Melindungi Anak dari Korban KDRT

  • Whatsapp

Opini Oleh : Handel Ambarita
Mahasiswa Fakultas Hukum /Anggota DDPM UBB

Anak adalah anugerah titipan Tuhan kepada keluarga yang dinanti – nantikan kelahirannya. Dikatakan dalam Undang – Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang kesejahteraan anak, bahwa anak adalah seseorang yang  belum beranjak 18 tahun. Tak jarang banyaknya anak yang menjadi korban dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dimana biasanya menjadi pelampiasan apabila suami dan istri bertengkar. Dampak psikologis yang sangat buruk akan dirasakan oleh seorang anak korban KDRT antara lain tidak lagi mudah bersosialisasi dengan lingkungan, merasa minder, tidak percaya diri, dan yang berbahaya sampai ingin menjauhi keluarganya.

Apabila hal di atas sudah terjadi, maka pasti hak – hak anak tidak lagi dipenuhi oleh orang tuanya. Kekerasan dalam rumah tangga bukan hal asing lagi terdengar, yakni Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Sungguh sangat bahaya bukan ? Apabila  hal ini dilakukan kepada anak yang seharusnya dilindungi, diberikan kasih sayang penuh, bukan sebaliknya menjadi korban kekerasan akibat ego tinggi orang tua.

Pemerintah tidak boleh tidur, pemerintah harus ada di tengah – tengah anak sebagai korban KDRT yang memang pada dasarnya ini dalam lingkup kekeluargaan. Namun, apa jadinya Negeri ini apabila banyak anak yang nantinya tidak baik pertumbuhan psikologisnya akibat hal – hal buruk seperti disebutkan di atas tadi. Perlunya pembinaan anak merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dengan usaha yang disengaja dan terarah agar Anak sejak lahir dapat berkembang menjadi orang dewasa yang mampu berkarya untuk mencapai dan memelihara tujuan pembangunan nasional.

Keluarga wajib mendorong seorang anak dalam pertumbuhan seperti dalam pematangan fisik, pematangan kecerdasan, pematangan perasaan, pematangan sosial dan juga pematangan susila. Sungguh tidak ironis apabila keluarga sebagai tempat berlindung malah menjadi ladang pengahancur pertumbuhan anak itu sendiri. Banyaknya kasus dan cerita yang terdengar bukan hanya anak sebagai pelampiasan, namun juga anak sebagai korban. Penulis katakan anak sebagai korban disini, maksudnya dapat Penulis contohkan pertengakaran orang tua yang mengakibatkan perceraian akan membuat seorang anak kehilangan keluarga utuhnya.

Seringkali anak menjadi korban putus sekolah, ditelantarkan, bahkan tinggal dengan sanak keluarga yang lain atau juga di Panti Asuhan. Hal ini bukan hal biasa lagi. Anugerah Tuhan ini harus menjadi Mahkota yang terus di jaga dan dilindungi dalam keluarga, bukan menjadi korban. Apabila anak sudah menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau di singkat KDRT, maka banyak dampak buruk yang akan terjadi 10 tahun ke depan, seperti bertambahnya angka anak putus sekolah.

Sangat baik apabila mereka mampu berpikir positif dan mengambil pelajaran dari hal – hal buruk yang menimpanya untuk menjadi semangat, motivasi dapat membuktikan hari besok kapada orang tuanya bahwa tanpa kasih sayang dari mereka pun bisa tetap melanjutkan kehidupan mereka, dan pendidikannya juga. Namun sangat disayangkan apabila anak yang menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini merupakan anak yang pesimis, yang manja yang tidak bisa berjalan sendiri tanpa dorongan dari orang tuanya.

Dalam hal demikian, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam melindungi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga khususnya pada Anak, sesuai dengan Undang – Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Undang – Undang ini harus ditegakkan bukan hanya dibukukan, namun tidak dijalankan. Anak merupakan generasi penerus Bangsa yang harus dijaga, dilindungi untuk nantinya dapat menggantikan orang – orang hebat di Negeri ini, bukan sebagai sasaran utama keluarga untuk menjadikannya korban KDRT.

Di akhir kalimat Penulis menegaskan bahwa anak merupakan penyejuk keluarga yang sangat dinantikan, maka tugas kita bersama melindungi mereka agar tidak menjadi korban KDRT. Dan juga peran pemerintah yang harus ditegakkan sesuai dengan apa yang telah di atur dalam Undang – Undang. (***).

 

Related posts