Memahami Hakekat Kematian

  • Whatsapp

Oleh: Abu Hamzah

Innalillahi wa innailaihi roji’uun, telah berpulang ke rahmatullah Fulan bin Fulan, umur 35 tahun, tadi malam, karena kecelakaan, jenazah akan disholatkan ba’da zhuhur dan akan dimakamkan di TPU… Terdengar pengumuman berita kematian dari pengeras suara menara masjid, padahal bulan Ramadhan sudah memasuki minggu pertama. Kemudian, esoknya ada lagi pengumuman, meninggal karena sakit, dan lantaran sedang menenggak minuman keras. Ada juga yang meninggal ketika sedang berdakwah. Hampir setiap hari kita mendengar pengumuman seperti ini yang keluar dari menara-menara masjid memberitahukan wafatnya seseorang. Kita mendengarnya dengan seksama bahkan berharap yang disebutkan bukanlah nama dari keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat yang kita cintai.
Dan hari ini, kebanyakan orang-orang menyangka bahwa kematian itu terjadi karena sebab-sebab tertentu yang dapat menimbulkan kematian. Misalnya karena terserang penyakit berbahaya, kecelakaan lalu lintas, tenggelam karena banjir, tertembak, tertusuk pisau, dll. Namun demikian, kenyataannya menunjukkan bahwa tidak setiap orang yang menderita penyakit berbahaya, atau mengalami kecelakaan lalu-lintas, tertimpa gedung runtuh lantas langsung meninggal dunia. Kalau memang sebab kematian karena hal tersebut, tentunya setiap orang yang mengalami hal itu pasti mati. Tetapi ada kejadian dimana tidak semua orang mengalami hal tersebut. Contohnya ada seseorang yang kena kanker stadium lanjut, dan dokter memvonis usianya tinggal satu bulan, namun akhirnya ia sehat wal ‘afiat. Sementara orang yang sebelumnya sehat, tiba-tiba meninggal. Maka dari fakta diatas, dapat disimpulkan penyebab kematian bukanlah karena kejadian-kejadian tersebut, melainkan karena satu sebab yaitu datangnya ajal.
Allah SWT telah mengabarkan kepada kita bahwa hanya ada satu sebab kematian, yakni datangnya ajal yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya,” (TQS Ali Imran: 145).
“Maka jika telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat memajukannya,” (TQS. al-A’raf:34).
Bila ajal seseorang datang, maka saat itulah dia mati, tidak peduli siap atau tidak. Tidak peduli pula dia sakit atau sehat, tidak peduli tua, muda atau anak-anak. Tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya maupun memajukannya. Keyakinan akan kematian seperti ini, merupakan salah satu landasan kekuatan umat Islam. Yaitu landasan keimanan. Sungguh ajal itu akan menghampiri setiap yang bernyawa, walaupun dia berusaha untuk sembunyi, Allah SWT berfirman:
“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,kendatipun kamu di dalam benteng yang lagi kokoh,” (TQS An-Nisa :78).
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu,” (TQS Al-Jumu’ah: 8.)
Oleh karena itu, dengan keyakinan ini kita tidak perlu takut untuk menyuarakan dan membela kebenaran walaupun banyak yang menentang dan mengancamnya, bahkan nyawa taruhannya. Maka ada orang-orang yang mereka justru berharap kematian mendatanginya saat dia melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Ketika perang Uhud, sahabat Nabi, Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata:
Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab membaca ayat:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (TQS. Ali Imran: 144).
Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambil membaca ayat yang sama:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).
Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.
Setelah perang usai, Rasulullah Saw memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah Saw mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (TQS. Al-Ahzab: 23).
Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah SWT. Dan tempat terbaik bagi para syuhada adalah Surga. Inilah janji yang dipenuhi Mush’ab bin Umair kepada Allah SWT.
Khalid bin al Walid r.a, sahabat yang telah menghadapi lebih dari 50 pertempuran besar, pernah hanya dengan 3 ribu pasukan menghadapi 200 ribu pasukan musuh dalam perang Mu’tah, pernah juga hanya dengan 40 ribu pasukan menghadapi 240 ribu pasukan musuh dalam perang Yarmuk, beliau ternyata meninggal di pembaringan, menjelang kematiannya beliau berkata:

“Aku menghadapi banyak pertempuran besar, tidak ada satu jengkalpun di tubuhku melainkan ada (bekas) pukulan pedang, atau lemparan anak panah, dan inilah aku, mati di tempat tidur seperti keledai mati. Maka janganlah tidur mata para pengecut (untuk memperhatikan hal ini baik-baik)” (Siyaru A’lâmin Nubala’, 1/382, Maktabah Syâmilah)
Namun tidak jarang seseorang menganggap bahwa ada selain Allah SWT yang bisa memperlambat kematian, menganggap bahwa usaha dan harta yang dimilikinya itulah yang menjamin kehidupannya. Allah SWT menyinggung mereka dengan menyatakan:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya , dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,” (TQS. Al Humazah: 1 – 3)
Ketika harta sudah dianggap mampu menjamin berlangsungnya kehidupan, ketika dalam dada sudah menancap ketakutan akan kematian, maka tidak mengherankan jika akhirnya perjuangan ditinggalkan karena dianggap menghambat penghasilan. Kebenaran diabaikan karena dianggap bisa mengancam keselamatan, penerapan syari’ah dan penegakan khilafah tidak diprioritaskan karena dianggap mendatangkan ancaman dan kecaman. Akibatnya penjajahpun bebas melenggang menguras kekayaan, mendangkalkan akidah dan keyakinan, merusak tatanan pergaulan, menginjak-injak syari’ah Islam, dan semua itu bisa terjadi tanpa perlawanan yang berarti dari umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk besar.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari hati musuh kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud dari Tsauban dengan Sanad Shahih)
Sungguh, kalau direnungkan dengan sungguh-sungguh, keyakinan akan datangnya kematian hanya dari Allah SWT, dan akan mampu mengerem seseorang dari tindak maksiat, sekaligus mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat ta’at. Menjadikannya berani menghadapi rintangan apapun sekaligus takut melanggar ketentuan syari’at Allah SWT. Tidak mengherankan jika dalam Tafsir Rûhul Bayân (3/330), disebutkan bahwa ‘Umar r.a menulis di cincinnya:
”Cukuplah kematian itu menjadi penasihat wahai ‘Umar.”
Imam Al Ghozali pernah bertanya kepada Murid-muridnya, Apa yang paling dekat dengan kita? Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “MATI”. Sebab itu sudah janji Allah SWT; “bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati”. (Ali Imran 185)
Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang dapat memanfaatkan sisa hidup kita, umur kita, masa muda kita, sehat kita dengan sebaik-baiknya, sebelum semuanya lenyap dan berakhir. Semoga Ramadhan yang penuh kemuliaan ini, Allah meneguhkan langkah kita menapaki jalan kebenaran seterjal apapun jalan itu, dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang mampu memudharatkan kita kecuali atas izin Allah ’azza wa jalla. (**)

Related posts