Memaksimalkan Peran Dinas Sosial Terhadap Orang Tua

Oleh: Istiya Marwinda,S.IP
Fasilitator Dewasa Forum Anak Basel/Anggota Kosada BABEL

Istiya Marwinda,S.IP

Fenomena negatif yang ditimbulkan oleh pubertas remaja semakin hari, semakin meningkat saja. Jumlah kasus tentang hamil diluar nikah semakin banyak. Sudah pasti kasus perzinahan tidak bisa dielakan lagi seberapa banyaknya. Kesalahan pubertas yang menimpa kalangan remaja ini, bisa jadi meresahkan dan menjadi kekhawatiran keluarga terhadap anaknya. Tidak serta merta ini merupakan ketakutan negara akan muslihat anak bangsa sebagai emas suatu negara. Generasi emas yang dicanangkan rusak begitu saja karena efek pergaulan bebas.
Baru-baru ini, sedang viral kasus tentang remaja hamil di toilet sekolah. Marak sekali akibat pergaulan bebas terjadi tidak hanya di kota-kota besar, bahkan memasuki bulan November 2017 ini, sedang heboh viralnya seorang anak remaja SMA melahirkan di kamar mandi sekolah di Bangka Barat beredar di sosial media. Disinilah cikal bakal anak bangsa yang harus dilindungi oleh kita semua. Tingkat pernikahan usia dini menjadi meningkat. Padahal, menikah di usia dini akan meninggalkan moment keremajaannya, dimana masa pubertas masa paling menarik dinikmati bersama teman-teman sebaya. Seharusnya dipergunakan sebaik mungkin, sehingga menjadi remaja yang produktif berprestasi dan mempunyai jiwa semangat. Karena, ketika sudah berkeluarga muda, maka akan ada batasan-batasan memunculkan potensi diri, sebab sudah memiliki tanggung jawab yang lebih dari para remaja lainnya.
Menjadi kewajiban negara untuk melindungi hak anak tersebut, kewajiban negara dalam pemenuhan hak pendidikan serta mendapat perlindungan. Kewajiban negara ini memberikan regulasi terhadap HAM, sehingga terjamin hak setiap anak untuk mendapatkan perlindungan. Walau anak tersebut sudah melakukan hal negatif. Karena dengan kesalahan seorang remaja bukan berarti kehidupan anak remaja wajib di lindungi. Justru harus ada ”win win solution” untuk menanggulanginya.
Urusan anak bukan sekedar mendapatkan pendidikan di sekolah saja, melainkan harus ditunjang dengan pendidikan moral pada keluarga. Anak harus diberi sentuhan hangat keluarga, diberikan perhatian, diberi bimbingan. Karena tidak semua hal diajarkan di sekolah. Perspektif orang tua juga harus andil dalam mengatasi pertumbuhan anak. Agar anak bisa mengkonsumsi hal-hal positif yang dapat menguatkan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan serta akhlak mulia sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara. Sedangkan pendidikan memang diharapkan untuk mampu membentuk anak yang beretika berakhak mulia, bertanggung jawab dan disiplin.
Pergaulan bebas selalu menjadi problematika anak yang tidak urung berhenti menimpa anak. Anak remaja masa kini terlalu sibuk mengikuti arus Globalisasi tanpa dipilah. Perlu pengawasan serta bimbingan banyak pihak untuk dapat menanggulangi permasalah remaja ini. Terkhusus tentang hamil di luar nikah. Kasus ini meraja lela pada kalangan anak SMP-SMA yang dalam hal ini masuk ke dalam permasalahan anak. Karena dilihat dari umur masih berada di bawah 16 tahun. Sangat miris di usia yang belia ini, tidak dibekali ilmu pengetahuan kesehatan terhadap anak mengenai reproduksi.
Pendidikan bukan sekedar memberikan ilmu pengetahun alam ataupun sosial. Mereka harus juga mendapat pendidikan mengenai kesehatan reproduksi remaja. Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (PKPR) ini merupakan pelayanan langsung terhadap kesehatan reproduksi remaja. Untuk memperkuat program tersebut dibuat jejaring sekolah melalui program Peer Educator (pendidik sebaya) yang diambil dari kader siswa terlatih. Berkaitan dengan hal ini, setiap Dinas Pemerintah terkait harus saling bersinergi untuk bisa memenuhi peranannya. Dimana Dinas Kesehatan juga harus terlibat terhadap dunia pendidikan anak, dengan memberikan pengkaderan kepada remaja untuk dapat dijadikan duta siswa yang akan dijadikan perpanjangan mulut kepada teman sebayanya mengenai kesehatan reproduksi remaja.
Selanjutnya, untuk bisa mengintegritaskan perlindungan anak, harus juga memaksimalkan peran Dinas Sosial dalam melakukan penyuluhan terhadap orang tua. Penyuluhan yang efektif kepada Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) mengenai perlindungan terhadap anak. Keluarga sasaran penyuluhan terbaik, karena berkenaan langsung dengan anak. Orang tua sangat berperan penting dalam hal mengeluarkan anak dari masalah remaja. Kepekaan orang tua terhadap perkembangan anak sangat diperlukan. Keluarga harus menjadi figur yang benar-benar baik di mata anak, mampu memberikan pengertian dan pemahaman tentang agama untuk meningkatkan keimanan serta ketaqwaan. Sehingga meminimalkan tingkat permasalahan remaja.
Untuk dapat menanggulangi lebih lanjut dampak negatif pubertas remaja, mari sukseskan program pemerintah dengan memperbanyak ekstrakulikuler (ekskul), dengan harapan para siswa-siswi tidak terpengaruh hal-hal negatif dunia luar yang membahayakan. Dengan mengaktifkan anak pada kegiatan TPA ataupun madrasah untuk lebih memperdalam agama, kegiataan keagamaan lainnya.
Jadi, yang dibutuhkan oleh anak adalah perlindungan terhadap tumbuh kembangnya. Lebih dari itu anak yang terkena masalahpun butuh perlindungan. Mereka masih memiliki kesempatan panjang, sama dengan anak yang lainnya. Perlu perhatian lebih dari keluarga agar anak merasa tidak dikucilkan. Bagaimanapun permasahan yang menimpa merupakan suatu hal atau bahan evaluasi bagi orang tua dan negara.(****).

No Response

Leave a reply "Memaksimalkan Peran Dinas Sosial Terhadap Orang Tua"