by

Memaknai Kehidupan Berpolitik dari Tusuk Gigi dan Sikat Gigi

-Opini-224 views

Oleh: Pung Purwadi
Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung
Anggota Komunitas Aksara Muda Bangka

Pung Purwadi

Pernahkah kita merasa risih ketika tidak menemukan tusuk gigi setelah menyantap sebuah hidangan? Apalagi hidangan yang disantap berbahan daging. Benda famous dikalangan masyarakat ini, kita sepakati menjadi elemen pendukung setelah selesai makan. Tapi, sadarkah kita tusuk gigi memberikan nilai kehidupan politik yang bermakna. Dalam dunia politik peran terkecil sekalipun seperti tusuk gigi akan memberikan pengaruh bagi keberlangsungan suatu sistem. Seandainya tidak ada peran elemen terkecil dalam dunia politik seperti Bawaslu yang jujur, mencari tahu bayground calon pemimpin, kesadaran warga negara menjadi bagian negara dan lain sebagainya, maka keterlaksanaan politik yang dicita-citakan pasti akan terhambat atau tidak optimal.

Dari tusuk gigi kita belajar pula bahwa ketajaman suatu unsur sekalipun yang mempunyai nilai kebermanfaatan hanya akan digunakan satu kali saja, maka jadikan diri kita sebagai komponen yang tak terlalu tajam. Lakukan kritikan secara lembut sehingga kritikan yang kita sampaikan akan didengarkan dalam jangka waktu yang lama.

Selain dari tusuk gigi benda yang serupa fungsinya, namun tak sama yakni sikat gigi. Sikat gigi adalah benda yang sering digunakan dalam bidang kebersihan personal seseorang. Sikat gigi kita tahu bahwa dengan segala keragaman bentuk, merk, dan ukuran, serta rekomendasi berbagai ahli memiliki nilai keunikan yaitu tetap disebut sebagai sikat gigi. Tidak ada pembeda di antara mereka (sikat gigi). Tidak pernah kita menyepakati sikat gigi mengataskan dengan nama merk seperti Pipsidin. Sekalipun dijajarkan semua merk, kita pasti sepakat semua itu disebut sikat gigi. Alasannya adalah sikat gigi sendiri diproduksi demi kemaslahatan umum. Begitu pula seharusnya kita menyikapi kehidupan politik dan berbangsa jangan sampai kita mengkotak-kotakkan suku, ras, agama ataupun setatus sosial lainnya dalam bernegara. Sebab, tujuan dalam bernegara sama yakni demi kemajukan bangsa indonesia. Berbagai keaneka ragaman budaya dan kepercayaan terletak pada bangsa kita, maka hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Mari kita yakini dan tegaskan dalam hati kita untuk menjadikan mental dan pendirian tanpa keraguan bahwa kita berbangsa satu yakni bangsa indonesia.

Ideologi Pancasila yang telah lama dibentuk oleh pendahulu, menjadi suatu ciri khas bangsa kita yang tidak ditemukan di negara manapun. Pancasila telah menjadikan keragaman itu terus terjaga. Hal itu sama dengan bulu sikat pada sikat gigi kita belajar bahwa sikat gigi tidak akan berfungsi dan berkerja secara optimal bila bulu sikatnya hanya satu. Dikarenakan dengan banyaknya komponen pada bulu sikat yang bersinergi barulah sikat gigi dapat menyelesaikan tugasnya sebagai sebuah sikat gigi berdasarkan fungsi dan kemampuannya. Permasalahan yang dihadapi bangsa kita seutuhnya akan diselesaikan apabila keragaman dan persatuan semua komponen warga negara yang sinergi dan saling percaya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, mari kita belajar dari tusuk gigi dan sikat gigi yang secara tidak sadar telah memberikan nilai-nilai kehidupan dalam berbangsa. Kenapa demikian? Dikarenakan Manusia sendiri adalah makhluk berpolitik. Dimana manusia memerlukan interaksi dan ketergantungan dengan manusia lainnya. Jika manusia yang cakap dan pandai berkata dapat belajar melalui penyesuaian diri dengan lingkungannya, pasti manusia akan memetik hikmah dari filosofi tusuk gigi dan sikat gigi yang mengajarkan banyak nilai kehidupan. Jadikan diri kita sebagai good man of citizen memiliki sensitifitas terhadap lingkungan untuk memetik nilai-nilai kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.(****).

BERITA TERBARU