by

Memanfaatkan Potensi Laut Melalui Mariculture

-Opini-73 views

Oleh: Syahrezy Fajar
Mahasiswa STISIPOL Pahlawan 12 Sungailiat-Bangka

Indonesia merupakan negara yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya. Potensi sumber daya alam yang meliputi bidang agraris dan maritim menjadikan negara ini didambakan oleh setiap bangsa di dunia. Jika kita memfokuskan pandangan ke perairan laut, maka kita akan semakin terbelalak terbuai pesona laut beserta isinya. Indonesia yang memiliki garis pantai sepanjang 81 ribu kilometer telah mengukuhkan diri sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Perairan yang luas juga menyediakan berbagai variasi populasi ikan. Potensi maksimum perikanan laut Indonesia diperkirakan mencapai 7,7 metrik ton. Kekayaan sumber daya laut yang melimpah merupakan suatu berkah yang patut disyukuri oleh bangsa dan negara Indonesia.
Namun, selama ini, potensi laut tersebut nyatanya belum dapat dimanfaatkan dengan baik, sehingga belum cukup mampu mendongkrak kesejahteraan bangsa. Bahkan, sebagian besar hasil laut Indonesia justru dicuri oleh para nelayan asing yang masuk ke wilayah Indonesia secara illegal. Belum lagi permasalahan illegal fishing yang menyebabkan terancamnya populasi organisme laut. Oleh sebab itu, dibutuhkan upaya yang benar-benar dapat menyentuh akar permasalahan ini, dan menjadi solusi konkret penyelesaiannya. Dan salah satu alternatif yang kiranya dapat menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan ini adalah dengan memanfaatkan konsep Mariculture.

Apa Itu Mariculture ?
Mariculture adalah kegiatan budidaya organisme laut yang biasa dilakukan di perairan laut lepas. Kegiatan budidaya meliputi kegiatan pembenihan dan pengembangbiakan yang dilakukan secara berkelanjutan. Adapun komoditas budidaya laut pada umumnya yaitu kakap, kerapu, tiram, mutiara, teripang hingga rumput laut (Wahyu Widia, 2018). Sedangkan lahan yang bisa digunakan untuk budidaya laut dan pantai yaitu (a) pantai, (b) pasang surut (intertidal), (c) sublitoral, (d) kolom permukaan air, (e) mid-water, (f) dasar perairan (Sukadi, 2002). Kurangnya pengetahuan yang disebabkan minimnya informasi tentang mariculture kepada masyarakat pesisir khususnya yang berprofesi sebagai nelayan diyakini menjadi faktor utama pemanfaatan perikanan laut kurang optimal. Mariculture menawarkan konsep yang ramah lingkungan sehingga dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Potensi Mariculture di Babel
Perikanan budidaya laut (mariculture) di Indonesia sangat potensial jika mampu dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Indonesia memiliki potensi lahan mariculture yang mencapai 12 juta hektar (ha). Sementara itu, luas pemanfaatan lahannya hanya mencapai 325 ribu ha atau baru sekitar 2,69% dari total potensi yang ada (detik.com, 2017). Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan satu dari sekian banyak daerah di Indonesia yang sebenarnya memiliki prospek yang cerah dalam pengelolaan hasil laut.
Produksi hasil tangkapan ikan oleh nelayan di Babel sebenarnya sangat menjanjikan. Hal ini terlihat dari data yang dikeluarkan Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PPIP) Sungailiat yang menyatakan bahwa hingga November 2018, volume produksi ikan daerah setempat mencapai 4.515.307 kilogram. Jumlah tersebut telah melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 2018, yakni sebanyak 4.245.000 kilogram. Nilai ekspor komoditi perikanan di Babel pada tahun 2018 juga meningkat 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ekspor perikanan hingga November 2018 mencapai Rp 237.064.484.904 melebihi capaian tahun 2017 yang hanya Rp157.671.462.865. Ini menunjukkan bahwa potensi laut Babel menyimpan prospek yang sangat cerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir yang umumnya berprofesi sebagai nelayan.
Pada tahun 2017, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah menyediakan lahan seluas 700 ha untuk budidaya ikan laut sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional. Akan tetapi, harus diakui bahwa minat nelayan di Bangka Belitung untuk membudidayakan ikan dan hasil laut lainnya juga masih sangat kurang. Nelayan di pesisir masih cenderung menggunakan pola tradisional dengan hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan di laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini mungkin saja dipengaruhi oleh minimnya informasi dari pemerintah tentang mariculture. Pekerjaan nelayan pada dasarnya sangat bergantung pada kondisi laut. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan maraknya illegal fishing mengakibatkan ketidakstabilan pendapatan dan terancamnya habitat ekosistem laut.
Pengembangan mariculture dengan memberdayakan nelayan harus didukung dan melibatkan semua pihak yang berkepentingan, seperti pemerintah, swasta, akademisi, kampus dan komunitas-komunitas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap budidaya laut. Pihak terkait dapat melakukan sosialisasi dan pelatihan tentang mariculture secara masif dan intens terhadap nelayan. Tak bisa dipungkiri bahwa selama ini, sosialisasi yang dilakukan pemerintah masih belum benar-benar menyasar seluruh masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Penyebaran informasi hanya sampai pada segelintir orang, sehingga sebagian yang lain bahkan tidak pernah terpapar informasi penting seperti ini. Disinilah diperlukannya sinergitas dan komitmen antar pihak berkepentingan.
Kampus, misalnya, dapat melakukan sosialisasi tentang mariculture sebagai bentuk penerapan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat. Di dalam proses inilah pemerintah khususnya harus mampu “merayu” minat nelayan, sehingga mereka akan lebih tertarik menggunakan konsep ramah lingkungan dan berkelanjutan yang ditawarkan mariculture. Dengan konsep mariculture ini diyakini dapat meningkatkan produksi ikan. sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan devisa negara dan mendongkrak kesejahteraan para nelayan. Oleh karena itu, upaya pemanfaatan laut dengan konsep mariculture secara maksimal harus dilakukan.(***).

Comment

BERITA TERBARU