Melindungi Anak Dari Pornografi

No comment 238 views

Oleh: Alghi Fari Smith, SST.
Pekerja Sosial Pertama Kabupaten Bangka Selatan

Alghi Fari Smith, SST

Media massa baik cetak maupun elektronik turut andil dalam membentuk kepribadian anak. Tidak banyak orang tua yang melakukan pendampingan saat sang anak menonton televisi dikarenakan sibuk bekerja di kantor maupun di rumah. Tentu hal ini akan menjadi masalah baru kelak dikemudian hari. 
Pembaca yang budiman, usia anak adalah usia emas. Artinya, pada usia itulah semua nilai (baik atau buruk) dapat dengan mudah diadopsi dan diterapkan oleh sang anak. Sesuatu yang dilihat terus menerus dan secara berulang oleh anak akan cenderung diimitasi (ditiru) oleh sang anak, sehingga menjadi karakter dirinya. Apabila mereka sering menyaksikan adegan kekerasan, anak cenderung berprilaku seperti itu juga sebagaimana tayangan yang ia lihat. Setiap hari,  pemirsa di televisi di Indonesia termasuk di dalamnya usia anak disajikan dengan tontonan sinetron. Bukannya sinetron yang membuat orang menjadi tambah lebih pintar, melainkan justru tayangan yang membuat orang menjadi tambah tidak cerdas. Bagaimana tidak, tayangan-tayangan sinetron tersebut sangat jauh dari realitas sosial, mengawang-awang tak karuan.
Memacu Pergaulan Bebas
Tayangan yang seharusnya mendidik masyarakat, termasuk anak, agar berakhlak dan berkepribadian mulia justru dirusak dengan berbagai adegan sinetron yang terkesan mengajari pergaulan bebas. Isinya, tidak jauh dari adegan percintaan, pedekate alias pacaran, selingkuh, dan tidak sedikit tayangan sinetron yang mengambil latar belakang sekolah dan anak sekolahan sebagai sentral ceritanya. 
Pengamat Sosial, Iwan Januar mengatakan, sinetron-sinetron yang bertemakan pacaran itu berbahaya bagi penonton, terutama yang ababil alias ABG labil. “Ya, mereka akan langsung copy paste apa yang muncul di televisi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal pacaran. Akhirnya ada kesan kalau remaja gak pacaran ya bukan remaja namanya,”  tegasnya.
Tayangan sinetron maupun film yang berbau porno pun bisa di akses anak di televisi. Padahal, menurut Elly Risman Musa selaku psikolog spesialis parenting, anak yang terkena paparan pornografi, perasaannya akan kacau balau, ia mudah marah. Ada hormon-hormon kenikmatan yang keluar dan berbagai hormon lainnya yang terlalu berlebihan akibat si anak harus berkonsentrasi merasakan kenikmatan yang ia rasakan. Dampak yang parahnya lagi, Ia mengatakan,  dengan sendirinya otak anak akan menciut. Kalau sudah demikian, apalagi yang bisa diharapkan anak dari masa depannya? Sifat kemanusiaannya rusak dan bisa-bisa perilakunya berubah menjadi binatang. 
Negara tidak Berdaya Di tengah serbuan tayangan sinetron televisi, sayangnya peran negara sangat minim. Pemerintah seolah berlepas tangan terhadap dampak negatif penayangan sinetron-sinetron bermuatan pornograsi tersebut bagi masyarakat. Adanya Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, telah mengubah kewenangan untuk mengontrol dan mengawasi koten siaran televisi dan radio dari pemerintah ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sementara itu, KPI sendiri  merasa kewenangannya dikebiri. KPI tidak bisa mencabut izin siaran stasiun televisi yang melanggar aturan. Soalnya, hak cabut siaran tersebut ada pada pemerintah.  Walhasil, kalau sudah lempar tanggung jawab begini siapa yang sebenarnya yang mengontrol dan mengendalikan program pertelevisian di Indonesia? Beginilah konsekuensi penerapan sistem liberal-kapitalisme, dimana peran negara/pemerintah dikurangi bahkan hilang sama sekali dalam konteks ini.

SolusiSinetron anak dan remaja di televisi banyak yang beradegan dewasa. Begitu juga film kartun, banyak mengekspos pornografi dan pornoaksi. Contoh saja, kartun Popeye, Shinchan dan belum lagi lainnya yang lebih parah. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi para remaja, karena usia anak adalah usia yang rentan. Pada usia tersebut, para remaja sedang mencari jati diri, kebanyakan di antara mereka yang menajadi galau. Hal tersebut disebabkan mereka belum begitu bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang membayakan dan mana yang tidak bagi dirinya.
Dalam konteks peran media membentuk kepribadian anak, tayangan televisi sangat berpengaruh dan berkontribusi dalam hal tersebut. Bila ada tayangan yang tidak mendidik sudah seharusnya ditutup dan dicabut hak siarnya. Di negara kita, pemerintah seharusnya tidak mesti menunggu adanya protes masyarakat. Ada atau tidaknya protes, sudah sewajarnya tayangan yang merusak akidah, berbau porno dan tidak mendidik untuk dilarang.
Tidak dipungkiri peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam membentuk kepribadian anak. Di keluarga, para orang tua harus mendampingi anak dan mengedukasi anak saat sedang menonton televisi. Oleh karena itu, sangat dianjurkan tata letak televisi berada di dalam ruangan keluarga dan tidak diberikan satu televisi untuk satu anak dan disimpan di kamar anak. Hal ini membuat mereka (anak) sulit di pantau. Ketahanan keluarga perlu ditingkatkan guna mengawasi tayangan yang dikonsumsi anak.
Masyarakat dalam hal ini harus memperketat kontrol sosialnya kepada lingkungan sekitar. Kalau terindikasi ada anak atau usia sekolah yang menonton atau melakukan tindakan asusila, segera dicegah dan dilakukan pembinaan kepadanya. Di antara peran keluarga dan masyarakat, peran negara jauh sangat besar dalam hal ini. 
Menurut penulis, yang bisa dan efektif menghentikan tayangan yang tidak bermutu, tidak mendidik, merusak akidah dan berbau porno ini, hanyalah negara melaui lembaga pengawas yang selalu memantau semua produk pemikiran dan tayangan di tengah masyarakat.
Negara seharusnya memiliki otoritas untuk memberikan pembinaan, pengarahan, penyetopan hingga pelarangan media atau stasiun televisi untuk berdiri bila pihak pemilik media masih menayangkan tayangan yang merusak anak. Selain itu juga, di negara yang mayoritas muslim ini, negara harus merancang kebijakan untuk mewujudkan tiga hal, yaitu pertama, membangun masyarakat Islam yang kuat dan kokoh, kedua melenyapkan unsur-unsur yang bisa menghancurkan sendi-sendi masyarakat Islam serta ketiga, menonjolkan kebaikan dan keluhuran Islam.
Dengan demikian, diharapkan program tayangan televisi yang dapat merusak akhlak dan kepribadian anak harus dilarang seperti infotainmen ghibah, pemujaan terhadap materi, kehidupan seks dan hedonis serta tayangan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Bagi yang masih melanggar, negara memberikan sanksi yang tegas dan berefek jera kepada pihak penayang tayangan tersebut, dan yang paling penting negara tidak menunggu adanya protes dari masyarakat lagi. Dengan kebijakan seperti di atas, siaran televisi akan menjadi modal sosial dan kekuatan yang luar biasa untuk mendidik masyarakat khususnya anak. Wallohu’alam.(****).

No Response

Leave a reply "Melindungi Anak Dari Pornografi"