Meluruskan Makna Politik

No comment 152 views

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Pembaca yang budiman, sebagia masyarakat hari ini cenderung memaknai politik dengan paradigma negatif. Sebagian memandang bahwa politik itu kotor, penuh intrik/kebohongan dan lain sebagainya. Berbicara tentang politik, semua aspek kehidupan kita tidak luput dari aktivitas politik. Kita mengenal ada yang dinamakan politik ekonomi, politik pemerintahan, politik pendidikan, politik kesehatan, politik sosial budaya, politik hukum dan lain sebagainya.

Penulis tertarik untuk meluruskan makna politik hari ini yang cenderung dinilai banyak kalangan sebagai sesuatu hal yang kotor, keji, kejam, identik dengan korupsi, dll. Melihat realitas politik saat ini, merupakan hal yang “wajar” bila kebanyakan masyarakat menilai politik seperti hal di atas. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal tersebut terjadi, tidak lain karena politik yang dilihat oleh masyarakat, baik di televisi, media cetak dan radio adalah politik yang kotor, keji, kejam dan identik dengan korupsi.

Mari kita lihat, hampir disemua media beberapa bulan terakhir hingga kini tidak pernah absen memberitakan kasus korupsi yang menjerat sejumlah pejabat publik alias pejabat negara yang notabene sebagian besar berasal dari kader parpol. Masyarakat dapat melihat dengan mata telanjang, realitas politik hari ini yang mengajarkan tidak ada teman dan lawan abadi dalam kontestasi politik. Hari ini musuh besok jadi teman, sebaliknya hari ini teman besok jadi lawan politik.

Trend politik di atas menyebabkan sebagian masyarakat, termasuk di kalangan pelajar dan mahasiswa alergi berbicara politik. Mereka sudah muak dengan realitas politik yang mereka lihat sehingga mereka benci dan tidak tertarik membahas politik. Indikatornya, yakni pada pemilihan umum terakhir angka golput alias golongan putih cukup banyak. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Fakta-fakta yang penulis sebutkan di atas menyimpulkan bahwa ada kecenderungan beberapa kalangan untuk apolitis (apatis terhadap politik).

Kembali ke awal pembahasan sebelumnya, kesalahpahaman partai politik dan masyarakat dalam memahami makna politik (yang sebenarnya) sudah pasti akan melahirkan persepsi dan aktivitas politik yang cenderung kotor. Penulis mencoba masuk ke persepsi kebanyakan partai dan masyarakat saat ini, hampir rata-rata ketika penulis bertanya tentang definisi “politik” ke elemen pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, pedagang kaki lima, ibu-ibu pengajian, golongan tua dan muda sampai ke pengurus partai politik tertentu, kebanyakan mereka cenderung menjawab bahwa politik itu adalah seni untuk mendapatkan kekuasaan.

Sebagian besar partai politik dalam rangka meraih kekuasaan, cukup sering merangkul sosok yang sejak awal telah dikenal masyarakat, misalnya dari kalangan selebritis, penyanyi, pelawak dan lain sebagainya untuk mendulang perolehan suara. Di berbagai forum yang penulis pernah isi, fenomena ini sangat menarik untuk dibicarakan karena menuai pro kontra di kalangan masyarakat.

Masyarakat yang pro mengatakan, “kan semua masyarakat/rakyat Indonesia berhak memilih dan dipilih!” bagi yang kontra mengatakan, “fenomena artis yang digandeng oleh partai politik untuk dijagokan saat pemilu merupakan bentuk kegagalan partai politik dalam melakukan pengkaderan partai. Sehingga mereka (baca: parpol) menggunakan jalan pintas menggandeng dan memanfaatkan ketenaran artis untuk mendulang suara kemenagan partai pada gelaran pemilu!” Terlepas dari pro dan kontra ini penulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menilai hal di atas.

Pembaca yang budiman, penulis mersa tertarik untuk meluruskan makna politik kekinian yang dipandang kotor, keji, identik dengan korupsi dan berbagai persepsi negatif dari beberapa kalangan. Sebenarnya di dalam Islam politik itu sudah ada. Istilah politik didefinisikan sebagai ri’ayatul su’unil ummah.

Politik diartikan sebagai aktivitas mengurusi kepentingan umat alias rakyat. Oleh karena itu, sejak awal penulis menyampaikan bahwa diseluruh aspek kehidupan manusia tidak terlepas dari politik, bagaimana mengurusi ekonomi (politik ekonomi), mengurusi pemerintahan (politik pemerintahan), mengurusi pendidikan (politik pendidikan), mengurusi kesehatan (politik kesehatan), mengurusi hukum (politik hukum), mengurusi sosial budaya (politik sosial budaya) dan lain sebagainya.

Mempelajari politik merupakan sebuah keharusan. Bagaimana mungkin sebagai generasi muda menghindari bahkan ada yang benci untuk mempelajari dan membahas sesuatu yang bernama “politik”. Padahal sebagai generasi muda, kita memainkan peran sebagai iron stock alias sebagai pemimpin di masa yang akan datang.

Kembali ke awal pembahasan, partai politik seharusnya melakukan aktivitas politik yang sebenarnya, yaitu serius dalam mengakomodir dan mengurusi kepentingan rakyat bukan untuk mengejar kekuasaan. Rakyat tidak boleh diperhatikan dan dirangkul ketika menjelang pemilu saja. Rakyat hendaknya diperhatikan dan diurus sejak berdirinya sebuah partai politik.

Peran partai politk salah satunya yaitu mengedukasi masyarakat. Bayangkan, bagaimana mau mengedukasi masyarakat, kalau para politisi hari ini bermasalah dan tersandung masalah korupsi. Mengapa partai politik hari ini tidak mampu mengurusi urusan dan kepentingan rakyat secara maksimal? Berikut ini penjelasannya.

Dalam kitab Pembentukan Partai Politik karya salah seorang tokoh alumni
Al Azhar Kairo dijelaskan ada 3 syarat agar sebuah partai politik berdiri dengan kokoh menghadapi problematika umat saat ini, yaitu hendaknya sebuah partai politik memiliki fikroh, thoriqoh dan orang-orang yang bersih di partai politik tersebut. Fikroh adalah kumpulan konsep yang didalamnya berisi aturan bagaimana partai politik dalam mengurusi umat, didalamnya terdapat aturan mengenai urusan ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, hukum dan aspek kehidupan yang lain.

Sebagian partai politik hari ini belum memiliki konsep yang jelas untuk mengatur dan mengurusi urusan masyarakat. Indikatornya sederhana, maraknya pelacuran, sex bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar sampai permasalah kemiskinan, anak jalanan dan permasalahan sosial yang lain seakan menjadi persoalan yang berulang terjadi dan dianggap sebuah hal yang biasa hadir di tengah kehidupan masyarakat tanpa solusi tuntas dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Padahal di dalam Islam berbagai probelematika di atas sudah ada dan lengkap bagaimana cara mengatasinya.

Thoriqoh merupakan cara mengimplementasikan fikroh tersebut. Di dalamnya berisi tentang cara menerapkan, menjaga dan menyebarluaskan fikroh atau konsep yang dimiliki sebuah partai politik. Melihat fakta partai politik hari ini, bagaimana mungkin memiliki thoriqoh, lah wong konsep(fikroh)nya juga tak jelas. Sedangkan orang-orang yang bersih dalam konteks ini adalah orang-orang yang memiliki orientasi hanya untuk mengurusi urusan umat disamping mengurusi urusan pribadinya sendiri. Anehnya, kalau kita melihat realitas partai politik hari ini banyak anggota dan kader partai politik bermasalah masih tetap dipertahankan di tubuh partai. Mau tidak mau, konsekuensinya kinerja partai dalam mengurusu urusan rakyat tidak maksimal.

Selain itu juga, partai politik akan solid dan kompak dalam mengurusi rakyat atau melakukan aktivitas politik bila anggota dan kader partai diikat sebuah ikatan yang kuat. Ikatan tersebut harus dibangun di atas kepentingan pribadi masing-masing anggota, pengurus dan kader partai politik. Ikatan tersebut yakni ikatan sebuah mabda’.

Dengan ikatan ini, anggota, kader dan pengurus sebuah partai politik akan senantiasa diawasi dan dikondisikan untuk benar-benar mengurusi rakyat. jauh berbeda dengan saat ini, ikatan yang mengikat sebuah partai adalah ikatan semu alias ikatan yang dibangun berdasarkan kepentingan. Hal ini menyebabkan munculnya istilah politik saling sandera baik di internal tubuh partai maupun antar sesama partai politik itu sendiri.

Seandainya ketiga unsur dan ditambah satu pengikat tersebut dilaksanakan dengan baik dan benar oleh sebuah partai politik, umat akan melihat dan memilih partai politik tersebut untuk memimpin mereka. Tulisan lengkap mengenai ulasan di atas bisa penulis “pertajam” dengan membaca kitab Pembentukan Partai Politik karya salah satu tokoh alumni Al Azhar kairo.

Buku ini penulis rekomendasikan untuk menjadi rujukan gerak partai politik yang bertarung di perpolitikan di Indonesia agar politik yang selama ini kotor di benak masyarakat berangsur akan tergerus dengan hadirnya sebuah partai politik yang shohih di tengah-tengah masyarakat. Wallahu’alam. [****].

No Response

Leave a reply "Meluruskan Makna Politik"