Memahami Emosional Remaja

  • Whatsapp

Oleh: Ahmad Yudiar

Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia/Guru Bimbingan dan Konseling di SMAN 1 Puding Besar

 Setiap rentang kehidupan individu, akan melalui tahapan perkembangan mulai dari masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, dan masa tua. Masing-masing tahapan perkembangan memiliki ciri atau karakteristik tersendiri. Salah satu tahapan yang akan dijalani individu yaitu masa remaja. Pada masa remaja, individu sering mengalami permasalahan, karena masa remaja adalah masa peralihan yang ditempuh seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

Baca Lainnya

Kebingungan yang dialami remaja sebagai akibat dari masa peralihan dapat menimbulkan perilaku negatif seperti sikap pesimis, rasa cemas yang berlebihan, dan penilaian negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Perilaku saling ejek (bullying), menghina dan menghakimi yang kerap terjadi di “media sosial” ditengarai disebabkan oleh ketidakmampuan remaja dalam mengontrol emosinya. Berbagai perilaku negatif tersebut dapat berdampak kurang baik bagi perkembangan diri individu tersebut dan juga dalam interaksi atau berhubungan dengan orang lain. Perilaku-perilaku negatif remaja yang terjadi sering kali disebabkan karena emosi remaja yang sedang memuncak.

Masa remaja merupakan masa yang penuh perubahan, tidak hanya menyangkut aspek fisik melainkan juga aspek psikososial dan juga emosi. Remaja akan mengalami kegoncangan emosi yang kuat disebabkan oleh tekanan dan ketegangan dalam mencapai kematangannya. Yusuf (2009) mengungkapkan bahwa ”masa remaja merupakan puncak emosionalitas. Pada usia remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif (kritis) yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial; emosinya sering bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung/marah, atau mudah sedih/murung).”

Golemen (2005) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan. Goleman menegaskan bahwa orang tua yang cenderung lebih efektif dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak, yaitu orang tua yang memberikan kehangatan kepada anak, menjalin komunikasi yang baik dengan anak, menyempatkan waktu yang cukup banyak untuk bersama anak setiap hari, dan tidak memutuskan komunikasi dengan anak.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi berkembangnya kecerdasan emosional, salah satunya adalah faktor nurture, yang diperoleh dari lingkungan, terutama orang tua. Hasil penelitian Puspita (2011) menunjukkan pola asuh memiliki hubungan yang signifikan dengan kecerdasan emosional. Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak adalah gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua. Oleh karenanya, selama masa prasekolah hubungan anak dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial anak. Kalimat di atas menunjukkan peran orang tua merupakan dasar yang paling pokok dalam perkembangan kecerdasan emosional anak.

Keluarga merupakan sumber pendidikan yang pertama dan utama bagi anak, karena segala pengetahuan dan kemampuan intelektual anak diperoleh dari orang tua dan anggota keluarga sendiri. Goleman (2000) mengemukakan ”keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk mempelajari emosi.” Keluarga merupakan lingkungan primer bagi anak dan menjadi tempat hubungan antar manusia yang paling awal dan paling intensif”. Anak akan mengenal norma-norma dan nilai-nilai dalam keluarga sebelum mengenal lingkungan lain yang lebih luas. Ketika keluarga mendapat tekanan ekonomi, yang menyebabkan kedua orang tua harus menjalani jam-jam kerja yang panjang, meninggalkan anak di rumah dengan mainan “Games Online” atau di “ASUH” oleh televisi, ketika lebih banyak bayi ditinggalkan di tempat penitipan anak yang sangat buruk pengelolaannya, akan sama saja dengan menyia-nyiakan anak.

Tekanan atau permasalahan yang dialami keluarga menyebabkan kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak. Dengan tidak adanya komunikasi antara orang tua dengan anak dikhawatirkan anak kurang dapat mengembangkan idenya, bersikap murung, dan tidak dapat mengendalikan emosinya. Keluarga yang tidak lagi berfungsi dengan baik untuk meletakkan landasan yang kuat bagi kehidupan menimbulkan kurangnya kemampuan dalam kecerdasan emosional anak. Dengan demikian, sangat penting bagi orang tua melakukan pencegahan dan perbaikan yang terarah dengan baik agar dapat menjaga anak untuk tetap berada pada jalur yang baik. Pentingnya kecerdasan emosional dalam membantu kesuksesan kehidupan yang akan datang dan juga untuk membantu mengurangi kenakalan remaja adalah dengan meningkatkan kecerdasan emosional remaja, sebagaimana yang diungkapkan Stein & Book (Susilawati, 2008) bahwa untuk mencegah munculnya perilaku buruk pada remaja bisa dengan meningkatkan kecerdasan emosional remaja tersebut. Keberhasilan proses penyesuaian individu dalam interaksi di masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah keterampilan pengelolaan emosinya.

Ulasan di atas memberikan penegasan bahwa kecerdasan intelektual bukan satu-satunya hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam berinteraksi dan membina hubungan dengan orang lain. Sebagaimana yang diungkapkan Goleman (2000) bahwa IQ menyumbang kira-kira 20 persen bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka 80 persennya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. Salah satu kekuatan-kekuatan lain itu merupakan  kecerdasan emosional. Beranjak dari pentingnya pencapaian kecerdasan emosional remaja seperti yang telah dikemukakan di atas, sudah seharusnya dilakukan tindakan baik berupa preventif maupun kuratif untuk menindaklanjutinya. Jika tidak ada upaya untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi perkembanganya. Dengan kecerdasan emosional, seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati, sehingga dapat memahami perasaannya dan dapat membina hubungan baik dengan orang lain. (***)

Related posts