Membangun Masyarakat Tanpa Riba

No comment 458 views


Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Mahbub Zarkasyi

Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk disampaikan kepada seluruh manusia yang artinya, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (TQS. Al-Baqarah [2]: 275).
Syariat Islam mengartikan riba dengan setiap bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli. Banyak kaum muslim yang mengembangkan hartanya dengan sistem ribawi. Setiap pinjam-meminjam yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kekasih Allah baginda Shalallaahu alaihi wasalam kemudian dipertegas dengan ijma’ shahabat dan kaum muslimin atas keharaman Ribawi.

Ribawi Propaganda Yahudi
Perilaku dan tabi’at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka dengan ribawi menjadi salah satu alasan mereka di laknat Allah. Kemudian mereka dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui lembaga-lembaga ribawi yang diresmikan negara yang tersebar ke seluruh pelosok negeri kaum muslim.
Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta’ala menegaskan: “Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih”. (TQS. An-Nisa’: 161). Allah Subhannahu wa Ta’ala mengutuk mereka sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).
Sistem ekonomi yang dianut di Indonesia adalah sistem ekonomi Kapitalisme-Liberalisme membuat rakyat Indonesia banyak bermuamalah terlibat ribawi. Lembaga-lembaga resmi banyak dibangun baik oleh pemerintah dan swasta seperti perbankan dan lembaga finance lainnya tersangkut ribawi. Para pegawai, karyawan maupun rakyat pada umumnya akhirnya untuk mudah mendapatkan rumah, kendaraan dan perlengkapan rumah lainnnya banyak yang terjebak ribawi. Allah Subhanahu Wata’ala sebagaimana firman-Nya di atas mengancam orang yang memakan riba dengan ancaman masuk neraka dan kekal di dalamnya. Namun, dengan sistem ekonomi ribawi yang diemban negara membuat rakyat tiada takutnya dengan ancaman tersebut.
Praktek riba yang semakin marak semakin hari dengan berbagai bentuknya tidak lepas dari propaganda orang-orang kafir sebagai kaki tangan Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin. Musuh-musuh Allah tersebut berusaha memperindah setiap pelanggaran syariat Allah. Umat Islam terus digoda sehingga lebih senang bertransaksi ribawi dengan menggandakan uangnya melalui akad-aqad ribawi melalui bank-bank dan transaksi ribawi lainnya. Para Pengusaha muslim pun terlibat dalam sistem simpan pinjam dengan bunga dan menganggap satu keharusan dalam mendapatkan harta dan mengumpulkan harta mereka. Kaum muslim tidak lagi peduli mana harta yang halal dan mana yang haram. Mereka menghilangkan istilah Riba dengan bunga dan denda atau keuntungan. Mereka menganggap transaksi ribawi sama dengan jual beli.

Ancaman Pelaku Ribawi
Selain ancaman melalui firman Allah, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah menceritakan kejadian saat diperjalankan Mi’raj. Allah Subhanahu WaTa’ala memperlihatkan berbagai kejadian kepada kekasih-Nya adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Allah Subhanahu Wata’ala menempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun, mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan onta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada Malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang di injak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).
Harta yang diperoleh dari jalan haram pasti akan menyusahkan dan memberatkan pelaku ribawi. Digambarkan nanti di akhirat orang-orang yang mendapatkan harta dari jalan riba dan haram lainnya, setiap kali mereka akan bangkit berdiri mereka jatuh kembali. Walaupun mereka berusaha sekeras mungkin berjalan bergegas-gegas bersama kumpulan manusia lainnya, namun mereka tidak sanggup melakukannya akibat dosa yang mereka pikul.
Imam ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan ayat di atas menyatakan, “Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40). Imam Qatadah juga berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba.” (Lihat Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi, hal. 53).
Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawanya pergi sampai menjumpai sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai tersebut ada seseorang yang di tangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada orang yang berada di dalam sungai tadi. Apabila orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka dikatakan kepada beliau: “Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah orang yang memakan harta riba.” (Fathul Bari, 3/321-322).
Sungguh mengerikan ancaman siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba dan terlibat dalam transaksi ribawi, bahkan dalam riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallaahu anhu mengatakan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda: “Mereka itu sama”. (HR. Muslim, no. 1598). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan isnadnya jayyid, bahwasannya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Lihat Majma’Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, 4/131).

Musibah akibat Ribawi
Kita pun banyak menyaksikan disekitar kita, akibat dari memperoleh harta melalui jalan ribawi yang mencekik, orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita dan hancurnya karir dan rumah tangga. Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan berbagai musibah dan bencana sebagai peringatan kepada manusia, namun tetap saja mata dan hati manusia tak terketuk. Malapetaka yang diturunkan Allah kepada suatu kaum tak mampu menghentikan kemaksiatan dan kedurhakaan mereka yang merejalela.
Selain musibah berupa bencana alam hingga menghilangkan nyawa, dan dari bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semakin jauh. Perutnya manusia yang dikenyangkan dari harta yang haram membuat hati dan pikiran mereka dangkal. Mereka seolah lupa, makanan yang dimakannya menjadi haram dan menggunakan harta kekayaan dari jalan haram. Mungkin inilah yang menyebabkan do’a yang dipanjatkan kaum muslimin untuk kebaikan negeri ini tak dikabulkan. Orang yang faham mendiamkan, orang yang tak tau terus terbenam dalam kemaksiatan dan orang yang sadar jumlahnya sedikit, tak mampu membendung dahsyatnya propaganda kufur terhadap kaum muslim.

Khatimah
Untuk menangkal serangan terhadap propaganda musuh-musuh Allah, kaum muslim harus dekat dengan majelis ilmu, sehingga kita paham akan hukum muamalah-muamalah yang kita lakoni. Ada baiknya kita membangun komunitas Masyarakat Tanpa Riba untuk memperkuat kita dan saling mengingatkan satu sama lain dalam menghindari transaksi ribawi. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita kepada jalanNya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafush-shalih.(****).
Wallahu a’lam. []MZiS

Print Friendly
No Response

Leave a reply "Membangun Masyarakat Tanpa Riba"