuangkan reka ulang sebuah peristiwa ke dalam sebuah tulisan dengan karakter dan kemampuan yang seadanya tetapi dapat diambil maksud dan tujuan dari tulisan cerita tersebut.

Ide dan gagasan ini terinspirasi dari penelusuran penulis  terhadap beberapa penerbit dan pertemanan laman facebook dengan beberapa penerbit yang penulis ikuti. Salah satu laman yang yang sering penulis lihat adalah laman penerbit “Kun Fayakun” (tidak bermaksud promosi). Mengapa penerbit ini yang menjadi inspirasi penulis dalam hal ini, dikarenakan dalam penerbit Kun Fayakun banyak menerbitkan karya-karya siswa (dengan guru pendampingnya) dan juga karya-karya guru itu sendiri, dapat dilihat di laman facebook Penerbit Kun Fayakun.

Karya-karya yang dihasilkan oleh siswa tersebut dikumpulkan menjadi satu, kemudian dikirimkan ke penerbit tersebut, dan selanjutkan dibukukan. Setelah menjadi ‘buku’, rasa bangka pasti muncul dalam hati para siswa sebagai penulis tersebut. Dari inilah mulai muncul semangat untuk membudayakan literasi tersebut. Jika hal demikian telah ada dalam jiwa siswa, tentu sinergitas antara guru dan pustakawan akan muncul dengan sendirinya. Pada akhirnya, sedikit demi sedikit tingkat kunjungan ke perpustakan mulai meningkat. Yang sebelumnya hanya pada sekedar kunjungan, nanti menjadi kunjungan yang menjadi gerbang sebuah calon penulis-penulis dan sastrawan.

Dalam tulisan ini, penulis menyelipkan sastra. Mengapa sastra? Seperti kata Okky Madasari (lihat Suryan; 2017), seorang novelis kelahiran Magetan, untuk meningkatkan literacy rate, ekosistem literasi harus dibenahi. Pemerintah seharusnya menyediakan bacaan-bacaan berkualitas yang mampu memberikan asupan nutrisi otak. Bukan sekadar bacaan pengantar tidur.

Hal itu juga diperkuat dengan pendapat Harun Harahap moderator Goodreads Indonesia, bahwa sebenarnya orang Indonesia itu bukan tidak suka dengan kegiatan literasi, tetapi karena kurangnya akses. Di kota besar yang fasilitasnya lengkap, perkembangan dunia literasi mereka bagus. Artinya, yang perlu dipenuhi adalah akses yang mendukung kegiatan literasi tersebut. Salah satu hal harus dilakukan, yakni dengan memasukkan ke dalam kurikulum kewajiban membaca karya sastra pada tiap jenjang pendidikan. Tujuannya dengan mewajibkan pelajar membaca buku-buku sastra adalah untuk memberikan pengaruh bagi mereka tentang sebuah peradaban dan kesusastraan dunia.

Setidaknya ada 4 manfaat dari membaca buku karya sastra, sebagaimana dikutip dari bukukamus.com, yang memberikan pengetahuan dan memberikan stimulus bagi kita terhadap makna kehidupan lebih terbuka dan lebih cair. Pertama, menjadikan kita lebih peka. Dalam karya sastra semua pasti mengandung nasehat, ujaran tentang kehidupan, dan kepekaan terhadap orang-orang di sekitar. Karya-karya sastra yang melegenda, tetap dibaca, karena di dalamnya banyak petikan-petikan filosofis hidup yang masih relevan dengan masyarakat modern, manfaat baca sebuah karya hebat memang mempunyai kesan tersendiri.

Kedua, menjadikan kita lebih beradab dan berkualitas. Seseorang itu dilihat dari kegemarannya membaca buku. Kalau kita gemar membaca karya-karya sastra dunia, yang klasik maupun yang kontemporer, berarti kita telah satu langkah menjadi manusia yang berkualitas dan beradab di lingkungan sendiri atau di tempat kerja. Jadi, mulai sekarang, perbanyaklah membaca karya sastra Indonesia maupun dunia. Ketiga, dapat memperbanyak kosakata-kosakata romantis. Karya sastra identik dengan bahasa yang prosais sekaligus indah. Ini akan menjadi kesempatan untuk memperbanyak kosakata-kosakata yang berbau puitis. Agar bahasa kita nantinya menjadi lebih tertib dan indah.

Keempat, dapat mengenal banyak macam karakter manusia. Di dalam sebuah karya sastra, seperti novel-novel besar yang dikarang penulis dunia. Kita bisa lebih mempelajari karakter dan jiwa manusia dibelahan dunia. Yang sebelumnya kita tidak mengetahui sama sekali. Kita juga bisa berimajinasi tentang sebuah kota dunia, yang menjadi latar belakang sebuah novel yang ditulis. Karakter tokoh fiktif dalam sebuah novel, biasanya mencerminkan sebuah identitas mereka tinggal. Dan ini bagus, untuk menambah pengetahuan kita dalam mengenal banyak macam karakter manusia. Begitu berlimpahnya manfaat baca sebuah karya sastra, bagi perkembangan jiwa kita.(***).

 

Related posts