Membangun Budaya Literasi di Tengah Covid-19

  • Whatsapp
Delviero Naufal
Ketua Kajian Hukum PERMAHI BABEL/Mahasiswa Fakultas Hukum UBB

Di tengah wabah Covid-19 yang menyerang Indonesia, banyak aktivitas masyarakat yang terpaksa harus dilakukan dari rumah mulai dari bekerja, belajar, rapat dan menunda liburan keluar daerah serta hal lainnya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu di rumah di tengah penanggulangan Covid-19 salah satunya adalah Literasi/membaca.

Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya dan pengalaman. Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi lebih dari sekadar kemampuan membaca dan menulis, namun lebih dari itu. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan kemampuan yang dimiliki dalam hidupnya. Kemampuan membaca kata dan membaca dunia adalah seni literasi.

Tetapi sayangnya kita terjebak pada cara berpikir yang pendek, literasi dipahami sebagai kemampuan membaca teks dan menghitung numerik. Ini terlalu minimalis sehingga nantinya bisa menjebak kita pada kepentingan skill literasi, padahal skill literasi adalah buah dari kesadaran yang substansial.

Ada suatu fakta yang sangat memprihatinkan bagi kita tentang Indonesia. Berdasarkan studi Most Littered Nation In The Word yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai minat membaca. Padahal dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Hal ini menunjukka bahwa minat untuk membaca di indonesia masih kurang.

Baca Lainnya

Literasi dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Penguasaan literasi merupakan indikator penting untuk meningkatkan prestasi generasi muda dalam mencapai kesuksesan. Penanaman literasi sedini mungkin harus disadari karena menjadi modal utama dalam mewujudkan bangsa yang cerdas dan berbudaya. Permasalahan yang dihadapi Indonesia yakni rendahnya penguasaan literasi yang dibuktikan melalui survei Programme for International Student Assessment (PISA).

Survei menunjukkan Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara dalam penguasaan literasi. Padahal, budaya literasi bermanfaat dalam mewujudkan peran generasi muda dalam aspek pembangunan negara. Generasi muda memiliki kepribadian unggul dan mampu memahami pengetahuan serta teknologi untuk bersaing secara lokal dan global. Selain itu, generasi muda menjadi faktor penting, karena memiliki semangat juang yang tinggi, solusi yang kreatif, dan perwujudan yang inovatif. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi aktualisasi generasi unggul. Untuk bisa bersaing dengan negara lain, generasi muda harus mempunyai  kemampuan yang dibutuhkan dunia dengan meningkatkan kualitas SDM. Kualitas SDM berarti kemauan dan kemampuan individu dalam menyerap ilmu, yang kemudian dikembangkan dan diimplementasikan. Oleh karena itu, salah satu langkah sederhana namun penting adalah menanamkan pentingnya literasi bagi generasi muda.

Kampus sebagai jenjang tertinggi dalam dunia pendidikan sudah memberikan ruang bagi para mahasiswa untuk bisa menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang merupakan salah satu tujuan pencapain yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi tersebut. Karena setiap perguruan tinggi haruslah melahirkan orang – orang yang memiliki semangat juang yang tinggi yang selimuti pemikiran – pemikiran yang kritis, kreatif, mandiri, inovatif.

Mahasiswa dengan sederet title dan peran-nya, dianggap sebagai figur penting yang bisa memberikan kontribusi nya-ta terhadap kehidupan sosial. Kekuatannya sebagai seorang elite intelektual, dituntut memberikan pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang bisa di ekseskusi secara real dalam kehidupan nyata. Ide-ide yang cemerlang sering menjadi ciri khas, sehingga tak salah apabila bangsa ini menyimpan harapan besar dipundak para mahasiswa sebagai generasi penerus yang bisa meneruskan estafet kepemimpinan bangsa.

Di era media sekarang budaya literasi membaca, menulis dan berbicara adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan mahasiswa hal ini, merupakan ciri khas mahasiswa sebagai elit intelektual. Meskipun di tengah pandemi seperti sekarang budaya loterasi harus tetap dijalankan oleh mahasiswa dalam mendukung program belajar di rumah dan tidak tertumpu pada sumber internet dalam mencari jawaban tugas yang diberikan dosen. Seiring perkembangan zaman kini budaya literasi bisa dilakukan secara online seperti berbagai ruang untuk membaca dan menulis sudah dijawab oleh zaman dengan sederet media sosial yang ada seperti facebook, twitter, instagram serta media online yang memberikan ruang bebas untuk kita budayakan budaya literasi.

Membaca juga sangat efektif untuk me-recall memori. Beberapa ahli mengatakan, membaca menjauhkan kita dari kerusakan pada sistem syaraf yang salah satu dampaknya adalah penurunan daya ingat. Menumbuhkan kesadaran membaca dapat dimulai dari keluarga.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca bagi mahasiswa, salah satunya adalah sebelum perkuliahan dimulai, dosen mengajak mahasiswa membaca senyap. Mahasiswa membaca buku atau bahan bacaan yang disediakan selama 15 menit. Pada kegiatan membaca senyap tersebut, mahasiswa diperbolehkan membaca buku dari gawai pintar yang mereka miliki. Mereka bisa mengunduh buku-buku bacaan tersebut dari elektronik file yang diberikan melalui aplikasi WhatsApp.

Yang terpenting kegiatan ini bisa membuat mahasiswa terbiasa dan senang membaca. Mereka akan menjadi guru yang mengajak siswanya untuk senang membaca, sehingga mahasiswa perlu ditumbuhkan kesenangan membaca buku. Selain itu, pihak fakultas juga bisa menyediakan ruangan khusus yang menyimpan buku-buku menarik untuk di baca mahasiswa.

Selanjutnya, adalah media pembelajaran melalui metode inkuiri, yaitu Inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menyelidiki secara sitematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuannya. model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang menuntut mahasiswa untuk terlibat secara langsung dengan prinsip dan konsep dengan cara dosen mendorong mahasiswanya supaya mendapatkan pengalaman dan dapat melakukan percobaan sendiri. Ini merupakan model pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa yang mendorong siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan yang belum diketahuinya. Hal tersebut bisa di aplikasikan dalam proses belajar mengajar.

Kemampuan literasi merupakan salah satu penunjang bagi kemajuan bangsa. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kemampuan literasi masyarakatnya. Mahasiswa sebagai agen perubahan merupakan tonggak utama generasi bangsa. Maka mahasiswa harus memiliki kemampuan literasi yang baik. Untuk meningkatkan kemampuan literasi mahasiswa salah satu caranya adalah dengan menggunakan model inkuiri dalam setiap pembelajaran. Karena dengan menggunakan model inkuiri mahasiswa dituntut untuk selalu mencari data dengan cara membaca dan menulis serta mencari informasi dengan menggunakan media internet.

Di era revolusi industri 4.0 sudah seharusnya mahasiswa memperhatikan ini, dengan memperbanyak literasi, maka akan menambah wawasan kita, sehigga akan membuat kita tahu tentang banyak hal. Sudah saatnya di tengah Covi-19 inilah kita bisa meluangkan waktu untuk membaca dan memperkuat literasi kita, sehingga kegiatan di rumah tidak sia-sia. Kegiatan literasi di tengah pandemi Covid-19 menjadi sangat penting untuk menunjang keseimbangan proses belajar online di rumah di tengah Revolusi industri 4.0 yang terus meningkat walaupun pandemi Covid-19 sedang mengguncang dunia. Oleh karena itulah mahasiswa sebagai generasi muda Bangsa Indonesia harus mampu bersaing dengan cerdas di dalam Revolusi Industri 4.0. (***).

Related posts